Nutrisi Anak Usia Sekolah: Mengapa Rasa Cokelat Bisa Bantu Penuhi Kebutuhan DHA

Anak-anak usia sekolah menunjukkan preferensi rasa yang kuat, sehingga pemilihan rasa yang disukai dapat mendukung pemenuhan kebutuhan nutrisi hariannya.
Penulis: Ragil
Sabtu, 05 September 2026 | 06:42:31 WIB

AURANUSANTARA.COM — Memasuki usia sekolah (7-12 tahun), anak-anak mulai menunjukkan preferensi rasa yang kuat. Kondisi ini seringkali membuat ibu pusing tujuh keliling saat menyiapkan makanan atau minuman bergizi, karena si kecil kerap menolak jika rasanya tidak sesuai dengan keinginannya.

Data menunjukkan, penolakan terhadap susu plain cukup tinggi. Penelitian Universitas Gadjah Mada (UGM) pada 2015 menemukan, sebanyak 53% siswa SD dan 39,5% siswa SMP di Purbalingga cenderung menolak susu tanpa rasa.

Kenapa Anak Susah Makan Makanan Bernutrisi?

Di usia ini, anak sedang berada dalam fase pertumbuhan aktif. Mereka butuh energi besar untuk belajar, bermain, dan beraktivitas fisik. Namun, kebutuhan nutrisi yang tinggi tidak selalu diimbangi dengan pola makan yang baik.

Anak-anak lebih memilih makanan atau minuman yang rasanya enak di lidah mereka. Studi dari Universitas Negeri Surabaya (UNESA) pada 2016 mengungkap fakta menarik: rasa cokelat menjadi favorit bagi 52,7% siswa sekolah dasar yang diteliti. Artinya, rasa bukan sekadar soal selera, melainkan kunci agar anak mau mengonsumsi sesuatu secara rutin.

DHA dan EPA: Nutrisi Krusial yang Sering Terlewat

Kekhawatiran utama bukan hanya tentang anak mau makan atau tidak. Lebih dari itu, apakah asupan hariannya sudah mengandung nutrisi penting yang mendukung fungsi otak?

Docosahexaenoic Acid (DHA) adalah asam lemak esensial yang menjadi komponen utama penyusun jaringan otak. Sayangnya, memenuhi kebutuhan DHA anak dari makanan sehari-hari masih menjadi pekerjaan rumah besar bagi orang tua di Indonesia.

Studi yang dipublikasikan dalam British Journal of Nutrition pada 2016 mencatat, 8 dari 10 anak Indonesia berusia 4-12 tahun memiliki asupan EPA dan DHA di bawah standar minimum rekomendasi FAO/WHO. Padahal, kedua nutrisi ini berperan penting dalam perkembangan fungsi kognitif dan konsentrasi.

Solusi Praktis: Menyiasati Selera Tanpa Mengorbankan Gizi

Lalu, bagaimana cara ibu menghadapi dilema antara makanan yang disukai anak versus makanan yang baik untuk tumbuh kembangnya? Jawabannya bukan memaksa, melainkan mencari titik tengah.

Ibu tidak harus selalu memilih antara yang enak atau yang bernutrisi. Kini sudah ada pilihan minuman yang dirancang khusus untuk menjembatani kebutuhan ini. Champion, misalnya, adalah minuman cokelat yang diperkaya DHA dan ditujukan untuk anak usia 7-12 tahun.

Selain DHA, produk ini mengandung 10 jenis vitamin dan cokelat malt yang memberikan pelepasan energi secara berkala (sustained energy). Ini membantu anak tetap bertenaga sepanjang aktivitas sekolah tanpa mengalami penurunan energi yang drastis.

Memilih Rasa Favorit untuk Rutinitas Sehat

Memilih minuman bernutrisi dengan rasa yang disukai anak adalah strategi cerdas. Ketika anak menyukai rasanya, ia akan lebih mudah menjadikannya bagian dari rutinitas harian, misalnya saat sarapan atau bekal ke sekolah.

Dengan begitu, asupan nutrisi penting seperti DHA tetap terpenuhi tanpa perlu ada drama di meja makan. Anak senang karena minumannya enak, ibu pun tenang karena kebutuhan gizinya terbantu.

Kunci utama memenuhi nutrisi anak usia sekolah adalah konsistensi dan variasi. Pastikan kebutuhan gizi hariannya tercukupi, tetapi tetap dengarkan preferensi rasa si kecil. Kombinasi keduanya adalah cara paling efektif untuk mendukung tumbuh kembangnya secara optimal.

Reporter: Ragil