Danantara Wajibkan Data Center AI di Atas 500 MW Bangun Energi Sendiri
AURANUSANTARA.COM — Danantara Indonesia mewajibkan proyek pusat data berskala besar, terutama yang melayani komputasi kecerdasan buatan, membangun sumber energi sendiri agar tidak mengganggu pasokan listrik industri dan masyarakat. Aturan ini berlaku untuk fasilitas berkapasitas di atas 500 megawatt yang membutuhkan daya sangat besar.
Managing Director Danantara Investment Management Stefanus Ade Hadiwidjaja menyebut proyek pusat data jumbo harus memperhitungkan kebutuhan energi sejak tahap perencanaan. Persyaratan itu berlaku khusus bagi fasilitas berkapasitas di atas 500 megawatt (MW).
Danantara Indonesia mengusung skema yang disebut Bring Your Own Energy (BYOD) untuk proyek pusat data berskala besar. Tujuannya memastikan kehadiran fasilitas digital raksasa tidak mengganggu pasokan listrik yang saat ini menopang industrialisasi dan kebutuhan rumah tangga.
Skema Bring Your Own Energy untuk Data Center Jumbo
Stefanus menjelaskan, dengan skema tersebut kebutuhan energi proyek dapat direncanakan seiring pengembangan infrastruktur pusat data. Pembangunan pembangkit sendiri dinilai lebih aman bagi keseimbangan pasokan listrik nasional.
“Intinya kalau itu data center dalam skala besar misalnya di atas 500 megawatt, kita sebutnya BYOD, Bring Your Own Energy. Jadi kita juga tidak mau mengganggu pasokan energi yang ada di Indonesia sekarang, (yang) buat industrialisasi dan buat masyarakat,” ujarnya di Wisma Danantara, Jakarta, Kamis (22/10).
Pernyataan itu disampaikan Stefanus dalam forum di kantor Danantara, Jakarta. Ia menekankan perencanaan energi sejak awal menjadi kunci agar proyek tidak menimbulkan beban baru bagi jaringan listrik yang sudah ada.
Tarif Listrik PLN Harus Tetap Menguntungkan
Danantara tidak melarang sepenuhnya penggunaan listrik dari jaringan PLN. Namun, jika proyek memilih memasok daya dari jaringan negara, tarif yang dikenakan harus tetap memungkinkan PLN memperoleh keuntungan.
Syarat itu menjadi bagian dari upaya menjaga kelayakan bisnis investasi infrastruktur digital sekaligus melindungi kepentingan nasional. Danantara ingin memastikan proyek besar tidak dibangun di atas biaya energi yang dibebankan ke pihak lain.
Pendekatan tersebut menempatkan perhitungan komersial sebagai bagian dari evaluasi proyek. Investasi pusat data dinilai bukan sekadar soal nilai proyek, tetapi juga kesiapan infrastruktur pendukung dan dampaknya bagi perekonomian.
Air Jadi Sorotan Berikutnya: Sirkulasi Tertutup hingga Desalinasi
Selain listrik, Danantara menyoroti kebutuhan air dalam operasional pusat data. Pengelola didorong mengoptimalkan pemakaian air, antara lain lewat penerapan sistem sirkulasi tertutup atau closed-loop water system.
Sistem tersebut memungkinkan air dipakai kembali dalam proses operasional sehingga kebutuhan air baru dapat ditekan. Teknologi pengolahan air dan desalinasi juga menjadi opsi yang dapat dipertimbangkan untuk mendukung fasilitas pusat data.
“Sebisa mungkin, kita mau ada water treatment system dan juga water desalinasi. jadi, mengoptimalisasi dari sisi air, semua investasi dilakukan dengan cara yang benar dan tepat, baik untuk masyarakat dan juga buat environment,” kata Stefanus.
Peluang Investasi AI dan Sinyal dari The New Asia Forum
Pengembangan kecerdasan buatan dan pusat data masuk dalam daftar peluang investasi yang tengah dibidik Danantara. Sejumlah proyek berskala besar berpotensi diumumkan atau mencapai penandatanganan kesepakatan dalam The New Asia Forum pada 3-4 Desember 2026 di Bali.
Forum tersebut disiapkan menjadi wadah mempertemukan investor dengan berbagai peluang investasi di kawasan Asia. Danantara ingin menarik lebih banyak investasi ke Indonesia, termasuk pada sektor infrastruktur digital yang membutuhkan dukungan energi dan infrastruktur pendukung lain.
Bagi pelaku industri pusat data, persyaratan energi mandiri dan pengelolaan air yang efisien akan menentukan struktur biaya proyek. Realisasi proyek berskala besar tetap bergantung pada kesiapan investasi, pemenuhan kebutuhan energi dan air, serta kesepakatan antarpihak yang terlibat.
Danantara juga menekankan agar proyek pusat data memberi manfaat bagi perekonomian nasional, termasuk melalui penciptaan lapangan kerja. Investasi tidak hanya diukur dari besarnya nilai proyek, tetapi juga dari kesiapan infrastruktur pendukung serta dampak yang dihasilkan bagi Indonesia.