LIV Golf Hadapi Masa Depan Tak Pasti, Investor Baru Jadi Penentu Nasib di Musim 2026

Suasana turnamen LIV Golf di Indianapolis diwarnai ketidakpastian menjelang musim 2026.
Penulis: Sutomo
Jumat, 21 Agustus 2026 | 19:53:01 WIB

Turnamen terakhir LIV Golf musim ini berlangsung di tengah atmosfer yang janggal. Di permukaan, optimisme masih terlihat, tetapi di balik itu, ketidakpastian menghantui para pemain, caddie, staf, hingga relawan. BBC Sport yang mengunjungi langsung lokasi acara di klub golf eksklusif Indianapolis itu menemukan suasana "senyum yang dipaksakan" di sela-sela kekhawatiran akan masa depan liga.

LIV Golf, yang diluncurkan lebih dari empat tahun lalu, hadir sebagai liga pembangkang dengan janji hadiah fantastis. Namun, setelah pendukungnya dari Arab Saudi menarik dana, liga ini harus berjuang mencari investor baru. Sumber BBC Sport mengonfirmasi calon investor yang dimaksud adalah Ted Goldthorpe, kepala divisi kredit dari perusahaan investasi internasional BC Partners. Ia sempat menghadiri acara LIV di Bedminster dan disebut sedang "melihat dari balik kap mesin" liga, tetapi di Indianapolis ia dijauhkan dari sorotan media.

LIV 2.0: Harapan di Tengah "Hospice, Bukan Pemakaman"

Para petinggi LIV Golf, termasuk CEO Scott O'Neil, masih menggenggam mimpi untuk meluncurkan "LIV 2.0". Frasa ini digunakan berulang kali oleh pimpinan liga sebagai simbol kehidupan kedua. Mereka percaya kesepakatan dengan investor baru bisa tercapai, meski salah satu orang dalam menyebut prosesnya akan "semakin buruk sebelum menjadi lebih baik".

Seorang figur senior di media golf memberikan analogi yang lebih suram: "Kita berada di hospice, bukan di pemakaman." Sementara itu, pekerjaan di balik layar disebut berjalan dengan kecepatan tinggi karena para pemain membutuhkan kejelasan kontrak, turnamen harus direncanakan, dan sponsor perlu diajak bicara.

Format Baru, Dompet Lebih Tipis

Jika kesepakatan dengan investor baru tercapai, wajah LIV Golf dipastikan berubah drastis. Era pengeluaran besar-besaran sudah berakhir. Liga akan dijalankan dengan disiplin finansial yang ketat, mengingat kerugian yang telah mencapai miliaran dolar.

Rencananya, jumlah turnamen akan dikurangi menjadi 10 acara per tahun yang tersebar di lima benua. Pemain juga akan mendapatkan kembali hak komersial 'Name Image Likeness' (NIL) mereka, yang memungkinkan mereka mencari sponsor sendiri. Namun, hadiah uang di turnamen pekan ini saja sudah dipangkas hampir setengahnya, menjadi sinyal bahwa masa depan liga akan jauh lebih hemat.

Nasib 57 Pemain di Tangan Investor

Tanpa pemain, LIV 2.0 tidak akan ada. Pekan-pekan mendatang menjadi krusial karena para pegolf, yang disebut memiliki "57 pola pikir berbeda", menunggu detail spesifik untuk memutuskan masa depan mereka. O'Neil menyatakan ambisinya untuk membuat LIV "dibangun agar bertahan", dan para pemain telah dijanjikan ekuitas dalam kesepakatan baru ini, meski nilainya belum jelas.

Di sisi lain, PGA Tour yang sempat menjadi rival justru diuntungkan. Hadiah uang di PGA Tour meningkat dalam beberapa tahun terakhir, sebagian besar karena kehadiran LIV. Jika LIV bertahan dengan format baru, hadiah uangnya diperkirakan akan berada di antara PGA Tour dan DP World Tour, menjadikannya kompetisi yang lebih realistis secara finansial namun tetap kompetitif.

Reporter: Sutomo