KAI Daop 6 Yogyakarta Tutup 5 Perlintasan Sebidang, 163 Titik Masih Tanpa Penjagaan

KAI Daop 6 Yogyakarta menutup lima perlintasan sebidang dan meningkatkan penjagaan di Sentolo, Kulon Progo.
Penulis: Yasir
Selasa, 29 September 2026 | 06:03:01 WIB

AURANUSANTARA.COM — KAI Daop 6 Yogyakarta menutup lima perlintasan sebidang dan meningkatkan penjagaan di satu titik Sentolo, Kulon Progo, sebagai bagian dari upaya menekan angka kecelakaan kereta. Langkah itu diambil setelah wilayah ini mencatat 56 kejadian temperan kereta dalam tiga setengah tahun terakhir. Dari 292 titik perlintasan di wilayah Daop 6, sebanyak 163 titik masih tidak dijaga.

Di Dusun Bantar Wetan, Desa Banguncipto, Kecamatan Sentolo, Kabupaten Kulon Progo, sebuah bangunan abu-abu muda bercorak krem berdiri beberapa pekan terakhir. Bangunan itu belum beroperasi, tetapi menjadi cikal bakal titik penjagaan baru di kawasan yang selama ini dikenal rawan.

Kawasan Sentolo punya tiga perlintasan sebidang. Dua di antaranya akan ditutup, menyisakan satu titik yang bakal dijaga secara resmi. Selama ini ketiganya tanpa penjagaan, dan dua titik berada persis di tikungan jalan.

Warga Keluhkan Minimnya Pengamanan

Wiyono, warga Bantar Wetan, mengaku harus ekstra hati-hati setiap melintas. Tidak ada petugas yang mengawasi, sementara jarak pandang terbatas karena tikungan.

"Kalau melintas memang harus berhati-hati karena tidak ada penjagaan, apalagi yang dekat tikungan," kata Wiyono pada Senin, 28 September 2026.

Ia juga menyoroti soal lampu peringatan yang menurutnya tidak selalu akurat. Beberapa kali lampu menunjukkan merah, tetapi bel kereta tiba-tiba berbunyi tanda ada rangkaian yang akan melintas.

"Biasanya kalau lampu hijau kan akan ada kereta (api) lewat, tapi beberapa kali lampunya merah tiba-tiba ada suara bel kereta yang mau melintas," ujarnya.

Warga lain, Tuti, menyebut pernah beberapa kali terjadi temperan atau benturan terhadap kereta api di wilayah tersebut. Meski tidak sering, ia menilai posisi perlintasan di tikungan membuat risiko kecelakaan tetap tinggi.

"Saya pribadi tidak tahu penataan perlintasan sebidang di area sini. Ya kalau sebagai warga, yang penting bisa ada akses dan bisa selamat itu yang penting," ucap Tuti.

Angka Temperan Masih Tinggi

Catatan KAI Daop 6 Yogyakarta menunjukkan kejadian temperan terhadap kereta api cukup tinggi dalam tiga tahun terakhir. Pada 2023 tercatat 18 kejadian, lalu 19 kejadian pada 2024, dan 13 kejadian sepanjang 2025. Hingga pertengahan 2026, sudah ada 6 kejadian.

Jumlah itu membuat peningkatan keselamatan di perlintasan sebidang menjadi pekerjaan rumah yang tidak bisa ditunda. Namun, opsi membangun flyover atau underpass tidak bisa dilakukan di semua titik.

"Tapi kan untuk membangun flyover atau underpass itu kan memang butuh skala prioritas," ujar Feni, pejabat KAI Daop 6 Yogyakarta.

Penutupan dan Peningkatan Penjagaan

Feni menjelaskan, Presiden telah menginstruksikan kepada Direktorat Jenderal Perkeretaapian dan KAI untuk meningkatkan keselamatan di perlintasan sebidang. Menindaklanjuti instruksi itu, Daop 6 Yogyakarta melakukan pemetaan untuk menentukan titik mana yang harus ditutup dan mana yang diprioritaskan.

Bentuk peningkatan keselamatan antara lain membangun gardu, melengkapi rambu-rambu, serta menyediakan fasilitas penjagaan lain. Daop 6 hampir setiap tahun menyusun skala prioritas serupa.

"Misalnya membangun gardu, melengkapi rambu-rambu, memperlengkapi fasilitas penjagaan yang lainnya," kata Feni.

Sejauh ini, Daop 6 Yogyakarta memutuskan menutup lima perlintasan sebidang dan melakukan satu peningkatan penjagaan, yakni di Kecamatan Sentolo. Pada tahun ini, pihaknya menargetkan penutupan 25 perlintasan, dengan 21 di antaranya sudah dieksekusi.

163 Titik Masih Tanpa Penjagaan

Secara total, Daop 6 Yogyakarta mengelola 292 titik perlintasan sebidang. Rinciannya, 97 titik dijaga KAI, 32 titik dijaga pemerintah daerah, dan 23 titik dijaga pihak eksternal.

Yang menjadi perhatian, 163 titik tidak dijaga sama sekali. Ada pula 14 titik yang masuk kategori perlintasan liar. Artinya, lebih dari separuh perlintasan di wilayah ini bergantung pada kewaspadaan pengguna jalan.

Feni berharap momentum HUT ke-81 KAI menjadi pengingat soal keselamatan sebagai tanggung jawab bersama. Menurutnya, penutupan perlintasan dan penambahan gardu bukan sekadar proyek infrastruktur, melainkan upaya menjaga nyawa warga yang melintas setiap hari.

"Kami berharap momentum HUT ke-81 ini semakin memperkuat semangat kebersamaan seluruh insan KAI untuk terus menjaga keselamatan, meningkatkan kinerja, serta menghadirkan pelayanan yang semakin baik bagi masyarakat," katanya.

Bagi warga Sentolo dan sekitarnya, yang paling dinanti bukan sekadar bangunan gardu berdiri, melainkan kepastian bahwa melintas di perlintasan itu tidak lagi menjadi taruhan nyawa.

Reporter: Yasir