IHSG Berpotensi Lanjut Koreksi Usai The Fed Naikkan Suku Bunga ke 3,75-4,00%
AURANUSANTARA.COM — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan melanjutkan koreksi pada perdagangan Kamis (17/9) menuju level support 6.290 setelah The Fed menaikkan suku bunga acuan ke 3,75%-4,00%. Kenaikan 25 basis poin tersebut merupakan yang pertama sejak Juli 2023. Analis merekomendasikan JPFA, UNVR, dan MBMA sebagai saham pilihan di tengah tekanan pasar.
Senior Teknikal Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menilai kenaikan suku bunga The Fed sebesar 25 bps sudah diperhitungkan pasar. Menurutnya, faktor penentu pergerakan IHSG bukan lagi keputusan kenaikan itu sendiri, melainkan petunjuk ke depan dari Kevin Warsh dan proyeksi suku bunga berikutnya.
"Kenaikan 25 bps tersebut sebenarnya sudah priced in, sehingga faktor penentu pada 17 September bukan lagi keputusan kenaikannya, melainkan petunjuk ke depan Kevin Warsh dan proyeksi suku bunga berikutnya," kata Nafan dalam risetnya.
Level Support dan Resistance IHSG Hari Ini
Nafan memproyeksikan IHSG bergerak konsolidasi dengan level support di 6.371 dan 6.290. Sementara itu, level resistance berada di 6.566 dan 6.636.
Analis BinaArtha Sekuritas Ivan Rosanova melihat IHSG berpotensi melanjutkan koreksi menuju support berikutnya di level 6.290. Proyeksi ini muncul setelah IHSG ditutup di bawah garis SMA-20 selama tiga hari berturut-turut hingga Rabu.
Saham Pilihan Analis: JPFA, UNVR, MBMA, dan Lainnya
Nafan merekomendasikan sejumlah saham untuk dicermati pelaku pasar:
- PT Vale Indonesia Tbk (INCO)
- PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA)
- PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA)
Ivan memiliki daftar rekomendasi yang sedikit berbeda:
- PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO)
- PT Aneka Tambang Tbk (ANTM)
- PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI)
- PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA)
- PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR)
Sentimen Domestik: Icomex dan Short Selling
Selain faktor The Fed, pelaku pasar mencermati peluncuran Icomex atau Bursa Mineral dan Komoditas Strategis. Timah menjadi komoditas strategis pertama yang diperdagangkan di bursa tersebut.
Implementasi kembali mekanisme short selling yang sudah dimulai sejak 15 September turut menjadi perhatian. Kedua faktor ini berpotensi meningkatkan aktivitas perdagangan dan likuiditas pasar.
Tekanan Aset Berisiko Masih Membayangi
Nafan menyebut pelaku pasar domestik sejatinya sudah menyiapkan diri terhadap respons IHSG sebelum keputusan FOMC. Pasar menilai The Fed masih membuka peluang kenaikan berikutnya.
Jika ekspektasi tersebut terwujud, tekanan terhadap aset berisiko termasuk saham Indonesia berpotensi berlanjut. Investor disarankan mencermati perkembangan data ekonomi AS dan pernyataan pejabat The Fed dalam beberapa pekan ke depan.