Hilirisasi Nikel Ubah Peta Ekonomi, Investasi Logam Tembus US$14 Miliar
AURANUSANTARA.COM — Investasi asing di sektor industri logam dasar Indonesia melesat dari di bawah US$2 miliar pada 2010 menjadi US$14 miliar, seiring derasnya hilirisasi mineral yang mengubah struktur ekonomi daerah penghasil tambang. Lompatan ini menjadikan Indonesia rujukan negara-negara pemasok mineral lain yang ingin meniru strategi pengolahan sumber daya alam di dalam negeri. Bagi daerah sekitar tambang, dampaknya terasa lewat pergeseran dari ekonomi primer ke industri pengolahan.
Industrialisasi berbasis mineral menempatkan Indonesia pada posisi yang jarang dialami negara berkembang lain. Mohammad Faisal, Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, menilai perubahan ini berlangsung jauh lebih cepat dari perkiraan banyak pihak. Selama puluhan tahun Indonesia dikenal hanya sebagai pemasok bahan mentah, tanpa pengolahan berarti.
Data yang dihimpun CORE Indonesia menunjukkan pergeseran itu. Pada 2010, Penanaman Modal Asing (PMA) untuk sektor Industri Logam Dasar, Barang Logam, Bukan Mesin dan Peralatannya masih di bawah US$2 miliar. Sektor pertambangan, industri kertas dan percetakan, serta transportasi, gudang dan telekomunikasi justru mendominasi saat itu.
Investasi Logam Melampaui Sektor Lain
Titik balik terjadi pada 2019. Sejak tahun itu, PMA di sektor industri logam dasar terus tumbuh dan meninggalkan sektor-sektor lain. Nilainya kini menembus US$14 miliar, sementara tiga sektor pesaingnya bergerak naik turun dan tidak pernah melewati US$8 miliar.
Pergeseran ini tidak lepas dari kebijakan hilirisasi yang memaksa pengolahan komoditas di dalam negeri. Wilayah sekitar tambang berubah menjadi kantung-kantung pengolahan, dan struktur ekonomi daerah yang sebelumnya bertumpu pada sektor primer mulai bergeser ke industri.
Filipina hingga Afrika Ingin Meniru
Kecepatan industrialisasi Indonesia membuat negara lain melirik. Filipina, pemasok nikel terbesar kedua dunia setelah Indonesia, mengakui belum mampu menandingi apa yang terjadi di dalam negeri.
"Filipina tuh sebetulnya ingin mengikuti langkah Indonesia, pathway industrialisasi, hilirisasi Indonesia. Tapi mereka enggak bisa. Dia (pelaku usaha Filipina) bilang bahwa Indonesia tuh terlalu besar dan sudah lebih duluan advanced membangun (ekosistem) industri ini," kata Faisal di sela sosialisasi MediaMIND 2026, Senin (14/9).
Negara-negara Afrika disebut Faisal kerap bertanya langsung soal kebijakan yang diterapkan Indonesia, bahkan ingin menyalinnya mentah-mentah. "Setiap kali mereka (negara-negara Afrika) bertanya kebijakan apa yang dilakukan Indonesia, ingin langsung copy paste gitu, banyak negara-negara penghasil mineral itu yang memang ingin mengikuti langkah Indonesia," tuturnya.
MIND ID Perkuat Ekosistem Tambang
Momentum hilirisasi semakin kuat setelah MIND ID diperkuat sebagai holding tambang. Pada Juli 2024, PT Vale Indonesia Tbk (INCO) menyusul PT Freeport Indonesia yang lebih dulu bergabung pada 2018.
Penguasaan atas nikel, tembaga, emas, dan produk turunannya dinilai mampu menopang target pemerintah untuk memperkuat posisi Indonesia dalam mengatur pasokan serta harga komoditas mineral utama. Ujungnya, penerimaan negara ikut terjaga.
Kebutuhan teknologi di berbagai sektor ke depan juga bergantung pada mineral yang tersedia di Indonesia. Faisal menyebut industri bernilai tambah tinggi seperti baterai semestinya bisa berjalan mulus, meski selama ini dorongan baru datang dari smelter di hilir.
Tantangan ICOR dan Kualitas Output
Hilirisasi sudah menunjukkan indikator positif. Selain lonjakan investasi, pertumbuhan industri manufaktur dalam beberapa kuartal terakhir lebih tinggi dibanding pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB). Tanda pergeseran dari de-industrialisasi menuju re-industrialisasi mulai terlihat.
Namun Faisal mengingatkan proses ini masih tahap awal dan perlu diuji konsistensinya. Tantangan utama adalah tingginya Incremental Capital Output Ratio (ICOR), indikator yang mengukur seberapa efektif investasi menghasilkan output.
"Once kita bisa mengatasi masalah itu, artinya investasi dikeluarkan, output-nya bisa lebih tinggi. Tapi bukan cuma output, selalu saya bilang kualitasnya juga," kata Faisal.
Peningkatan investasi dituntut mampu menciptakan lapangan kerja formal dan memperbaiki kualitas produk, bukan sekadar menambah volume. Selama puluhan tahun Indonesia nyaman menjadi penghasil bahan baku, dan kini perubahan itu berlangsung hanya dalam hitungan tahun, bukan dekade.