Pertamina Bangun Biorefinery Cilacap Rp19,3 Triliun, Beroperasi 2029

Kilang Cilacap menjadi lokasi pembangunan Biorefinery Cilacap dengan nilai investasi Rp19,32 triliun.
Penulis: Yasir
Jumat, 11 September 2026 | 06:23:01 WIB

AURANUSANTARA.COMParagraf pembuka: Proyek yang menyedot investasi US$1,1 miliar (Rp19,32 triliun, kurs Rp17.560 per dolar AS) itu kini memasuki tahap Final Investment Decision (FID) sekaligus penjajakan mitra strategis. Executive General Manager PT Pertamina Patra Niaga Kilang Cilacap Hermawan Budiantoro menyatakan pihaknya tengah menentukan partner yang tepat untuk membangun kilang bersama.

"Di tahun 2026 ini sedang melakukan FID dan proses partnership untuk menentukan partner mana yang tepat untuk bekerja sama membangun kilang biorefinery," kata Hermawan di kawasan Kilang RU IV Cilacap, Jawa Tengah, Kamis (10/9).

Jejak Tahapan Proyek Sejak 2025

Perjalanan proyek ini bukan dimulai tahun ini. Sejak 2025, Pertamina telah menuntaskan tahap engineering design atau Front End Engineering Design (FEED) sebagai fondasi teknis pembangunan.

Tahap berikutnya, Engineering, Procurement and Construction (EPC), ditargetkan mulai berjalan pada 2027. Dari situ, fasilitas ditargetkan on-stream atau mulai beroperasi penuh pada 2029.

"Planning procurement and construction, kemudian harapannya nanti on-stream-nya di tahun 2029," ujar Hermawan.

Kapasitas Produksi Naik 30 Kali Lipat

Biorefinery Cilacap dirancang memproduksi sekitar 860 kiloliter (KL) Sustainable Aviation Fuel (SAF) per hari, atau setara 870 KL Hydrotreated Vegetable Oil (HVO) per hari. Fasilitas ini akan berdiri di lahan seluas 17,5 hektare di kompleks Kilang Cilacap.

Angka itu jauh melampaui kapasitas biofuel Pertamina saat ini yang hanya sekitar 27 KL per hari. Artinya, ada lonjakan kapasitas hingga lebih dari 30 kali lipat begitu kilang baru beroperasi.

Bahan Baku dari Minyak Jelantah hingga Limbah Sawit

Kilang ini tidak mengolah minyak bumi, melainkan feedstock berbasis nabati dan limbah. Bahan bakunya mencakup used cooking oil (UCO) atau minyak jelantah, crude palm oil (CPO), dan palm oil mill effluent (POME).

Kebutuhan feedstock diproyeksikan mencapai sekitar 311.000 ton per tahun. Menurut Hermawan, pemanfaatan limbah itu menjadi inti dari misi transisi energi proyek ini.

"Manfaatnya adalah untuk transisi energi melalui pemanfaatan UCO atau waste feedstock, jadi bahan yang sudah mungkin tidak dipakai lagi, kemudian kita produksi menjadi bahan yang bermanfaat dan bernilai tinggi," kata Hermawan.

SAF Disiapkan untuk Dua Bandara Internasional

Produk SAF dari Biorefinery Cilacap direncanakan memasok kebutuhan penerbangan, dengan distribusi diarahkan ke Bandara Soekarno-Hatta di Tangerang dan Bandara I Gusti Ngurah Rai di Bali.

Saat ini, RU Cilacap sudah memasok avtur untuk penerbangan domestik di sejumlah bandara di Pulau Jawa dan Bali. Untuk produk blended SAF, distribusi dari fasilitas penyimpanan akan melewati area jetty sebelum dikirim ke kedua bandara tersebut.

Langkah ini menempatkan Pertamina pada posisi pemain yang menyiapkan diri sejak awal untuk mandat pencampuran SAF di industri penerbangan nasional.

Groundbreaking Fase Kedua Sudah Dimulai

Pertamina sebelumnya telah melakukan groundbreaking proyek Biorefinery Cilacap fase kedua pada Februari 2026. Proyek ini dikembangkan sebagai dedicated green refinery yang difokuskan memproduksi bahan bakar ramah lingkungan dalam skala besar.

Fasilitas biorefinery tersebut ditargetkan mulai beroperasi pada September 2029. Pengembangannya diharapkan menaikkan kapasitas produksi bahan bakar rendah emisi sekaligus memperkuat pengembangan SAF di Indonesia.

Penutup: Dengan nilai investasi Rp19,32 triliun dan kapasitas produksi yang melompat puluhan kali, Biorefinery Cilacap menjadi taruhan Pertamina di lini energi hijau. Jika jadwal FID dan EPC berjalan sesuai rencana, kilang ini akan jadi salah satu fasilitas biofuel terbesar di Asia Tenggara pada 2029.

Reporter: Yasir