AURANUSANTARA.COM — Emiten yang bernaung di holding BUMN industri pertambangan MIND ID kompak membukukan kinerja positif sepanjang paruh pertama 2026. Kombinasi kenaikan harga komoditas global dan efisiensi operasional membuat laba mereka tumbuh jauh lebih cepat daripada pendapatan.
Keempat perusahaan tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) itu adalah PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), PT Bukit Asam Tbk (PTBA), PT Timah Tbk (TINS), dan PT Vale Indonesia Tbk (INCO).
Kinerja Semester I: TINS Paling Agresif, ANTM Paling Gemuk
Dari sisi nilai, ANTM masih menjadi kontributor pendapatan terbesar dengan raihan Rp 62,71 triliun atau naik 6,3 persen dibanding periode sama tahun lalu. Laba bersihnya tumbuh 36 persen menjadi Rp 6,38 triliun, ditopang bisnis emas yang tetap solid di tengah fluktuasi harga nikel.
Namun pertumbuhan paling spektakuler dicatat TINS. Pendapatan produsen timah ini melonjak 146,9 persen menjadi Rp 10,41 triliun, sementara laba bersihnya melejit 804,7 persen menjadi Rp 2,71 triliun. Kombinasi kenaikan harga timah dan peningkatan volume penjualan menjadi pemicu utama, meski basis laba tahun sebelumnya yang rendah ikut memperbesar persentase pertumbuhan.
Pengamat pasar modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana, menilai pertumbuhan laba yang melebihi pendapatan menunjukkan perbaikan margin dan efisiensi operasional di seluruh lini usaha.
"Untuk semester II hingga akhir 2026, prospek keempat saham tersebut masih cukup positif, tetapi dengan karakter yang berbeda," kata Hendra, Rabu (2/9).
Pergerakan Saham Tak Seragam, Peluang Rerating Terbuka
Meski fundamental menguat, pasar belum memberikan apresiasi merata. Data perdagangan intraday Rabu (2/9) pukul 10.32 WIB menunjukkan kontras yang tajam. PTBA menguat 20,78 persen secara year to date (ytd), TINS melesat 28,94 persen, sementara ANTM justru terkoreksi 3,17 persen dan INCO turun 4,73 persen sejak awal tahun.
Hendra menjelaskan disparitas ini mencerminkan perbedaan ekspektasi investor terhadap momentum laba masing-masing emiten. Saham dengan pertumbuhan laba paling agresif seperti TINS dan PTBA mendapat premi lebih besar, sedangkan ANTM dan INCO cenderung tertinggal meski fundamentalnya ikut membaik.
Kondisi ini membuka ruang rerating bagi saham yang kinerjanya solid tetapi pergerakan harganya belum mengikuti. Dari sisi rekomendasi, Hendra menilai ANTM menarik untuk speculative buy dengan target harga Rp 3.500. Adapun PTBA layak ditahan dengan rekomendasi trading buy target Rp 2.900, dengan catatan investor mewaspadai aksi ambil untung setelah penguatan signifikan sepanjang tahun ini.
Tantangan Semester II: Volatilitas Harga dan Siklus Komoditas
Ke depannya, risiko terbesar justru datang dari komoditas itu sendiri. TINS menjadi emiten paling sensitif—pertumbuhan laba setinggi 800 persen membuatnya sangat rentan jika harga timah berbalik arah pada semester kedua. Sahamnya yang sudah naik 31,19 persen secara ytd juga meningkatkan risiko koreksi.
Hendra merekomendasikan strategi speculative buy untuk TINS dengan target harga Rp 4.250, namun hanya untuk investor dengan toleransi risiko tinggi. Sementara untuk INCO, ia menyarankan pendekatan buy on weakness di kisaran Rp 5.000 dengan target Rp 5.500. Dengan kenaikan ytd yang baru 0,48 persen, valuasi INCO dinilai masih menyimpan ruang apresiasi—seiring perbaikan harga nikel global dan prospek hilirisasi yang mulai dilirik pasar.