PTBA Pangkas Separuh Anak Usaha Hingga 2028, Laba Melonjak 218%

PTBA merampingkan jumlah anak usaha dari 20 menjadi 19 entitas setelah merger dua anak perusahaannya pada 30 Juni 2026.
Penulis: Ragil
Selasa, 08 September 2026 | 06:42:32 WIB

AURANUSANTARA.COM — PT Bukit Asam Tbk (PTBA) tengah menjalani diet korporasi. Dari semula memiliki 20 entitas anak, perusahaan pelat merah itu kini mengantongi 19 anak usaha setelah dua di antaranya resmi merger pada 30 Juni 2026. Ke depan, jumlah itu bakal dipangkas lagi hingga tersisa sekitar separuhnya.

Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko PTBA, Una Lindasari, mengungkapkan perampingan tahap awal telah dilakukan melalui penggabungan PT Bukit Energi Servis Terpadu (BEST) dan PT Bukit Energi Investama (BEI). Dua entitas ini kini melebur menjadi satu badan usaha.

"PTBA saat ini memiliki 19 anak perusahaan, sebelumnya 20, dan kami baru selesai melakukan merger antara dua anak perusahaan, yaitu BEI dan BEST," kata Una dalam paparan publik, Selasa (8/9/2026).

Mengapa PTBA Merampingkan Anak Usaha?

Restrukturisasi ini bukan tanpa sebab. PTBA mendapat mandat dari Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) untuk kembali ke akar bisnisnya. Perusahaan diminta fokus pada kompetensi inti, yakni bisnis batu bara dan seluruh aktivitas yang berkaitan dengan pertambangan komoditas tersebut.

"Ini sesuai arahan Danantara yang meminta PTBA untuk berfokus pada kompetensi intinya, yaitu bisnis batu bara, serta seluruh bisnis yang berkaitan dengan pertambangan batu bara," terang Una.

Dari 19 anak usaha yang tersisa, manajemen menargetkan separuhnya akan menjalani proses serupa secara bertahap. "Target kami mungkin separuh dari 19 ini akan dilakukan restrukturisasi bertahap sampai 1–2 tahun ke depan," ucapnya.

Laba Melonjak 218 Persen di Tengah Aksi Korporasi

Upaya perampingan ini berjalan beriringan dengan kinerja keuangan yang positif. Anggota Holding BUMN Pertambangan MIND ID ini membukukan pendapatan Rp 22,03 triliun pada semester I 2026, tumbuh 8 persen secara tahunan. Laba bersihnya pun melesat 218 persen menjadi Rp 2,65 triliun.

Direktur Utama PTBA, Bambang Ismawan, menyebut capaian ini ditopang pemulihan operasional kuartal II, penguatan volume ekspor, dan perbaikan harga jual rata-rata batu bara. "Momentum penguatan harga batu bara global kami manfaatkan melalui strategi penjualan yang adaptif, disertai program efisiensi untuk menjaga disiplin biaya," ujarnya.

Produksi 19,45 Juta Ton, Ekspor Tumbuh 5 Persen

Dari sisi operasional, PTBA memproduksi batu bara sebanyak 19,45 juta ton sepanjang Januari–Juni 2026. Adapun total volume penjualan mencapai 21,10 juta ton, dengan porsi domestik sekitar 51 persen atau setara 10,77 juta ton.

Penjualan ekspor tercatat 10,33 juta ton, naik 5 persen dibanding periode sama tahun lalu. Vietnam, Bangladesh, Kamboja, India, dan Thailand menjadi pasar tujuan utama. Tren penguatan harga komoditas ikut mendongkrak pendapatan—Newcastle Index menguat 25 persen dan ICI-3 naik 15 persen secara tahunan, mendorong kenaikan harga jual rata-rata PTBA sebesar 10 persen.

Dengan fundamental yang solid dan struktur usaha yang bakal lebih ramping, PTBA menyiapkan pijakan untuk pertumbuhan jangka panjang di tengah siklus harga batu bara yang masih fluktuatif.

Reporter: Ragil