IHSG Masuk Oktober Usai Terkoreksi 6,96% di September, Ini Rekam Jejaknya
AURANUSANTARA.COM — Indeks Harga Saham Gabungan menutup September di level 6.071,14 setelah melemah 6,96 persen, membalik rebound dua bulan sebelumnya. Meski begitu, data Bursa Efek Indonesia menunjukkan Oktober secara historis lebih sering menghadirkan kenaikan bagi IHSG.
Bursa Efek Indonesia mencatat IHSG menguat pada delapan dari sepuluh Oktober selama periode 2016-2025. Rata-rata kinerja indeks pada bulan tersebut mencapai 1,16 persen, dengan kenaikan terbesar terjadi pada Oktober 2020 sebesar 5,30 persen dan Oktober 2021 sebesar 4,84 persen.
Pola musiman itu menjadi salah satu acuan pelaku pasar memasuki bulan keempat kuartal, setelah September berakhir dengan tekanan jual yang cukup dalam. Koreksi 6,96 persen sepanjang bulan lalu memangkas sebagian besar penguatan yang sempat terbentuk pada dua bulan sebelumnya.
Delapan dari Sepuluh Oktober Ditutup Menguat
Rekam jejak sepuluh tahun terakhir menunjukkan Oktober bukan bulan yang mudah ditebak, tetapi cenderung berpihak pada kenaikan. Dari sepuluh periode yang tercatat, hanya dua kali IHSG menutup Oktober di zona merah.
Dua Oktober terbaik dalam satu dekade terakhir terjadi berurutan pada 2020 dan 2021, ketika indeks masing-masing melesat 5,30 persen dan 4,84 persen. Kedua periode itu bertepatan dengan fase pemulihan pasar setelah guncangan pandemi dan berlanjutnya aliran dana asing ke aset berisiko.
Rata-rata 1,16 persen memang tidak besar, namun konsistensi delapan kemenangan dari sepuluh kesempatan membuat Oktober kerap disebut sebagai bulan hijau bagi IHSG. Angka itu juga lebih baik dibanding rata-rata kinerja bulanan indeks dalam periode yang sama.
September Berakhir Merah, Rebound Dua Bulan Terhapus
Tekanan sepanjang September membuat IHSG turun 6,96 persen ke 6.071,14. Level penutupan itu membalik penguatan yang sempat dibukukan pada dua bulan sebelumnya, sehingga posisi indeks kembali mendekati titik terendah kuartal ketiga.
Pelemahan tersebut terjadi di tengah arus keluar dana asing dan ketidakpastian arah kebijakan suku bunga global. Pelaku pasar domestik juga menahan posisi menjelang rilis data ekonomi dan agenda korporasi pada kuartal keempat.
Koreksi dalam membuat basis valuasi sejumlah saham berkapitalisasi besar kembali menarik. Beberapa analis menyebut level 6.000 menjadi area support psikologis yang akan diuji pada sesi-sesi awal Oktober.
Pola Musiman Bukan Jaminan
Catatan historis memang memberi sinyal positif, tetapi pola musiman tidak berdiri sendiri. Kinerja Oktober sangat bergantung pada sentimen global, arah suku bunga, dan arus modal asing yang masuk ke pasar saham domestik.
Dua Oktober yang berakhir merah dalam sepuluh tahun terakhir cukup menjadi pengingat bahwa pola ini bukan jaminan. Faktor eksternal seperti gejolak pasar keuangan global dan pergerakan harga komoditas bisa dengan cepat mengubah arah indeks.
Bagi investor, rekam jejak Oktober lebih tepat dibaca sebagai konteks, bukan dasar tunggal pengambilan keputusan. Kombinasi data fundamental emiten, arah kebijakan moneter, dan arus net buy asing tetap menjadi penentu utama arah IHSG hingga akhir tahun.