Cicilan KPR Maksimal Rp2,4 Juta dari Gaji Rp8 Juta, Rumah Rp200 Juta Masih Bisa Diincar

Rumah dengan harga Rp200 juta hingga Rp300 juta masih dapat ditemukan di Jakarta, meski berukuran kecil dan berada di gang.
Penulis: Sutomo
Sabtu, 29 Agustus 2026 | 09:02:31 WIB

AURANUSANTARA.COM — Perencana keuangan dari Mitra Rencana Edukasi (MRE), Andi Nugroho, menilai pembelian rumah dengan penghasilan Rp8 juta per bulan masih masuk akal secara finansial. Persoalannya bukan sekadar mampu atau tidak, melainkan seberapa besar pengorbanan yang bersedia diambil untuk memiliki hunian pertama.

Menurut Andi, batas aman cicilan KPR adalah 30 persen dari pendapatan bulanan. Dengan gaji Rp8 juta, angka itu berarti cicilan maksimal berada di kisaran Rp2,4 juta per bulan.

Rumah Rp200 Jutaan di Jakarta: Kecil dan di Dalam Gang

Andi memperkirakan rumah dengan harga Rp200 juta hingga Rp300 juta masih dapat ditemukan di Jakarta. Namun, calon pembeli harus siap menerima keterbatasan yang menyertainya.

"Perkiraan saya masih ada, namun kemungkinan ukurannya kecil dan lokasinya berada di pemukiman padat dan di dalam gang yang tidak mungkin dilewati mobil," kata Andi kepada CNNIndonesia.com, Kamis (27/8).

Alternatifnya, kawasan penyangga Jabodetabek menawarkan rumah dengan rentang harga serupa tetapi ukuran lebih besar dan lingkungan lebih lega. Konsekuensinya, jarak tempuh menuju tempat kerja menjadi jauh lebih panjang.

Menghitung Ulang: Sewa Dekat Kantor versus KPR Jauh

Perbandingan biaya tempat tinggal tidak bisa hanya melihat nominal sewa dan cicilan. Andi memberikan ilustrasi: menyewa rumah dekat kantor bisa menghabiskan Rp3 juta per bulan, tetapi biaya transportasi nyaris nol karena cukup berjalan kaki dengan waktu tempuh 15 menit.

Sebaliknya, rumah yang lebih jauh memiliki cicilan KPR Rp1,5 juta per bulan. Ongkos transportasi menggunakan KRL dan TransJakarta hanya sekitar Rp7.500 per hari atau Rp165 ribu per bulan, tetapi waktu perjalanan membengkak menjadi 1,5 hingga 2 jam sekali jalan.

"Meskipun sewa rumah dekat kantor per bulan lebih mahal dibandingkan dengan KPR rumah yang lokasinya jauh dari kantor, namun punya keunggulan waktu perjalanan yang jauh lebih singkat sehingga bisa lebih less-stressed," ujar Andi.

Rumah Pertama sebagai Batu Loncatan

Perencana keuangan Mike Rini Sutikno menilai persoalan utama pekerja muda bukan pada ketidakmampuan membeli, melainkan ekspektasi terhadap rumah pertama yang terlalu tinggi. Rumah impian dengan dua lantai, banyak kamar, dan berada di tengah kota jelas sulit dijangkau dengan gaji Rp8 juta.

"Kalau rumah pertama saran saya kita pandang sebagai semacam kayak batu loncatan lah. Jadi first try-nya kita gitu, kita harus melampaui fase rumah pertama ini dulu ya," kata Mike.

Ia menambahkan, rumah pertama sebaiknya dipandang sebagai strategi membangun aset jangka panjang, bukan sekadar tempat tinggal. Membeli rumah yang lebih sederhana terlebih dahulu tetap lebih baik daripada terus menunggu harga properti turun sementara pendapatan tidak bergerak naik signifikan.

Untuk menyiapkan uang muka, Andi menyarankan menyisihkan 10 hingga 20 persen dari penghasilan setiap bulan. Lama waktu menabung akan sangat bergantung pada harga rumah yang ditargetkan dan konsistensi dalam menyisihkan dana.

Reporter: Sutomo