Pencarian

Muara Enim Siapkan Lahan Tebu, Jagung, Singkong untuk Bioetanol

Senin, 28 September 2026 • 06:02:01 WIB
Muara Enim Siapkan Lahan Tebu, Jagung, Singkong untuk Bioetanol
Pemerintah Kabupaten Muara Enim menyiapkan lahan, peningkatan kapasitas petani, dan percepatan perizinan investor untuk memasok bahan baku bioetanol nasional.

AURANUSANTARA.COM — Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan, menyiapkan lahan pertanian, peningkatan kapasitas petani, dan percepatan perizinan investor untuk memasok bahan baku industri bioetanol nasional. Pelaksana Tugas Bupati Muara Enim Sumarni menyebut daerahnya punya potensi tebu, jagung, dan singkong, tetapi pasokan harus berkelanjutan agar pabrik tetap beroperasi. Langkah ini menempatkan Muara Enim sebagai calon pemasok energi terbarukan dari sektor pertanian.

Paragraf pembuka: Pemerintah Kabupaten Muara Enim menyiapkan tiga langkah utama untuk masuk ke rantai pasok bioetanol nasional. Langkah itu mencakup penyediaan lahan, peningkatan produktivitas petani, dan percepatan perizinan investasi. Pelaksana Tugas Bupati Muara Enim Sumarni mengatakan pemerintah pusat menekankan pentingnya peran daerah dalam menyediakan bahan baku, memfasilitasi investasi, dan menyiapkan regulasi pendukung.

Potensi Lahan yang Sudah Terdata

Data pertanian daerah yang disampaikan Sumarni menunjukkan Muara Enim sudah memiliki basis produksi untuk tiga komoditas utama bioetanol. Lahan jagung tercatat seluas 53 hektare dengan realisasi produksi 2.828 ton.

Produksi singkong mencapai 11.953 ton per tahun dari lahan seluas 351 hektare. Pengembangan tebu mulai dirintis di Desa Talang Taling, Kecamatan Gelumbang, dengan luas panen lima hektare dan produksi diperkirakan 500 ton.

Angka-angka itu menjadi dasar bagi pemerintah daerah untuk mengidentifikasi lahan yang bisa dialokasikan ke penanaman bahan baku bioetanol. Lahan kritis yang tidak produktif ikut dipetakan melalui Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW).

Intervensi Hulu untuk Petani

Pemkab Muara Enim tidak hanya menyiapkan lahan. Petani akan mendapat pelatihan teknik budi daya, bantuan bibit unggul, dan penyediaan pupuk berkualitas.

Sumarni menegaskan intervensi di sisi hulu ini menentukan kualitas panen. "Melalui intervensi hulu ini, kualitas hasil panen para petani diharapkan mampu memenuhi standar industri bioetanol secara konsisten dan berkelanjutan ke depannya," kata Sumarni dalam keterangan tertulis dikutip dari Antara, Minggu, 27 September.

Bagi petani, kepastian pasar menjadi daya tarik utama. Jika pabrik bioetanol berdiri di daerah itu, hasil panen tebu, jagung, dan singkong tidak lagi bergantung pada tengkulak atau pasar lokal yang harganya berfluktuasi.

Perizinan Investor Dipangkas

Di sisi pengolahan, Pemkab Muara Enim berkomitmen mempermudah dan mempercepat perizinan bagi investor yang berminat membangun pabrik bioetanol. Percepatan ini dinilai krusial karena industri bioetanol butuh pasokan bahan baku dalam volume besar dan berkelanjutan.

Bioetanol merupakan bahan bakar berbasis alkohol yang dihasilkan melalui pengolahan bahan pertanian, antara lain tebu, jagung, dan singkong. Produk ini dipakai sebagai campuran bahan bakar kendaraan dan menjadi salah satu jalur energi terbarukan yang dikembangkan pemerintah.

Sumarni berharap kerja sama pemerintah pusat dan daerah mempercepat pengembangan industri tersebut. "Dengan sinergi yang kuat antara pemerintah pusat dan daerah, Muara Enim optimistis dapat bertransformasi menjadi salah satu lumbung energi terbarukan yang berkontribusi nyata bagi ketahanan nasional," ujarnya.

Penutup: Bagi Muara Enim, taruhannya bukan sekadar menambah luas tanam. Daerah ini ingin naik kelas dari penghasil komoditas mentah menjadi pemasok tetap industri energi terbarukan, dengan lahan, petani, dan investor sebagai tiga pilar yang harus jalan bersamaan.

Sumber: voi.id

Follow auranusantara.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks