Parenting Anak Gen Alpha: Cara Belajar Bahasa Internet Anak Tanpa Kalah Wibawa

Seorang anak memegang gawai sambil didampingi orang tuanya saat menjelajah dunia digital di rumah.
Penulis: Ragil
Kamis, 03 September 2026 | 06:08:01 WIB

AURANUSANTARA.COM — “Mah, kalau bikin story biar rame gimana ya?” Anak-anak Gen Alpha tumbuh dengan gawai di genggaman, dan pertanyaan macam itu mungkin sering mampir di telinga Anda. Sebagai orang tua, wajar jika merasa ada jarak dengan dunia digital yang mereka huni sehari-hari. Tapi kabar baiknya, Anda tidak perlu jadi pakar internet untuk tetap relevan di mata anak.

Kuncinya bukan pada siapa yang paling paham teknologi. Justru, inilah saatnya menggeser pola pikir bahwa orang tua harus selalu menjadi pihak yang paling tahu di rumah.

Saat Anak Menjadi "Guru", Orang Tua Tetap Nahkoda

Di era digital, anak seringkali lebih cepat menyerap cara kerja aplikasi, tren media sosial, bahkan komunitas online yang sedang mereka ikuti. Sadar atau tidak, posisi ini membuat mereka jagoan teknologi di rumah.

Tidak ada salahnya sesekali Anda meminta anak mengajari cara memakai fitur tertentu. Momen ini justru bisa menjadi ajang bonding yang hangat. Anak merasa dihargai, dan Anda mendapat ilmu baru.

Namun ingat, menjadi "murid" bukan berarti melepas kendali. Anda tetap berperan sebagai nahkoda yang menentukan arah. Tugas orang tua adalah memasang batasan yang sesuai usia, menjelaskan konsekuensi dari setiap tindakan online, dan memastikan anak tahu ke mana harus mencari bantuan saat menghadapi bahaya di dunia maya.

Pendampingan Aktif: Lebih dari Sekadar Mengawasi dari Jauh

Pada laman resminya, UNICEF Indonesia menekankan pentingnya peran aktif orang tua. “Dampingi anak saat mencoba aplikasi, game, dan platform daring. Bantu mereka membuat pilihan yang aman. Saat mengakses platform baru, pastikan pengaturan platform sejak awal sudah meminimalkan pengumpulan data oleh pihak ketiga,” demikian imbauan yang dikutip dari UNICEF Indonesia.

Pendampingan ini artinya meluangkan waktu untuk duduk bersama anak saat mereka menjelajah dunia digital. Bukan hanya mengawasi, tetapi juga berdiskusi tentang apa yang mereka lihat dan alami. Sebelum anak mengunduh aplikasi baru, luangkan waktu untuk mengecek pengaturan privasinya bersama-sama.

Soal Privasi, Libatkan Anak dalam Diskusi Dua Arah

Salah satu tantangan terbesar adalah menyadarkan anak bahwa jejak digital itu nyata. Di sinilah Anda perlu membangun komunikasi dua arah, bukan ceramah satu arah yang terkesan menggurui. “Libatkan anak saat mengambil keputusan terkait privasinya di dunia maya. Sampaikan hal-hal yang menjadi kekhawatiran orang tua, dan simak penjelasan anak tanpa menghakimi mereka,” lanjut panduan dari UNICEF Indonesia.

Coba mulai dengan pertanyaan sederhana, seperti “Menurut kamu, kenapa aplikasi ini minta akses kamera?” atau “Apa yang kamu lakukan jika ada orang asing yang tiba-tiba chat?” Dengan begitu, Anda sedang menumbuhkan kemampuan berpikir kritis mereka terhadap dunia digital.

Berdayakan Anak Seiring Bertambahnya Pengalaman

Seiring bertambahnya usia dan pengalaman anak di dunia maya, pengawasan orang tua sebaiknya bertransformasi menjadi pemberdayaan. “Seiring bertambah pengalaman anak di dunia maya, orang tua perlu mencari cara untuk membuat mereka lebih berdaya dengan memberikan mereka tanggung jawab yang sesuai usia sambil tetap memantau aktivitas mereka di internet,” tambah keterangan tersebut.

Artinya, beri anak kepercayaan dan tanggung jawab yang lebih besar sedikit demi sedikit. Mulai dari mengizinkan mereka belanja online dengan pendampingan hingga mengatur waktu bermain game secara mandiri. Selama Anda tetap memantau, pemberian kepercayaan ini akan mengajarkan mereka kedewasaan dalam menggunakan internet.

Menciptakan Hubungan yang Aman untuk Saling Bercerita

Pada akhirnya, mengasuh anak di era Gen Alpha bukanlah tentang siapa yang paling hebat soal teknologi. Anda tidak wajib hafal semua slang yang sedang viral, dan anak pun tidak harus menjadi sumber informasi teknologi satu-satunya bagi keluarga.

Yang lebih krusial adalah membangun hubungan yang membuat anak merasa aman untuk bercerita tentang dunianya. Jadilah orang tua yang bersedia mendengarkan, mau belajar hal baru, dan tetap tegas dalam memberikan arahan.

Dengan begitu, dunia digital yang tampak rumit ini justru bisa menjadi jembatan kedekatan Anda dengan si kecil. Anda tidak perlu menjadi pakar internet untuk menjadi orang tua yang hebat di mata anak.

Reporter: Ragil