Harga Emas Turun 1,82% Sepekan ke USD4.349, Inflasi AS Tekan Pasar
AURANUSANTARA.COM — Tekanan jual datang beruntun dari dua laporan inflasi Amerika Serikat. Data Producer Price Index (PPI) Agustus yang dirilis Kamis (10/9) memicu penurunan hampir 2% dalam satu sesi, lalu disusul Consumer Price Index (CPI) yang menunjukkan kenaikan 0,4% month-on-month, jauh di atas 0,1% pada Juli. Keduanya dirilis Biro Statistik Tenaga Kerja AS.
Angka CPI itu mengubah peta ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan Federal Reserve. Berdasarkan CME FedWatch Tool, peluang kenaikan suku bunga pada pertemuan pekan depan kini mencapai 87%.
Pemicu Koreksi: PPI dan CPI Agustus
PPI Agustus naik sesuai ekspektasi pasar, tetapi cukup untuk memicu aksi jual karena pelaku pasar sebelumnya berharap ada kejutan positif. Ketika CPI menyusul dengan kenaikan 0,4%, ekspektasi kenaikan bunga The Fed makin mengunci.
Harga minyak yang bertahan di level tinggi menambah beban. Biaya energi yang mahal memperkuat kekhawatiran inflasi dan memperbesar peluang The Fed mengetatkan kebijakan.
Emas secara tradisional dipandang sebagai lindung nilai inflasi. Namun kenaikan suku bunga justru menggerus daya tariknya karena logam mulia ini tidak memberikan imbal hasil.
Respons Pasar dan Pandangan Trader
Trader logam independen Tai Wong menilai pemulihan harga pada Jumat menunjukkan emas mulai menemukan pijakan jangka pendek setelah beberapa sesi tertekan.
"Emas pulih dengan cepat setelah sempat terkoreksi. Data CPI kemungkinan memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed pekan depan. Volatilitas agak mereda karena pasar sebelumnya sudah memperhitungkan peluang kenaikan suku bunga sebesar 70 persen," ujar Wong, dikutip Reuters.
Wong menambahkan, pergerakan tersebut memperlihatkan emas mulai menemukan pijakan jangka pendek setelah penurunan dalam beberapa sesi terakhir.
Permintaan Fisik: India Lesu, China Bertahan
Dari sisi permintaan fisik, pembelian emas di India cenderung lesu sepanjang pekan. Harga yang bergejolak membuat konsumen menahan pembelian dan menunggu level yang lebih stabil.
Sebaliknya, permintaan investasi di China masih tergolong kuat. China merupakan salah satu konsumen emas terbesar dunia, sehingga arus permintaan dari sana menjadi penopang harga di tengah tekanan pasar global.
Bagi investor Indonesia, pergerakan emas dunia ini biasanya tercermin pada harga emas Antam dan Pegadaian dalam beberapa hari berikutnya, dengan selisih mengikuti kurs rupiah terhadap dolar AS. Apresiasi rupiah bisa meredam kenaikan harga domestik, sedangkan pelemahan kurs justru memperkuat efek kenaikan harga global.
Fokus pasar pekan depan tertuju pada keputusan The Fed. Jika kenaikan suku bunga benar terealisasi, tekanan terhadap emas berpotensi berlanjut. Sebaliknya, jika The Fed menahan diri, emas bisa kembali menguji level resistensi terdekatnya. Investasi mengandung risiko.