AURANUSANTARA.COM — Neraca perdagangan Indonesia pada Juli 2026 membukukan surplus USD 0,12 miliar. Angka ini merupakan hasil kompromi antara surplus sektor nonmigas yang mencapai USD 3,10 miliar dengan defisit migas senilai USD 2,98 miliar.
Secara kumulatif Januari–Juli 2026, surplus terkumpul USD 3,70 miliar. Sektor nonmigas menyumbang surplus USD 22,45 miliar, sementara perdagangan migas masih jebol USD 18,75 miliar—sebuah gambaran betapa besarnya ketergantungan impor energi di tengah gejolak harga minyak dunia.
"Surplus perdagangan pada Juli 2026 menunjukkan kinerja ekspor Indonesia tetap terjaga. Diversifikasi pasar dan komoditas ekspor perlu terus diperkuat," ujar Menteri Perdagangan Budi Santoso dalam keterangan resmi, Kamis (3/9).
Ekspor Nonmigas Naik, Tapi Nikel dan Emas Perhiasan Merosot
Pendorong utama ekspor bulan lalu adalah nonmigas dengan nilai USD 25,43 miliar—naik 4,25 persen secara bulanan dan 6,84 persen tahunan. Pertumbuhan paling tajam datang dari mesin dan peralatan mekanis yang melesat 23,05 persen, disusul tembaga yang tumbuh 21,20 persen, serta pakaian jadi bukan rajutan yang naik 20,65 persen.
Di sisi lain, ada komoditas yang justru terkoreksi dalam. Ekspor logam mulia dan perhiasan anjlok 45,07 persen, nikel turun 38,25 persen, dan lemak serta minyak hewani/nabati melemah 6,21 persen. Penurunan nikel ini patut dicermati—di tengah gencarnya program hilirisasi, fluktuasi harga komoditas global masih mampu menggerus nilai ekspor.
Kendati demikian, sepanjang Januari–Juli 2026, ekspor total mencapai USD 167,03 miliar, naik 4,43 persen dibanding periode sama tahun sebelumnya. Industri pengolahan tetap menjadi tulang punggung dengan kontribusi 82,18 persen dan pertumbuhan 7,16 persen.
"Penguatan nilai tambah melalui hilirisasi dan peningkatan daya saing produk ekspor perlu terus dilakukan agar semakin banyak produk Indonesia mampu menembus pasar global," kata Budi.
AS dan India Jadi Tujuan Utama, Tiongkok Rajai Impor
Dari sisi mitra dagang, Amerika Serikat menjadi penyumbang surplus nonmigas terbesar Januari–Juli 2026 dengan nilai USD 12,81 miliar. India menyusul di posisi kedua dengan USD 7,96 miliar, lalu Filipina USD 4,72 miliar, Malaysia USD 3,39 miliar, dan Vietnam USD 2,95 miliar.
Pola ini menegaskan pergeseran pasar yang kian bervariasi, tidak lagi bergantung pada satu atau dua negara tujuan.
Impor Melonjak Hampir 20 Persen, Bukan karena Barang Mewah
Impor Juli 2026 tercatat USD 26,09 miliar—tumbuh 27,02 persen dibanding Juli tahun lalu. Secara kumulatif Januari–Juli, total impor mencapai USD 163,33 miliar, naik 19,94 persen. Impor migas bahkan melonjak 40,24 persen menjadi USD 25,77 miliar.
Yang menarik, mayoritas impor justru untuk menopang produksi dalam negeri. Bahan baku dan penolong menguasai 71,45 persen pangsa impor, sementara barang modal menyumbang 19,88 persen. Artinya, 91,33 persen impor digunakan untuk kebutuhan industri dan investasi—bukan konsumsi rumah tangga.
"Perkembangan impor perlu dilihat secara proporsional berdasarkan jenis dan penggunaannya. Sebagian besar impor adalah bahan baku dan barang modal untuk mendukung kegiatan produksi dan investasi di dalam negeri," jelas Budi.
Tiongkok masih mendominasi sebagai pemasok nonmigas terbesar dengan pangsa 42,38 persen sepanjang Januari–Juli 2026.
Ke depan, pemerintah berkomitmen menjaga keseimbangan antara penguatan perdagangan domestik dan ekspansi pasar ekspor. Daya saing produk, hilirisasi, dan diversifikasi pasar menjadi tiga kunci utama yang terus didorong agar kinerja perdagangan Indonesia tidak hanya bertahan, tetapi tumbuh berkelanjutan di tengah ketidakpastian global.