Asing Keluar Rp106,9 Triliun dari Pasar Saham, Valuasi Murah Belum Cukup

Investor asing mencatat arus keluar bersih Rp106,9 triliun dari pasar saham Indonesia sepanjang Januari–September 2026.
Penulis: Fajar
Senin, 12 Oktober 2026 | 06:42:01 WIB

AURANUSANTARA.COM — Investor asing membukukan arus keluar bersih Rp106,9 triliun dari pasar saham Indonesia sepanjang sembilan bulan pertama 2026, setara sekitar 1 persen kapitalisasi pasar. Angka itu menandai tahun ketiga berturut-turut net sell asing, meski valuasi saham dalam negeri sudah tergolong murah dan sejumlah sektor menunjukkan perbaikan kinerja. Pemulihan sentimen asing dinilai masih menunggu stabilitas kebijakan, kepastian fiskal, dan kejelasan klasifikasi pasar Indonesia.

Analis Indo Premier Sekuritas Jovent Muliadi dan Shierly Elizabeth mencatat arus keluar tersebut dalam riset yang terbit 6 Oktober 2026. Pada kuartal III-2026 saja, dana asing yang keluar mencapai Rp19,1 triliun. Angka ini melengkapi tren outflow yang sudah berlangsung sejak 2024.

Valuasi Murah Tak Lagi Jadi Magnet Tunggal

Pasar saham Indonesia saat ini diperdagangkan pada level valuasi yang secara historis menarik. Namun riset Indo Premier menegaskan, valuasi murah saja tidak cukup untuk memutar balik arah dana asing. Investor global masih menimbang faktor lain sebelum menambah eksposur di Indonesia.

Tiga syarat utama yang dinanti pelaku pasar asing menurut riset tersebut:

  • Stabilitas kebijakan, terutama yang menyangkut iklim investasi dan kepastian regulasi
  • Kepastian fiskal, termasuk arah defisit anggaran dan pembiayaan negara
  • Kejelasan klasifikasi pasar Indonesia di indeks global, yang memengaruhi bobot alokasi dana pasif

Tiga Tahun Beruntun Net Sell, Sinyal Apa?

Outflow 2026 menandai tahun ketiga berturut-turut investor asing menjadi penjual bersih di pasar saham Indonesia. Pola ini berbeda dari periode 2020-2021 ketika dana asing masuk deras seiring likuiditas global yang longgar dan harga komoditas yang tinggi.

Kinerja sejumlah sektor memang mulai membaik, terutama yang terkait komoditas dan perbankan. Perbaikan fundamental itu belum cukup mengubah persepsi risiko investor global terhadap Indonesia. Aliran dana asing lebih dulu mencari pasar dengan visibilitas kebijakan yang lebih jelas.

Dampak ke Investor Domestik dan IHSG

Arus keluar asing berkelanjutan menekan likuiditas dan memperberat pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Tanpa dukungan dana asing, kenaikan indeks lebih banyak bergantung pada investor ritel dan institusi domestik, termasuk dana pensiun dan asuransi.

Bagi investor domestik, kondisi ini membuka peluang akumulasi saham berfundamental kuat di harga tertekan. Risikonya, tekanan jual asing bisa berlanjut jika tiga syarat yang dinanti belum terpenuhi. Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS juga menjadi variabel yang perlu dicermati, karena pelemahan kurs biasanya memperbesar tekanan outflow.

Yang Perlu Dipantau Selanjutnya

Pasar akan menunggu sinyal konkret dari pemerintah dan otoritas terkait arah kebijakan fiskal serta kepastian status pasar Indonesia di indeks global. Tanpa kejelasan itu, riset Indo Premier menyiratkan dana asing cenderung bertahan di luar hingga ada perubahan nyata pada tiga faktor tersebut.

Bagi pelaku pasar, periode ini menuntut strategi selektif. Saham dengan arus kas stabil, dividen menarik, dan eksposur domestik yang kuat relatif lebih tahan menghadapi ketidakpastian aliran dana asing.

Reporter: Fajar