Lebih dari 7.000 Partisipasi Ramaikan IndoEBTKE ConEx 2026, METI Siap Rampungkan Rekomendasi untuk Pemerintah

Lebih dari 7.000 partisipan menghadiri IndoEBTKE ConEx 2026 di JIExpo Kemayoran selama tiga hari penyelenggaraan.
Penulis: Ragil
Sabtu, 05 September 2026 | 07:42:01 WIB

AURANUSANTARA.COM — Gelaran IndoEBTKE ConEx 2026 tidak hanya menjadi ajang pameran teknologi, tetapi juga ruang pembentukan kebijakan. Selama tiga hari penyelenggaraan, panitia mencatat kehadiran sekitar 1.785 delegasi konferensi dan lebih dari 5.000 pengunjung pameran yang memadati area JIExpo Kemayoran.

Wakil Ketua Umum METI Hokkop Satungkir mengungkapkan bahwa acara tersebut menghadirkan 110 pembicara nasional dan internasional dalam 20 sesi diskusi strategis. Selain itu, 22 eksibitor turut memamerkan produk dan layanan mereka, menunjukkan ekosistem energi Indonesia yang mulai bergerak.

16 Kerja Sama Ditandatangani, dari Biofuel hingga Pembiayaan Berkelanjutan

Salah satu output paling konkret dari perhelatan ini adalah terealisasinya 16 penandatanganan kerja sama. Ruang lingkup kesepakatan tersebut mencakup pengembangan EBT, program LTS 100 GW, bioenergy dan biofuel, hidrogen hijau berbasis biomassa, konservasi energi, penguatan sumber daya manusia, hingga pembiayaan berkelanjutan.

"Selama tiga hari penyelenggaraan, banyak diskusi, banyak signing, banyak komitmen terkait dengan rencana bagaimana mendukung program-program strategis pemerintah untuk percepatan energi baru terbarukan," ujar Ketua Umum METI Norman Ginting kepada media, Jumat (4/9).

Fokus Bahasan Meluas: B50, Etanol E20, hingga Ekonomi Karbon

Norman menilai pembahasan dalam konferensi tahun ini jauh lebih luas dibandingkan edisi sebelumnya. Isu yang diangkat tidak lagi semata-mata soal pembangkit listrik, tetapi juga pemanfaatan langsung EBT untuk menggerakkan roda ekonomi masyarakat.

Beberapa topik utama yang menjadi sorotan selama tiga hari antara lain peta jalan menuju target kapasitas 100 GW, pengembangan bahan bakar nabati seperti B50 dan etanol E20, mekanisme nilai ekonomi karbon, serta pengelolaan sampah menjadi energi atau waste to energy. Pada hari terakhir, diskusi juga menyoroti infrastruktur EBT, battery energy storage system, smart grid, dan green super grid.

Dorongan Regulasi Dinilai Krusial agar Investasi Mengalir

METI menilai antusiasme tinggi dari para pelaku industri tidak akan cukup tanpa dukungan kebijakan yang berpihak. Organisasi tersebut berencana merangkum seluruh masukan dari diskusi dan komitmen yang terbentuk untuk disampaikan kepada pemerintah sebagai bahan evaluasi.

"Apapun namanya, ini perlu dorongan, perlu dukungan regulasi sehingga nantinya implementasi ini bisa terealisir lebih cepat dirasakan," tegas Norman.

Ia menambahkan, kepastian regulasi akan menjadi katalis utama bagi investasi di sektor EBT. Jika eksekusi berjalan mulus, dampaknya akan terasa pada pertumbuhan ekonomi yang lebih masif dan terbukanya lapangan kerja baru, khususnya di sektor green job.

"Ada harapan yang tinggi. Kita tahu bahwa rencana strategis program pemerintah ini akan menjadi semacam dorongan terhadap investasi yang luar biasa di sektor energi baru terbarukan," kata Norman.

Transisi Energi Butuh Sinergi Pemerintah dan Swasta

Hokkop menekankan bahwa percepatan transisi energi di Indonesia adalah kerja kolektif. Pemerintah telah memberikan arah kebijakan, sementara dunia usaha diharapkan menghadirkan investasi dan implementasi di lapangan.

"Akademisi serta peneliti menghadirkan inovasi, masyarakat memastikan manfaat transisi energi dapat dirasakan secara luas," ujarnya menutup rangkaian acara.

Reporter: Ragil