Inflasi Oktober 2026 Melandai ke 3,23%, Harga Cabai dan Beras Masih Jadi Tekanan
AURANUSANTARA.COM — Badan Pusat Statistik mencatat inflasi Oktober 2026 sebesar 0,22% secara bulanan, lebih rendah dari 0,30% pada September 2026. Secara tahunan, inflasi melandai ke 3,23% dari 3,28% bulan sebelumnya. Meski demikian, kenaikan harga cabai, beras, dan daging ayam berpotensi kembali menekan inflasi jelang Natal dan tahun baru.
Penurunan laju inflasi bulanan menandakan tekanan harga secara umum mulai mereda. Namun, BPS mencatat kelompok pangan masih menjadi penyumbang utama inflasi, dengan cabai, beras, dan daging ayam sebagai komoditas yang harganya naik paling signifikan.
Harga Pangan Masih Jadi Batu Sandungan
Komoditas pangan strategis belum menunjukkan pelemahan harga yang berarti. Kenaikan harga cabai, beras, dan daging ayam disebut berpotensi kembali mengerek inflasi menjelang periode Natal dan tahun baru.
Pola musiman akhir tahun biasanya mendorong permintaan pangan meningkat. Jika pasokan tidak cukup, harga komoditas tersebut bisa kembali melonjak dan menahan laju penurunan inflasi.
Inflasi Tahunan Turun Tipis ke 3,23%
Secara tahunan, inflasi Oktober 2026 sebesar 3,23% lebih rendah dari 3,28% pada September 2026. Penurunan ini menunjukkan laju kenaikan harga secara umum melambat, meski belum signifikan.
Angka inflasi tahunan tersebut masih berada dalam sasaran Bank Indonesia. Namun, pelaku pasar perlu mencermati apakah tren penurunan ini berlanjut hingga akhir tahun atau justru berbalik akibat tekanan harga pangan.
Apa Artinya bagi Investor dan Pelaku Bisnis
Bagi investor, inflasi yang melandai memberi ruang bagi Bank Indonesia untuk mempertahankan atau bahkan menurunkan suku bunga acuan. Suku bunga yang stabil cenderung positif bagi pasar obligasi dan saham sektor konsumsi.
Pelaku bisnis di sektor ritel dan makanan-minuman perlu mengantisipasi kenaikan biaya bahan baku menjelang akhir tahun. Kenaikan harga cabai, beras, dan daging ayam dapat menekan margin jika tidak diimbangi penyesuaian harga jual.
Pemerintah dan Bank Indonesia masih memiliki pekerjaan rumah untuk menjaga pasokan pangan stabil. Tanpa intervensi, tekanan harga pangan berpotensi mengganggu capaian inflasi akhir tahun.