IHSG Anjlok 1,69% ke 6.277, Rupiah Melemah Jelang Keputusan BI

IHSG ditutup turun 1,69% ke level 6.277,04 pada perdagangan Selasa (22/9/2026).
Penulis: Fajar
Rabu, 23 September 2026 | 06:42:01 WIB

AURANUSANTARA.COM — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup turun 107,68 poin atau 1,69% ke level 6.277,04 pada perdagangan Selasa (22/9/2026), sementara rupiah melemah 0,14% ke Rp17.850/US$. Pelemahan terjadi sehari sebelum Bank Indonesia mengumumkan keputusan suku bunga acuan, dengan mayoritas pelaku pasar memperkirakan BI menahan bunga di level 5,75%.

Tekanan jual melanda hampir seluruh sektor saham. Data perdagangan menunjukkan 533 saham ditutup turun, hanya 139 saham yang menguat, dan 188 saham stagnan. Nilai transaksi mencapai Rp14,5 triliun dengan volume sekitar 33,7 miliar saham.

Investor asing kembali mencatatkan aksi jual bersih sebesar Rp131,72 miliar di seluruh pasar. Aksi jual asing ini memperpanjang tren keluar dana dari pasar saham domestik dalam beberapa sesi terakhir.

Sektor Energi dan Properti Paling Tertekan

Berdasarkan data Refinitiv, sektor energi mencatat penurunan terdalam sebesar 3,9%. Sektor properti menyusul dengan pelemahan 2%, sementara sektor utilitas turun 1,5%.

Sejumlah saham menjadi pemberat utama IHSG, antara lain:

  • PT Bayan Resources Tbk (BYAN)
  • PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI)
  • PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA)
  • PT DCI Indonesia Tbk (DCII)
  • PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS)

Di tengah koreksi, beberapa saham masih mampu menahan pelemahan indeks. PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) menjadi penopang utama, disusul PT Indosat Tbk (ISAT), PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN), PT Olympus Strategic Indonesia Tbk (NATO), dan PT Calculus Global Ventures Tbk (STAR).

Rupiah Tertekan, Sentuh Level Terlemah Rp17.896/US$

Mata uang Garuda dibuka melemah di posisi Rp17.860/US$ dan terus tertekan hingga menyentuh level terlemah harian Rp17.896/US$. Menjelang akhir perdagangan, rupiah memangkas pelemahan sebesar 46 poin dan berakhir di Rp17.850/US$.

Pelemahan rupiah berlangsung saat indeks dolar AS (DXY) menguat 0,05% ke posisi 100,481 pada pukul 15.00 WIB. Tekanan terhadap rupiah muncul bersamaan dengan dimulainya Rapat Dewan Gubernur (RDG) September Bank Indonesia.

Polling: 8 dari 11 Institusi Prediksi BI Tahan Bunga di 5,75%

Hasil polling CNBC Indonesia terhadap 11 institusi dan lembaga menunjukkan delapan responden memperkirakan BI mempertahankan suku bunga acuan di level 5,75%. Tiga responden lainnya memproyeksikan kenaikan 25 basis poin menjadi 6,00%.

Keputusan suku bunga akan diumumkan pada Rabu (23/9/2026), menjadi momen yang ditunggu pelaku pasar setelah dua hari berturut-turut IHSG melemah. Sebelumnya, indeks berakhir di level 6.384,73 pada Senin.

Pasar Obligasi Relatif Stabil

Di tengah tekanan di pasar saham dan valuta asing, pasar obligasi justru bergerak tenang. Imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun ditutup tidak berubah di level 7,120%.

Dengan imbal hasil yang stagnan, harga SBN tenor tersebut juga relatif stabil. Kondisi ini menunjukkan investor obligasi cenderung menahan posisi sambil menunggu hasil RDG BI.

Faktor Eksternal Jadi Perhatian Pasar

Selain keputusan BI, pelaku pasar juga mencermati perkembangan konflik di Timur Tengah dan pergerakan harga minyak dunia. Kedua faktor ini berpotensi mempengaruhi sentimen risiko global dan aliran dana ke pasar emerging market, termasuk Indonesia.

Bursa Wall Street sendiri berakhir beragam pada perdagangan sebelumnya, memberikan sinyal campuran bagi pasar Asia. IHSG dibuka di level 6.392,34 dan sempat menguat hingga 6.423,84 sebelum berbalik turun menembus level 6.300 dan menyentuh titik terendah harian di 6.258,44.

Indeks sempat pulih ke sekitar level 6.330 pada pertengahan perdagangan, namun tekanan jual kembali muncul menjelang penutupan. IHSG akhirnya berakhir hanya 18,60 poin di atas posisi terendah hariannya.

Reporter: Fajar