UEFA Ajukan Tuntutan Pidana ke Pengadilan Swiss untuk Jatuhkan Presiden FIFA Infantino

UEFA mengajukan tuntutan pidana ke pengadilan Swiss terkait dugaan kesalahan pengelolaan dalam skema penjualan FIFA Forward Enterprise.
Penulis: Yasir
Jumat, 28 Agustus 2026 | 04:03:01 WIB

AURANUSANTARA.COM — Keputusan UEFA untuk menarik rencana boikot turnamen FIFA pekan lalu sempat diartikan sebagai kemunduran. Faktanya, justru sebaliknya. Di sela-sela undian Liga Champions di Monte Carlo, Selasa (27/8), UEFA mengumumkan akan mengajukan pengaduan kriminal ke otoritas Swiss. Tuduhan yang dilayangkan adalah "criminal mismanagement" atas peran Infantino dalam skema penjualan FIFA Forward Enterprise (FFE) yang gagal total.

Nilai Jual FIFA Hanya 20 Miliar Dolar? UEFA Nilai Itu Absurd

Pokok perkara berpusat pada valuasi FFE yang disebut UEFA "sangat rendah secara absurd", hanya sekitar 20 miliar dolar AS. Padahal, pendapatan FIFA pada siklus empat tahun yang berakhir di Piala Dunia 2026 mencapai 15 miliar dolar AS. Dengan angka tersebut, analis pasar menilai valuasi 20 miliar dolar AS tidak masuk akal, terlebih proposal itu tidak menyertakan klausul pembatasan ekspansi turnamen baru.

Jika skema ini jadi, Joshua Kushner melalui perusahaan investasinya, Thrive Capital, akan membeli 21 persen pendapatan masa depan FIFA selamanya hanya dengan 4,2 miliar dolar AS. UEFA mencurigai Infantino memberikan "kesepakatan istimewa" kepada Kushner. Kecurigaan itu menguat setelah Kushner membeli klub basket LA Lakers bersama mantan bos Disney, Bob Iger, senilai 12,5 miliar dolar AS.

Langkah Hukum Dimulai dari Pengadilan AS

Proses hukum UEFA tidak dimulai dari Swiss. Mereka lebih dulu mengajukan permohonan ke tiga pengadilan di New York, Florida, dan Colorado untuk mendapatkan dokumen terkait proposal FFE yang ditinggalkan. UEFA telah mengirimkan dokumen setebal 56 halaman ke pengadilan-pengadilan AS tersebut. Dokumen yang diperoleh nantinya akan digunakan sebagai bukti di pengadilan Swiss untuk menuntut Infantino secara pidana.

Sejak Infantino menolak mundur setelah menarik FFE empat hari pasca-publikasi, UEFA terus mengejar isu valuasi ini. Sumber internal UEFA menyebutkan, mereka ingin membuktikan apakah Piala Dunia akan dijual dengan harga miring. "Kami perlu mencari tahu apakah mereka menjual Piala Dunia dengan harga yang jauh di bawah nilai seharusnya," kata seorang sumber yang mempertanyakan valuasi FIFA.

Dukungan Negara Anggota di Luar Eropa Masih Minim

Meski gencar menyerang secara hukum, UEFA mengakui tantangan politik yang lebih besar. Beberapa pejabat senior UEFA dan sekutunya di Concacaf mengaku kesulitan menggalang dukungan dari asosiasi anggota di luar Eropa untuk melawan Infantino pada pemilihan presiden Maret mendatang. Sejumlah federasi secara pribadi menyatakan baru akan meninggalkan Infantino jika ada bukti aktivitas kriminal atau setidaknya bukti pengayaan pribadi dari skema FFE.

Sejarah FIFA menunjukkan betapa sulitnya menjatuhkan presiden petahana melalui pemungutan suara. Dalam 52 tahun terakhir, hanya tiga presiden permanen yang memimpin FIFA. Sir Stanley Rous dari Inggris adalah yang terakhir kalah dalam pemilihan pada 1974. Penerusnya, Joao Havelange, mundur setelah 24 tahun menjabat dan kemudian terbukti menerima suap. Begitu pula Sepp Blatter yang lengser di tengah investigasi FBI pada 2015.

Infantino sendiri menunjukkan sikap bertahan. Pekan lalu, ia menghadiri pertemuan Uni Sepak Bola Karibia di Republik Dominika dan mendadak menyetujui sejumlah proyek pendanaan—langkah yang dinilai UEFA sebagai mode kampanye awal untuk mengamankan kursi hingga 2031.

Reporter: Yasir