21 Penerima Nobel Kunjungi Tambling, Konservasi 48.153 Hektare Hutan Jadi Sorotan Dunia
AURANUSANTARA.COM — Kawasan konservasi seluas 48.153 hektare hutan dan 14.089 hektare kawasan laut itu menerima tamu kehormatan dari berbagai latar belakang keilmuan. Mereka datang untuk melihat langsung pengalaman pengelolaan konservasi yang telah berjalan selama tiga dekade di lokasi tersebut.
Ketua Komisi IV DPR RI, Siti Hediati Soeharto, yang menjadi tuan rumah kegiatan, menyebut kehadiran para pemikir dunia ini menjadi momentum strategis. Menurutnya, Tambling bukan sekadar kawasan lindung, melainkan ruang pertemuan antara kekayaan alam dan ilmu pengetahuan.
Komitmen Jangka Panjang dalam Konservasi
TWNC dikelola Artha Graha Peduli sejak 1996 dan diperkuat melalui kerja sama dengan Kementerian Kehutanan pada 2008. Ekosistem di kawasan ini mencakup hutan hujan tropis dataran rendah, hutan pantai, mangrove, danau, rawa air tawar, hingga hutan sekunder.
"Konservasi bukan sebuah proyek pendek, tetapi sebuah komitmen panjang untuk generasi ke depan," ujar Siti Hediati Soeharto dalam sambutannya.
Ia menambahkan, Tambling berpotensi berkembang menjadi pusat pembelajaran dan penelitian yang mempertemukan konservasi dengan berbagai bidang ilmu. "Tambling bisa menjadi laboratorium hidup, di mana alam bertemu dengan sains, teknologi, pendidikan dan hubungan internasional," tuturnya.
Pujian Ramos-Horta untuk Kepemimpinan Tomy Winata
Presiden Timor Leste sekaligus peraih Nobel Perdamaian, José Ramos-Horta, menyoroti aspek kepemimpinan dalam pengelolaan kawasan ini. Ia secara khusus menyebut peran Tomy Winata yang memimpin pengelolaan Tambling selama 30 tahun.
"Satu hal yang bisa dipelajari adalah kepemimpinan. Ini adalah kepemimpinan Tomy Winata. Senang sekali bahwa pemerintah dan masyarakat memberikan tanggung jawab untuk mengurus kawasan ini selama 30 tahun," kata Ramos-Horta di sela-sela perilisan tukik.
Ramos-Horta juga menekankan pentingnya keterlibatan masyarakat sekitar dalam keberhasilan konservasi. "Anda tidak bisa melakukan apa-apa tanpa berhubungan dengan rakyat yang tinggal di sini. Mereka harus merasakannya, percaya padanya, dan kemudian mereka membuat pengalaman yang hebat. Mereka bukan penonton," ucapnya.
Perlindungan Harimau Sumatra dan Ekosistem
Salah satu program unggulan di TWNC adalah Pusat Rehabilitasi Harimau Sumatra (Panthera tigris sumatrae). Satwa yang berstatus kritis (Critically Endangered) ini ditangani dan dipulihkan sebelum dikembalikan ke habitat alaminya.
Upaya perlindungan satwa ini menjadi bagian dari pendekatan konservasi menyeluruh. Hutan yang terjaga tidak hanya menjadi habitat satwa liar, tetapi juga berfungsi sebagai penyimpan karbon, pengatur tata air, dan penyangga kehidupan masyarakat sekitar.
Dalam konteks yang lebih luas, Ramos-Horta menilai pengalaman Indonesia dalam menjaga alam dapat menjadi pembelajaran global. "Indonesia sendiri adalah contoh untuk seluruh dunia," ujarnya.
Kunjungan para penerima Nobel ini menjadi kesempatan untuk melihat langsung keterkaitan antara ilmu pengetahuan, konservasi, dan pembangunan berkelanjutan. Para tokoh yang hadir membawa latar belakang beragam, mulai dari penerima Nobel hingga akademisi di berbagai bidang.