The Fed Naikkan Suku Bunga ke 3,75%-4%, Sinyal Hawkish Berlanjut 2026

Ketua The Fed Kevin Warsh menyampaikan keputusan kenaikan suku bunga acuan dalam konferensi pers FOMC.
Penulis: Saiful
Kamis, 17 September 2026 | 06:02:01 WIB

AURANUSANTARA.COM — Federal Reserve menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 3,75%-4%, kenaikan pertama sejak Juli 2023. Dalam proyeksi dot plot terbaru, 16 dari 18 pejabat The Fed melihat peluang setidaknya satu kali kenaikan lagi pada 2026, sementara 4 pejabat memproyeksikan dua kali kenaikan tambahan.

Keputusan tersebut diambil secara bulat dengan perolehan suara 12-0 dalam rapat Federal Open Market Committee (FOMC) pada Rabu (16/9/2026). Kebijakan ini mengakhiri periode penahanan suku bunga di level 3,5%-3,75% yang bertahan sejak Desember 2025.

Ketua The Fed Kevin Warsh menyatakan kenaikan suku bunga diperlukan untuk mendukung mandat ganda bank sentral AS.

"Dalam pertemuan tersebut, FOMC memutuskan untuk menaikkan kisaran target FFR menjadi 3,75%-4% untuk mendukung mandat ganda Federal Reserve," ujar Warsh pada Rabu (16/9/2026) waktu Amerika Serikat atau Kamis (17/9/2026) dini hari waktu Indonesia.

Inflasi dan Harga Energi Jadi Pemicu Utama

Tekanan inflasi yang masih berada di atas sasaran 2% menjadi alasan utama di balik sikap hawkish The Fed. Perang dengan Iran mendorong harga bahan bakar lebih tinggi, dengan minyak mentah Brent berada di sekitar US$109 per barel pada Selasa (15/9/2026).

Harga bensin rata-rata di AS mencapai US$4,36 per galon. Indeks harga konsumen (CPI) AS meningkat 0,4% secara bulanan pada Agustus 2026, sedangkan secara tahunan inflasi bertahan di level 3,4%.

The Fed menilai kenaikan suku bunga diperlukan untuk mendorong inflasi kembali ke sasaran 2% secara lebih tepat waktu. Tanpa pengetatan lanjutan, kekhawatiran inflasi yang lebih persisten dapat mengikis daya beli masyarakat AS.

Ekonomi AS Dinilai Tetap Solid

Di tengah tekanan inflasi, The Fed menilai aktivitas ekonomi AS masih berkembang secara solid. Belanja domestik dinilai tetap resilien, sementara produktivitas dan investasi modal masih kuat.

Pertumbuhan lapangan kerja juga dinilai mampu mengimbangi pertumbuhan angkatan kerja. Kondisi ini memberi ruang bagi The Fed untuk mempertahankan kebijakan ketat tanpa mengorbankan pertumbuhan ekonomi secara signifikan.

Proyeksi Kenaikan Lanjutan hingga Akhir 2026

Dalam proyeksi terbaru atau dot plot, sebanyak 16 dari 18 pejabat The Fed melihat peluang setidaknya satu kali kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin lagi pada tahun ini. Bahkan, 4 pejabat memproyeksikan dua kali kenaikan tambahan.

Proyeksi tersebut menunjukkan bahwa ruang untuk pengetatan kebijakan masih terbuka hingga akhir 2026. Pasar keuangan global diperkirakan akan mencermati setiap data inflasi dan pernyataan pejabat The Fed untuk mengukur arah kebijakan selanjutnya.

Bagi investor di pasar emerging market termasuk Indonesia, sikap hawkish The Fed berpotensi memperkuat dolar AS dan memberi tekanan pada nilai tukar rupiah. Aliran modal asing ke aset berdenominasi rupiah juga dapat terpengaruh jika imbal hasil obligasi AS terus naik.

Reporter: Saiful