PTBA Cetak Laba Rp 2,65 Triliun, Melonjak 218 Persen di Semester I 2026
AURANUSANTARA.COM — Jakarta — Anggota Holding BUMN Pertambangan MIND ID ini mencatatkan kinerja yang berbalik arah dibanding awal tahun. Setelah operasional sempat terganggu, produksi batu bara kembali bergairah pada kuartal II 2026. Perbaikan itu berbarengan dengan momentum naiknya harga batu bara global, yang dimanfaatkan perseroan lewat strategi penjualan adaptif dan program efisiensi biaya.
Produksi 19,45 Juta Ton, Ekspor Tembus 10,33 Juta Ton
Dari sisi operasional, PTBA memproduksi 19,45 juta ton batu bara sepanjang Januari–Juni 2026. Volume penjualan tercatat 21,10 juta ton, lebih tinggi dari produksi karena perseroan ikut mengangkat stok dari periode sebelumnya.
Penjualan ekspor menjadi motor pertumbuhan, mencapai 10,33 juta ton atau naik sekitar 5 persen secara tahunan. Vietnam, Bangladesh, Kamboja, India, dan Thailand menjadi tujuan utama. Sisanya, 10,77 juta ton atau sekitar 51 persen dari total penjualan, diserap pasar domestik.
Direktur Utama PTBA Bambang Ismawan menyebut pemulihan produksi dan penguatan ekspor berjalan seiring.
"Memasuki periode dengan kondisi operasional yang lebih kondusif, Perseroan berhasil mendorong pemulihan kinerja produksi sekaligus memperkuat penjualan ekspor, baik secara kuartalan maupun tahunan. Momentum penguatan harga batubara global kami manfaatkan melalui strategi penjualan yang adaptif, disertai program efisiensi untuk menjaga disiplin biaya," ujar Bambang dalam keterangan tertulis di Jakarta, Jumat (11/9/2026).
Tanjung Enim–Kramasan Capai 93 Persen, Dana Rp 3,56 Triliun Disiapkan
PTBA tidak berhenti di kinerja jangka pendek. Perseroan tengah menggenjot proyek infrastruktur Tanjung Enim–Kramasan yang progresnya sudah mencapai sekitar 93 persen. Proyek ini dirancang menambah kapasitas angkut dan memperkuat sistem logistik batu bara perseroan.
Untuk mendanai belanja modal tersebut, PTBA telah mengantongi komitmen pendanaan melalui Term Sheet dengan bank-bank Himbara. Fasilitas Senior Term Loan yang disiapkan mencapai Rp 3,56 triliun.
Perusahaan juga mempercepat pembangunan Coal Handling Facility (CHF) serta Train Loading Station (TLS) 6–7 pada jalur relasi Tanjung Enim–Kramasan. Kedua fasilitas itu menyasar efisiensi rantai pasok dan kapasitas pemuatan batu bara.
"Penguatan infrastruktur merupakan bagian dari strategi kami untuk meningkatkan efisiensi dan daya saing bisnis. Kami terus mempercepat pengembangan proyek Tanjung Enim-Kramasan serta fasilitas CHF dan TLS 6–7 agar sistem logistik batubara semakin terintegrasi dan mampu mendukung kebutuhan pelanggan secara optimal," lanjut Bambang.
Hilirisasi dan Energi Terbarukan Jadi Taruhan Baru
Sejalan dengan transformasi bisnis, PTBA mendorong hilirisasi dan diversifikasi untuk membangun sumber pertumbuhan baru di luar batu bara mentah. Bersama mitra strategis, perseroan mengeksplorasi pengembangan Dimethyl Ether (DME) dan metanol, mencakup kajian teknologi, keekonomian, hingga skema bisnis.
Perseroan juga mengembangkan Kalium Humat, produk turunan pengolahan batu bara yang berpotensi mendukung sektor pertanian. Langkah ini membuka peluang pasar baru di luar sektor energi.
Di sisi energi terbarukan, PTBA menjajaki kerja sama dengan PT Pertamina New & Renewable Energy (Pertamina NRE) untuk mengembangkan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di lahan pascatambang dan sekitar area operasional. Lahan bekas tambang yang selama ini idle berpotensi dimanfaatkan menjadi aset produktif.
Kinerja semester I ini menempatkan PTBA di jalur pemulihan setelah tekanan harga dan operasional pada periode sebelumnya. Dengan proyek logistik yang hampir rampung dan portofolio hilirisasi yang mulai dibangun, perseroan berupaya mengurangi ketergantungan pada fluktuasi harga batu bara mentah sekaligus memperkuat posisinya di rantai pasok energi nasional.