PGN Gagas Salurkan CNG 74.000 Meter Kubik per Bulan untuk Hotel dan Restoran di Yogyakarta

Direktur Utama PGN Gagas Santiaji Gunawan memaparkan skema penyaluran CNG untuk sektor hotel, restoran, dan kafe di Yogyakarta.
Penulis: Yasir
Sabtu, 22 Agustus 2026 | 10:02:31 WIB

Yogyakarta selama ini dikenal sebagai kota pariwisata dengan pertumbuhan sektor perhotelan dan kuliner yang pesat. Namun, tidak semua kawasan di kota ini terhubung dengan jaringan pipa gas bumi yang dikelola PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS). Kondisi inilah yang coba dijawab oleh PGN Gagas, anak usaha PGN, dengan menghadirkan layanan CNG yang lebih fleksibel.

Berbeda dengan penyaluran konvensional melalui pipa, CNG memungkinkan gas bumi dikompresi dan diangkut menggunakan moda transportasi khusus. Gas kemudian disalurkan langsung ke lokasi pelanggan. Metode ini menjadi jembatan bagi pelaku usaha yang berada di kawasan yang belum terjangkau infrastruktur pipa.

Dua Skema Penyaluran untuk Efisiensi Pengiriman

Direktur Utama PGN Gagas Santiaji Gunawan mengungkapkan, pengembangan CNG di wilayah ini menggunakan dua pendekatan sekaligus, yaitu skema point-to-point dan klastering. Pada skema point-to-point, gas dikirim langsung dari fasilitas pengisian menuju satu pelanggan sesuai kebutuhan.

Sementara itu, skema klastering dirancang untuk melayani sejumlah pelanggan yang berada dalam satu kawasan secara terintegrasi. Dengan pengiriman yang digabung dalam satu rute, biaya logistik bisa ditekan sehingga harga gas yang diterima pelanggan menjadi lebih kompetitif.

"PGN Gagas mengembangkan CNG Jawa Tengah Bagian Selatan, termasuk Yogyakarta, menggunakan skema klastering dan point-to-point. Kami menargetkan klastering pada sektor hotel, restoran, dan kafe (Horeka), sehingga pengiriman CNG dapat dilakukan kepada sejumlah pelanggan dalam satu kawasan dan lebih efisien," ujar Santiaji Gunawan di Yogyakarta, Jumat (21/08/2026).

Mengapa Sektor Horeka Jadi Prioritas?

Sektor hotel, restoran, dan kafe merupakan konsumen energi yang cukup besar di Yogyakarta. Kebutuhan gas untuk memasak dan operasional hotel berjalan setiap hari tanpa henti. Dengan beralih ke CNG, pelaku usaha mendapatkan pasokan yang lebih stabil dibandingkan LPG yang kerap mengalami gejolak harga.

Volume penyaluran yang telah mencapai 74.000 meter kubik per bulan menunjukkan animo yang cukup tinggi dari pelaku usaha. Angka ini diproyeksikan terus bertambah seiring dengan sosialisasi dan perluasan rute pengiriman ke kawasan-kawasan baru di sekitar Yogyakarta dan Jawa Tengah bagian selatan.

Solusi Tanpa Menunggu Jaringan Pipa

Model bisnis CNG ini menjadi salah satu strategi PGN Gagas untuk memperluas pemanfaatan gas bumi di Indonesia tanpa harus menunggu pembangunan jaringan pipa yang membutuhkan waktu dan investasi besar. Dengan pendekatan ini, wilayah-wilayah yang secara geografis sulit dijangkau pipa tetap bisa menikmati energi yang lebih ramah lingkungan dibandingkan bahan bakar minyak.

Ke depan, PGN Gagas berencana menambah titik pengisian CNG dan memperluas rute pengiriman untuk menjangkau lebih banyak pelanggan potensial. Langkah ini sejalan dengan upaya pemerintah dalam mendorong transisi energi yang lebih bersih dan efisien di sektor komersial.

Bagi pelaku usaha di Yogyakarta, kehadiran CNG membuka opsi baru untuk menekan biaya operasional. Pasokan yang kontinu dan harga yang lebih stabil menjadi daya tarik utama yang diharapkan mampu mendongkrak daya saing usaha di tengah persaingan industri pariwisata yang semakin ketat.

Reporter: Yasir