Birufinery Menangi Unlock Her Future 2026, Biostimulan Rumput Laut Hemat Pupuk 30%
AURANUSANTARA.COM — Birufinery menyabet penghargaan utama kompetisi kewirausahaan sosial Unlock Her Future 2026 yang digelar The Bicester Collection di China. Startup asal Indonesia itu mengusung BiruLift, biostimulan berbahan rumput laut Nusa Tenggara Timur yang diklaim mampu memangkas kebutuhan pupuk kimia hingga 30 persen. Kemenangan tersebut membuka jalan pendanaan bagi rencana Birufinery menjangkau petani kecil di Tanah Air.
Pendiri sekaligus CEO Birufinery, Azalea Ayuningtyas, diumumkan sebagai salah satu dari empat pemenang kompetisi yang berlangsung di Suzhou, Provinsi Jiangsu. Pengumuman disampaikan pada Jumat (23/10/2026), sehari setelah sesi presentasi yang digelar Kamis (22/10/2026).
BiruLift merupakan biostimulan yang diekstrak dari rumput laut Nusa Tenggara Timur. Produk tersebut bekerja membantu tanaman menyerap nutrisi lebih optimal sehingga takaran pupuk kimia bisa ditekan.
Fungsi Biostimulan: Vitamin, Bukan Makanan Pokok Tanaman
Azalea menjelaskan perbedaan mendasar antara biostimulan dan pupuk lewat analogi sederhana. Menurutnya, biostimulan berperan sebagai pelengkap yang membuat tanaman lebih siap menyerap unsur hara.
"Biostimulan itu istilahnya seperti vitamin, sedangkan pupuk itu makanan untuk tanaman. Jadi, misalnya kalau anak tidak bisa makan, kita kasih vitamin dulu supaya makanannya meningkat dan makanan dapat dicerna dengan baik. Itu kira-kira tujuan biostimulan ini," kata Azalea di Suzhou.
Dengan pemakaian BiruLift, kebutuhan pupuk kimia berpotensi turun hingga 30 persen. Pengurangan itu diharapkan langsung memangkas biaya produksi petani.
Berapa Harga BiruLift dan Kebutuhan per Hektare?
Birufinery memasarkan BiruLift dengan harga eceran Rp110.000 per liter. Untuk pembelian dalam jumlah besar, harga turun menjadi Rp90.000 per liter. Kebutuhan aplikasi mencapai sekitar lima liter untuk setiap hektare lahan pertanian.
Selain menyasar perusahaan pertanian berskala besar, Birufinery menargetkan petani kecil. Segmen ini dinilai paling membutuhkan solusi efisiensi produksi, tetapi juga paling sulit dijangkau karena butuh edukasi dan pendampingan berbiaya tinggi.
"Selain perusahaan besar, kami juga menargetkan petani kecil yang sesungguhnya paling membutuhkan biostimulan ini. Tapi mereka harus diedukasi dan tentu biayanya mahal dan tidak mudah. Makanya kami butuh pendanaan dari Bicester Collection," ungkap Azalea.
Peluang dari Rumput Laut yang Masih Dijual Mentah
Birufinery didirikan pada 2024 oleh Azalea bersama tiga rekannya. Salah satu pendiri berasal dari NTT, daerah yang menjadi sumber bahan baku BiruLift. Langkah itu berangkat dari kenyataan bahwa Indonesia termasuk produsen rumput laut terbesar dunia, tetapi sekitar 80 persen hasil produksinya masih dijual dalam bentuk bahan mentah.
Padahal, sektor rumput laut menghidupi hampir satu juta masyarakat pesisir dan lebih dari 267.000 rumah tangga. Nilai tambah dari pengolahan di dalam negeri selama ini belum banyak dinikmati pembudidaya.
Azalea menyoroti pula soal asal bahan baku. Sebagian besar biostimulan yang beredar di pasar memakai rumput laut dari perairan dingin seperti Norwegia dan Kanada. Jenis tersebut punya masa panen terbatas sehingga biaya produksi tinggi dan produknya dijual sebagai barang premium. Rumput laut Indonesia dinilai bisa menjadi bahan baku dengan harga lebih terjangkau.
Mengapa Tanah Pertanian Butuh Biostimulan Sekarang?
Perubahan iklim dan pemakaian pupuk kimia berlebihan menjadi tekanan bagi keberlanjutan pertanian. Azalea menuturkan, tanah yang semula subur kini mengalami penurunan kesuburan akibat berbagai faktor lingkungan.
"Terlebih Indonesia kan tanahnya subur, jadi dulu tidak diperlukan produk biostimulan. Tapi karena El Niño, banjir, atau bahkan terlalu banyak penggunaan pupuk kimia, maka tanah menjadi stres dan mengurangi kesuburan serta membutuhkan biostimulan," jelasnya.
Dari sisi lingkungan, budidaya rumput laut membantu menyerap kelebihan nitrogen di perairan yang berkontribusi pada eutrofikasi. Birufinery juga memberdayakan pembudidaya rumput laut di NTT, termasuk perempuan, lewat peningkatan nilai ekonomi hasil panen.
Dua Wakil Indonesia di Antara 12 Finalis Asia
Unlock Her Future 2026 mempertemukan 12 finalis dari kawasan Asia Timur dan Asia Tenggara. Indonesia mengirim tiga finalis yang menawarkan inovasi di bidang pertanian, kesehatan, dan produk ramah lingkungan.
Selain Azalea lewat Birufinery, ada Celia Siura dengan startup Bumbi yang memproduksi popok dan pembalut berbahan kain. Finalis ketiga, Jihan Alfiyyah Munajat, mengembangkan HerLens, teknologi kecerdasan buatan untuk membantu bidan melakukan pemeriksaan awal kanker serviks bagi perempuan di wilayah pedesaan.
Dua wakil Indonesia meraih penghargaan utama dalam kompetisi tersebut. Bagi Birufinery, kemenangan ini menjadi modal awal memperluas distribusi BiruLift sekaligus membiayai program edukasi bagi petani kecil di berbagai daerah.