IMF dan Bank Dunia Peringatkan AI Ancam 40% Pekerjaan Dunia

Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva menyampaikan peringatan soal dampak kecerdasan buatan terhadap pasar tenaga kerja global.
Penulis: Saiful
Rabu, 14 Oktober 2026 | 06:42:01 WIB

AURANUSANTARA.COM — Dana Moneter Internasional (IMF) memperkirakan sekitar 40% pekerjaan di seluruh dunia akan ditambah, diturunkan, atau dihilangkan akibat perkembangan kecerdasan buatan. Paparan risiko terbesar ada di negara maju yang mencapai 60%, sementara negara berpenghasilan rendah hanya 23%. Peringatan ini disampaikan bersamaan dengan kekhawatiran Bank Dunia soal nasib 1,2 miliar anak muda yang akan memasuki pasar kerja dalam 15 tahun ke depan.

Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva menyebut dampak kecerdasan buatan terhadap pasar tenaga kerja global bergerak seperti tsunami yang berjalan lambat. Menurutnya, kelompok yang paling rentan terkena hantaman itu adalah para lulusan muda yang baru pertama kali mencari pekerjaan.

Georgieva menjelaskan, anak muda biasanya memulai karier dari pekerjaan rutin dan berulang sebelum naik ke posisi lebih tinggi. Pola itu kini terancam berubah karena banyak tugas rutin yang lebih dulu diambil alih sistem otomatis.

"Yang perlu dikhawatirkan, pertama dan terutama, adalah kaum muda yang mulai memasuki pasar tenaga kerja. Biasanya, mereka akan masuk ke pekerjaan rutin dan berulang dan kemudian naik pangkat. Tetapi jika mereka pergi, saya rasa tidak ada anak muda yang ingin menjadi barista di kedai kopi sebagai masa depan profesional mereka," papar Georgieva, dikutip dari CNBC.

Negara Maju Paling Terpapar Risiko AI

Data IMF menunjukkan ketimpangan paparan risiko antarwilayah. Negara-negara maju mencatat tingkat paparan sekitar 60%, jauh di atas negara berpenghasilan rendah yang hanya 23%. Artinya, ekonomi yang paling maju justru menghadapi tekanan penyesuaian tenaga kerja paling besar.

Perdebatan di kalangan pembuat kebijakan juga bergeser. Fokusnya tidak lagi soal apakah AI akan mengganggu lapangan kerja, melainkan bagaimana mengurangi dampaknya. Tekanan itu bertambah karena populasi menua dengan cepat, terutama di Asia, yang mengancam jumlah angkatan kerja.

Bank Dunia Soroti 1,2 Miliar Anak Muda

Presiden Bank Dunia Ajay Banga memperkirakan 1,2 miliar anak muda akan berusia 18 tahun dalam 15 tahun ke depan. Sektor swasta, yang selama ini menghasilkan 75% hingga 85% lapangan kerja, dinilai harus menyerap sebagian besar dari mereka.

"Modal swasta itulah yang menciptakan lapangan kerja," kata Banga.

Pemerintah berbagai negara, lanjutnya, perlu membangun infrastruktur, menetapkan kebijakan yang mendukung, dan mengurangi risiko modal swasta. Langkah itu diperlukan agar investor berani menanamkan uang dalam skala besar.

Dorongan agar Insentif Ketenagakerjaan Jadi Kebijakan Permanen

Presiden Singapura Tharman Shanmugaratnam, yang juga menjabat Ketua Dewan Pekerjaan Bank Dunia, menyerukan pemerintah di seluruh dunia memberikan dukungan konkret bagi kaum muda untuk mendapatkan pekerjaan. Kerja sama dengan sektor swasta dan insentif bagi perusahaan yang mempekerjakan lulusan baru dinilai menjadi kunci.

Shanmugaratnam menilai sejumlah kebijakan yang dipakai selama pandemi COVID-19 dan krisis keuangan global sebaiknya tidak lagi dipandang sebagai langkah darurat. Kebijakan itu, menurutnya, perlu dilebur menjadi bagian dari kerangka kebijakan struktural yang permanen.

"Sekarang kebijakan itu harus dipikirkan bukan sebagai langkah krisis, tetapi sebagai bagian dari kebijakan struktural, serangkaian kebijakan struktural," kata Shanmugaratnam.

Apa Artinya bagi Pasar Tenaga Kerja Indonesia

Peringatan IMF dan Bank Dunia ini relevan bagi Indonesia yang setiap tahun melepas ratusan ribu lulusan baru ke pasar kerja. Sektor yang paling dulu terpapar otomatisasi umumnya adalah pekerjaan administratif, layanan pelanggan, dan proses produksi berulang.

Bagi pelaku usaha, sinyal dari kedua lembaga itu berarti investasi pada pelatihan ulang karyawan dan penyesuaian struktur organisasi menjadi semakin mendesak. Pemerintah juga menghadapi tekanan untuk memastikan insentif penciptaan lapangan kerja tidak bersifat sementara, melainkan terintegrasi dalam perencanaan jangka panjang.

Reporter: Saiful