Deadline Day Gagal Total, Everton dan Moyes Kembali Lawan Arus
AURANUSANTARA.COM — Jendela transfer musim panas yang seharusnya menjadi momentum kebangkitan Everton justru berakhir dengan mimpi buruk. The Friedkin Group (TFG), pemilik anyar yang mengklaim diri sebagai "pemenang", menunjukkan pendekatan amatir yang membuat suporter kembali mengalami rasa frustrasi yang sudah akrab selama era kepemilikan sebelumnya—termasuk masa-masa terburuk Farhad Moshiri.
Armstrong, Ndiaye, dan Runtuhnya Rencana Belanja
Kekacauan dimulai Sabtu pagi ketika Everton menerima tawaran Nottingham Forest senilai £35 juta untuk Harrison Armstrong. Keputusan ini langsung memicu tanda tanya besar: mengapa klub rela melepas talenta muda potensial di saat skuad sedang membutuhkan kedalaman?
Keputusan paling kontroversial datang dari penjualan Iliman Ndiaye ke Manchester City dengan nilai £65 juta—angka yang dinilai di bawah harga pasar untuk pemain dengan kontrak tiga tahun. Semakin rumit, Everton juga melepas Beto, satu-satunya opsi penyerang pengganti Thierno Barry, tanpa memiliki pengganti yang pasti.
Kesepakatan Balogun yang Hancur di Menit Terakhir
Upaya panik mendatangkan pengganti berakhir tragis. Manchester United menolak pinjaman Joshua Zirkzee. Tammy Abraham menolak hengkang dari Aston Villa. Folarin Balogun bahkan sempat menandatangani deal sheet sebelum pukul 23.00 waktu setempat, namun tiba-tiba mundur dari kesepakatan senilai £40 juta dengan Monaco setelah proses medis dan negosiasi ulang yang kacau.
Hasilnya, Everton hanya memiliki satu striker murni: Thierno Barry—pemain yang di musim debutnya di Premier League tampak kesulitan dan kini menjadi komoditas paling berharga yang tidak boleh hilang. Tidak ada pelapis untuk kedua bek sayap, dan secara teknis, tidak ada bek kanan natural.
"Pemimpin Senior" di Balik Strategi yang Kacau
Direktur Eksekutif Angus Kinnear dua pekan lalu merayu publik dengan gambaran cerah tentang finansial klub dan strategi transfer yang solid. Kini ia kehilangan kredibilitas di mata suporter. Klaim Kinnear bahwa TFG menganggap gagal lolos ke Eropa musim lalu sebagai "kegagalan" dan bahwa skuad saat ini lebih siap untuk bersaing, bertolak belakang dengan realita di bursa transfer.
Meski belanja £16,5 juta untuk Hayden Hackney (yang bisa naik menjadi £25 juta), Merlin Röhl, dan Brennan Johnson menunjukkan beberapa rekrutan cerdas, struktur kepemimpinan baru—terdiri dari Nick Cox sebagai direktur teknis dan Nick Hammond sebagai kepala pergerakan pemain—gagal pada momen paling krusial. Mereka dihadapkan pada kritik tajam: terlalu banyak "koki" di dapur, dan tidak ada yang bertanggung jawab saat hidangan terbakar.
Fans Kecewa, Moyes Terjepit
David Moyes yang sejak akhir musim lalu terus menyuarakan kebutuhan akan tambahan pemain berkualitas, kini harus menghadapi musim dengan skuad yang lebih tipis. Ia berhasil membawa Everton bersinar di awal musim, tetapi masalah yang muncul murni berasal dari kebijakan hierarki klub.
Setelah 31 tahun tanpa trofi dan dengan pemilik baru yang kedapatan melakukan kesalahan yang sama seperti pendahulunya, pertanyaan besar kini mengarah pada TFG: apakah mereka benar-benar serius membawa Everton maju, atau hanya pemilik lain yang pandai bicara tetapi gagal dalam eksekusi? Satu hal yang pasti, jalan Everton menuju era kejayaan di stadion baru masih panjang dan penuh rintangan.