Harga Emas Filipina Naik ke PHP 8.860 per Gram, Terdorong Pelemahan Dolar AS
AURANUSANTARA.COM — FXStreet menghitung harga emas lokal dengan mengadaptasi harga internasional (USD/PHP) ke mata uang dan satuan ukuran setempat. Pembaruan dilakukan setiap hari berdasarkan kurs pasar yang diambil saat publikasi. Harga ini bersifat referensi, dan kurs di pasar lokal bisa sedikit berbeda.
Mengapa Emas Masih Jadi Pilihan di Tengah Ketidakpastian
Emas telah lama berfungsi sebagai penyimpan nilai dan alat tukar. Selain perhiasan, logam mulia ini dipandang sebagai aset safe haven, pilihan investasi saat masa sulit. Emas juga dianggap lindung nilai terhadap inflasi dan pelemahan mata uang karena tidak bergantung pada penerbit atau pemerintah tertentu.
Korelasi emas terhadap dolar AS dan obligasi pemerintah AS bersifat terbalik. Ketika dolar terdepresiasi, emas cenderung naik. Sebaliknya, dolar yang kuat menahan laju harga emas. Hubungan serupa berlaku terhadap aset berisiko: rally di pasar saham melemahkan emas, sedangkan aksi jual di pasar berisiko menguntungkan logam kuning ini.
Bank Sentral Dunia Jadi Pembeli Terbesar
Bank sentral merupakan pemegang emas terbesar. Untuk mendukung mata uang di masa sulit, mereka mendiversifikasi cadangan dan membeli emas guna memperkuat ekonomi serta mata uang yang dipersepsikan. Cadangan emas yang tinggi menjadi sumber kepercayaan terhadap solvabilitas suatu negara.
Data World Gold Council mencatat bank sentral menambah 1.136 ton emas senilai sekitar $70 miliar (sekitar Rp 1.120 triliun) ke cadangan mereka pada 2022. Ini merupakan pembelian tahunan tertinggi sejak pencatatan dimulai. Bank sentral dari negara berkembang seperti Tiongkok, India, dan Turki bergerak cepat meningkatkan cadangan emasnya.
Faktor yang Menggerakkan Harga Emas
Harga emas dapat bergerak karena berbagai faktor. Ketidakstabilan geopolitik atau ketakutan akan resesi parah cepat mendorong harga emas naik karena statusnya sebagai aset safe haven. Sebagai aset tanpa imbal hasil, emas cenderung naik saat suku bunga rendah, sementara biaya uang yang lebih tinggi biasanya membebani logam kuning tersebut.
Namun, sebagian besar pergerakan bergantung pada perilaku dolar AS karena aset ini dihargakan dalam dolar (XAU/USD). Dolar yang kuat cenderung menjaga harga emas tetap terkendali, sedangkan dolar yang lebih lemah mendorong harga emas naik.
Bagi investor Indonesia yang memantau emas sebagai instrumen diversifikasi, pergerakan harga di Filipina ini bisa menjadi cerminan tren serupa di pasar domestik. Harga emas Antam dan Pegadaian biasanya bergerak seiring harga internasional dan kurs rupiah terhadap dolar AS. Investasi mengandung risiko.