AURANUSANTARA.COM — Surplus neraca perdagangan Indonesia pada September 2026 tercatat US$ 3,36 miliar, anjlok 68,4% dibanding periode yang sama tahun lalu. Lonjakan impor yang melampaui pertumbuhan ekspor menjadi penyebab utama menipisnya bantalan surplus. Penurunan ini mempersempit ruang fiskal pemerintah di tengah tekanan eksternal yang belum mereda.
Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan surplus neraca perdagangan September 2026 mencapai US$ 3,36 miliar. Angka itu turun dari US$ 3,55 miliar pada Agustus 2026, sekaligus menandai pelemahan tajam secara tahunan.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono menyebut surplus bulan lalu ditopang perdagangan nonmigas sebesar US$ 5,67 miliar. Sementara itu, perdagangan migas mencatat defisit US$ 2,31 miliar.
Impor Tumbuh Lebih Cepat dari Ekspor
Penyusutan surplus terjadi karena laju impor melampaui pertumbuhan ekspor. BPS mencatat lonjakan impor yang jauh lebih cepat dibanding kenaikan ekspor, sehingga selisih keduanya menyempit.
Tekanan datang dari sisi migas yang tetap defisit. Kebutuhan bahan bakar dan produk olahan minyak dalam negeri belum tertutup oleh produksi domestik, membuat pos migas konsisten menjadi beban neraca.
Sisi nonmigas masih mencatat surplus, tetapi tidak cukup menutup defisit migas dan pelemahan ekspor secara keseluruhan. Alhasil, bantalan surplus yang selama ini menopang neraca berjalan kian menipis.
Surplus Anjlok 68,4% Secara Tahunan
Secara tahunan, surplus September 2026 merosot 68,4%. Penurunan sebesar itu menunjukkan pelemahan yang signifikan, bukan sekadar fluktuasi bulanan biasa.
Perbandingan bulanan juga mengonfirmasi tren penurunan. Dari US$ 3,55 miliar pada Agustus menjadi US$ 3,36 miliar pada September, surplus kehilangan sekitar US$ 190 juta dalam satu bulan.
Angka ini menjadi sinyal bahwa surplus perdagangan yang selama beberapa tahun menjadi penopang utama neraca pembayaran mulai kehilangan tenaga. Jika tren impor berlanjut, surplus bisa terus menipis pada bulan-bulan berikutnya.
Apa Artinya bagi Rupiah dan Pasar
Surplus perdagangan berperan penting sebagai sumber devisa dan penopang stabilitas rupiah. Menipisnya surplus mengurangi pasokan valuta asing dari jalur ekspor-impor.
Bagi investor, pelemahan surplus perlu dicermati karena berkaitan langsung dengan neraca berjalan dan persepsi risiko terhadap rupiah. Arus devisa yang lebih kecil membuat bank sentral punya ruang lebih terbatas untuk menstabilkan kurs.
Pelaku usaha yang bergantung pada bahan baku impor juga menghadapi tekanan ganda. Di satu sisi biaya impor naik, di sisi lain daya saing ekspor belum tentu membaik karena pertumbuhan ekspor lebih lambat dari impor.
Defisit Migas Masih Jadi Titik Lemah
Defisit perdagangan migas sebesar US$ 2,31 miliar pada September 2026 menegaskan persoalan struktural yang belum terselesaikan. Ketergantungan pada impor bahan bakar membuat pos ini sulit berbalik surplus dalam waktu dekat.
Surplus nonmigas US$ 5,67 miliar sebenarnya masih cukup besar. Namun, setelah dikurangi defisit migas, surplus bersih hanya tersisa US$ 3,36 miliar.
Artinya, memperbaiki neraca perdagangan tidak cukup hanya dengan mendorong ekspor nonmigas. Persoalan defisit migas juga perlu ditangani agar surplus tidak terus tergerus.
Tekanan ke Depan
BPS belum memerinci proyeksi bulan berikutnya. Namun, arah data September menunjukkan surplus masih menghadapi tekanan selama impor tumbuh lebih cepat dari ekspor.
Pemerintah dan bank sentral perlu mencermati perkembangan ini karena surplus perdagangan selama ini menjadi salah satu penyangga utama stabilitas eksternal. Pelemahan lebih lanjut akan memperbesar tekanan pada rupiah dan neraca pembayaran.