Harga Emas Spot Turun 0,55% ke USD4.171,65, Dolar AS dan Minyak Jadi Penekan

Harga emas spot melemah 0,55 persen menjadi USD4.171,65 per troy ons pada perdagangan Senin (12/10/2026).
Penulis: Fajar
Selasa, 13 Oktober 2026 | 07:01:01 WIB

AURANUSANTARA.COM — Harga emas spot melemah 0,55 persen menjadi USD4.171,65 per troy ons pada perdagangan Senin (12/10/2026), setelah sebelumnya menyentuh level tertinggi dalam sepekan. Penguatan dolar AS ke kisaran tertinggi satu setengah tahun dan kenaikan harga minyak menjadi dua faktor utama yang menekan logam mulia tersebut.

Tekanan jual terhadap emas muncul bersamaan dengan posisi dolar AS yang berada di sekitar level tertinggi dalam satu setengah tahun terakhir. Investor juga menanti rilis data inflasi Amerika Serikat sebagai petunjuk arah suku bunga Federal Reserve ke depan.

Analis pasar di American Gold Exchange Jim Wyckoff menyebut kombinasi dolar kuat dan minyak yang naik membuat emas kurang menarik dalam jangka pendek.

"Tekanan jual pada emas terlihat karena dolar berada di sekitar level tertinggi dalam satu setengah tahun," ujar Wyckoff, seperti dikutip Reuters.

Level Tertinggi Sepekan Sempat Tersentuh

Sebelum koreksi terjadi, harga emas sempat menyentuh level tertinggi sejak 2 Oktober. Pergerakan tersebut menunjukkan bahwa permintaan terhadap aset safe haven masih cukup kuat di tengah ketidakpastian global.

Namun, penguatan dolar AS membalik arah pasar. Ketika dolar menguat, harga emas yang dihargai dalam mata uang Amerika Serikat menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lain, sehingga permintaan menurun.

Dolar AS di Puncak 18 Bulan

Posisi dolar AS yang berada di sekitar level tertinggi dalam satu setengah tahun menjadi faktor dominan yang membebani emas. Penguatan greenback membuat daya beli investor non-AS terhadap emas melemah.

Selain itu, kenaikan harga minyak turut menambah tekanan. Minyak yang lebih mahal cenderung mendorong ekspektasi inflasi, yang pada gilirannya memperkuat spekulasi bahwa The Fed akan mempertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama.

Investor Menanti Data Inflasi AS

Pasar kini menunggu rilis data inflasi Amerika Serikat yang dijadwalkan dalam waktu dekat. Data tersebut akan menjadi acuan utama bagi investor dalam memperkirakan arah suku bunga Federal Reserve.

Jika inflasi AS tercatat lebih tinggi dari perkiraan, tekanan terhadap emas berpotensi berlanjut karena ekspektasi suku bunga tinggi akan semakin kuat. Sebaliknya, data inflasi yang lebih lemah dari ekspektasi bisa menjadi katalis positif bagi harga emas.

Konflik Timur Tengah Jaga Permintaan Safe Haven

Eskalasi konflik di Timur Tengah membuat investor tetap berhati-hati. Ketegangan geopolitik biasanya mendorong permintaan terhadap aset lindung nilai seperti emas.

Meski demikian, faktor risiko geopolitik belum cukup kuat untuk menahan laju koreksi emas. Dolar AS yang perkasa dan minyak yang naik masih mendominasi arah pergerakan harga dalam jangka pendek.

Apa Artinya bagi Investor Emas

Bagi investor yang memegang emas, pelemahan harga bisa menjadi peluang akumulasi jika ekspektasi inflasi jangka panjang tetap tinggi. Namun, risiko tekanan lanjutan dari dolar AS masih perlu dicermati.

Pergerakan harga emas dalam beberapa sesi ke depan akan sangat bergantung pada data inflasi AS dan perkembangan konflik di Timur Tengah. Kedua faktor tersebut akan menentukan apakah emas mampu kembali ke level tertinggi sepekan atau justru melanjutkan koreksi.

Reporter: Fajar