Laba Bersih CBDK Capai Rp1,82 Triliun hingga September, Naik 30%

Ilustrasi: Presiden Direktur CBDK Steven Kusumo dalam keterangan di keterbukaan informasi BEI, Kamis (29/10/2026).
Penulis: Sutomo
Jumat, 30 Oktober 2026 | 06:02:01 WIB

AURANUSANTARA.COM — PT Bangun Kosambi Sukses Tbk (CBDK) membukukan laba bersih Rp1,82 triliun hingga September 2026, tumbuh 30% dari Rp1,4 triliun pada periode sama tahun lalu. Kenaikan laba ditopang pendapatan yang naik 11% menjadi Rp2,56 triliun, dengan serah terima kaveling tanah komersial di CBD PIK2 sebagai motor utama.

Pendapatan CBDK sepanjang Januari–September 2026 mencapai Rp2,56 triliun, naik 11% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Presiden Direktur CBDK Steven Kusumo menyebut kinerja itu ditopang peningkatan serah terima kaveling tanah komersial di kawasan Central Business District (CBD) PIK2.

Segmen tersebut menyumbang sekitar 80% dari total pendapatan perseroan. Serah terima kaveling tercatat melonjak 67% dibandingkan periode yang sama tahun lalu, menjadikannya kontributor terbesar bagi pertumbuhan top line CBDK.

Serah Terima Kaveling Jadi Penopang Utama Pendapatan

Dari sisi komposisi, ketergantungan pendapatan pada segmen tanah komersial PIK2 terlihat jelas. Delapan dari sepuluh rupiah pendapatan CBDK berasal dari penyerahan kaveling di kawasan tersebut, sementara segmen lain memberi kontribusi lebih kecil.

Lonjakan serah terima 67% itu yang membuat pendapatan perseroan tetap tumbuh dua digit, meski kenaikannya hanya 11%. Artinya, harga jual rata-rata per kaveling yang diserahkan cenderung lebih rendah dibanding periode sebelumnya, atau ada pergeseran bauran produk yang dijual.

Di level laba, pertumbuhan 30% melampaui kenaikan pendapatan. Margin bersih CBDK membaik, dari sekitar 60% pada periode yang sama tahun lalu menjadi sekitar 71% dari pendapatan. Efisiensi biaya dan komposisi pendapatan yang bergeser ke segmen bermargin tinggi menjadi penjelasnya.

Manajemen Sebut Industri Belum Pulih Sepenuhnya

Steven menilai capaian sembilan bulan pertama 2026 tetap terjaga di tengah kondisi sektor properti yang belum normal. "Pencapaian CBDK sampai dengan September 2026 mencerminkan kemampuan perseroan dalam menjaga pertumbuhan kinerja di tengah dinamika industri yang masih belum sepenuhnya pulih," ujar Steven dalam keterangan di keterbukaan informasi BEI, Kamis (29/10/2026).

Pernyataan itu memberi konteks penting bagi investor. Sektor properti nasional masih menghadapi tekanan daya beli dan suku bunga, sehingga pertumbuhan laba 30% menjadi sinyal tersendiri bagi emiten yang menyasar segmen komersial.

Apa Artinya bagi Pemegang Saham CBDK

Bagi investor, laba bersih Rp1,82 triliun ini menjadi indikator utama karena menentukan besaran laba per saham yang menjadi dasar pembagian dividen. Dengan pertumbuhan 30%, ruang emiten untuk membagikan dividen lebih besar, tergantung kebijakan RUPS dan kebutuhan belanja modal perseroan.

Yang perlu dicermati, konsentrasi pendapatan pada satu kawasan dan satu segmen membuat kinerja CBDK rentan terhadap perubahan permintaan tanah komersial di PIK2. Perlambatan serah terima di kuartal IV akan langsung memukul pendapatan tahunan.

Pasar juga akan menunggu realisasi serah terima hingga akhir 2026. Jika laju 67% bertahan di kuartal terakhir, pendapatan full year berpotensi melampaui capaian tahun lalu dengan margin yang lebih tebal.

Reporter: Sutomo