Pencarian

Harga Emas Ambles 2% Sepekan ke US$4.286, Imbal Hasil Obligasi AS Jadi Pemicu

Sabtu, 26 September 2026 • 08:21:01 WIB
Harga Emas Ambles 2% Sepekan ke US$4.286, Imbal Hasil Obligasi AS Jadi Pemicu
Harga emas spot ditutup di US$4.286,25 per troy ons pada perdagangan Jumat.

AURANUSANTARA.COM — Harga emas spot ditutup di US$4.286,25 per troy ons pada perdagangan Jumat, naik tipis 0,19% dalam sehari tetapi ambles 2,07% sepanjang pekan. Lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat dan sinyal kebijakan agresif The Fed memangkas daya tarik logam mulia yang tidak memberi imbal hasil. Pelemahan ini menjadi penurunan mingguan keempat dalam lima pekan terakhir.

Harga emas dunia masih tertekan meski sempat menguat tipis di sesi penutupan. Mengutip data pasar, posisi emas spot berada di US$4.286,25 per troy ons, sementara kinerja sepekan tercatat minus 2,07%. Tekanan datang dari kombinasi inflasi yang tinggi, ekspektasi suku bunga yang lebih ketat, dan imbal hasil obligasi pemerintah AS yang terus menanjak.

Kepala analis pasar Bybit, Han Tan, menilai imbal hasil obligasi yang tak henti naik menjadi penyebab utama koreksi emas dalam beberapa pekan terakhir.

"Lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah yang tak henti-hentinya telah membuat harga emas berada di jalur penurunan mingguan keempat dalam lima minggu terakhir," kata Han Tan, dikutip dari Reuters.

Imbal Hasil Obligasi AS Naik, Biaya Peluang Emas Ikut Meningkat

Ketika imbal hasil obligasi pemerintah AS naik, biaya peluang untuk memegang emas batangan ikut meningkat. Sebab, emas tidak menghasilkan bunga atau dividen, sehingga investor cenderung beralih ke aset yang memberi imbal hasil.

Han Tan menambahkan, logam mulia menghadapi hambatan dari berbagai sisi sekaligus.

"Logam mulia yang tidak memberikan imbal hasil ini telah berjuang melawan berbagai macam hambatan, termasuk risiko inflasi yang terus meningkat, imbal hasil obligasi pemerintah yang tak terkendali, dan kebijakan The Fed yang agresif," tambah Tan.

The Fed Kerek Suku Bunga, Pasar Lihat Peluang Kenaikan Lanjutan

Federal Reserve menaikkan suku bunga sebesar seperempat poin pekan lalu, kenaikan pertama dalam tiga tahun. Bank sentral AS itu juga mengisyaratkan kenaikan lebih lanjut di masa mendatang.

Berdasarkan FedWatch Tool dari CME, pelaku pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada Oktober sebesar 64% dan pada Desember sebesar 93%. Ekspektasi itu memperkuat posisi dolar AS dan menekan harga emas.

Sejak dimulainya perang AS-Israel di Iran, kenaikan harga energi terus memicu kekhawatiran inflasi. Kondisi itu memaksa bank sentral mengadopsi kerangka kebijakan lebih ketat guna menjaga tekanan harga tetap terkendali.

Emas Sudah Turun 19% dari Puncak 27 Februari

Emas secara tradisional dianggap sebagai lindung nilai inflasi dan aset aman saat ketidakpastian geopolitik. Namun, suku bunga tinggi mengurangi daya tariknya karena investor berpindah ke aset yang menghasilkan imbal hasil.

Harga emas batangan telah turun sekitar 19% dari level tertingginya pada sesi perdagangan 27 Februari. Koreksi tajam ini menunjukkan posisi emas sedang diuji oleh kombinasi kebijakan moneter ketat dan pergeseran preferensi aset global.

Negosiasi Selat Hormuz dan Harga Minyak Jadi Faktor Berikutnya

Di sisi geopolitik, para negosiator di New York sedang menjajaki jalur bertahap untuk mengakhiri perang. Skema itu akan melibatkan Teheran membuka kembali Selat Hormuz dan Washington mencabut blokade ekonomi terhadap Iran, menurut beberapa sumber.

Harga minyak turun lebih dari 1% karena sebagian kekhawatiran tentang pasokan mereda. Pergerakan ini menjadi sinyal yang perlu dicermati pelaku pasar emas, sebab harga energi yang melandai bisa mengurangi tekanan inflasi dan pada akhirnya memengaruhi arah kebijakan suku bunga.

Bagi investor, pekan-pekan mendatang akan ditentukan oleh data inflasi AS dan nada komunikasi pejabat The Fed. Selama imbal hasil obligasi masih tinggi, ruang kenaikan emas cenderung terbatas meski permintaan aset lindung nilai tetap ada.

Sumber: cnbcindonesia.com

Follow auranusantara.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks