AURANUSANTARA.COM — Realisasi investasi Indonesia sepanjang Semester I-2026 menembus Rp1.010 triliun, mendekati separuh target tahunan yang dipatok Rp2.041 triliun. Capaian itu menunjukkan minat investor terhadap Indonesia tetap terjaga meski dunia usaha menghadapi ketegangan geopolitik dan perubahan kebijakan perdagangan global. Pemerintah menilai posisi Indonesia justru semakin kuat sebagai alternatif tujuan investasi baru.
Pemerintah mencatat realisasi investasi Rp1.010 triliun pada paruh pertama 2026. Angka itu setara dengan 49,5% dari target tahunan Rp2.041 triliun, sebuah posisi yang memberi ruang bagi pemerintah untuk mempercepat pengembangan hilirisasi dan industri bernilai tambah tinggi.
Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Susiwijono Moegiarso menyampaikan capaian tersebut dalam diskusi panel pada acara BIG Downstream Insights 2026 di Jakarta, Selasa (6/10). Menurutnya, minat investor masih solid di tengah gejolak global.
Risiko Eksternal Mulai Mereda, tapi Belum Sepenuhnya Aman
Sejumlah indikator risiko eksternal menunjukkan perbaikan. Geopolitical Risk Index (GPR) tercatat menurun hingga Agustus 2026, sementara Trade Policy Uncertainty (TPU) mulai mereda setelah mencapai puncaknya pada April 2026.
Kendati demikian, pemerintah tetap mewaspadai gangguan rantai pasok global, fluktuasi harga komoditas, serta perubahan kondisi pasar dan sistem keuangan internasional. Ketiga faktor itu dinilai berpotensi menekan kinerja ekonomi nasional jika tidak diantisipasi.
Susiwijono menyoroti dampak konflik Selat Hormuz terhadap biaya logistik dan kepastian pasokan bahan baku. Menurutnya, gangguan di jalur pelayaran strategis itu dirasakan hampir semua negara, termasuk Indonesia.
"Saya hanya ingin menggarisbawahi bahwa konflik Selat Hormuz itu sangat berpengaruh ke semua negara. Khususnya kita, terutama selain menciptakan ketidakpastian dari sisi geopolitik global, juga pengaruh ke kenaikan harga. Logistic cost-nya naik semuanya. Yang paling penting sebenarnya masalah kepastian bahan baku," ujar Susiwijono.
Perang Dagang Justru Buka Peluang Investasi Baru
Perubahan lanskap perdagangan internasional dinilai bisa menjadi berkah bagi Indonesia. Ketika ketegangan tarif mendorong perusahaan global mencari alternatif lokasi produksi, Indonesia berpeluang masuk sebagai tujuan investasi baru.
Fundamental ekonomi yang relatif terjaga dan besarnya pasar domestik memperkuat posisi itu. Kombinasi keduanya menjadi modal untuk menarik investasi yang tidak hanya berorientasi pasar lokal, tetapi juga menjadikan Indonesia sebagai basis produksi dan bagian dari rantai pasok global.
Pemerintah juga memperluas akses pasar melalui berbagai skema kerja sama perdagangan. Indonesia telah memperkuat jaringan melalui Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA), Free Trade Agreement (FTA), serta bentuk kerja sama ekonomi lainnya. Perluasan akses pasar memberi peluang bagi industri nasional meningkatkan ekspor sekaligus menambah daya tarik bagi investor.
Insentif Fiskal Dievaluasi Imbas Global Minimum Tax 15%
Pemerintah tengah mengevaluasi berbagai skema insentif fiskal. Penyesuaian diperlukan karena lingkungan perpajakan internasional berubah, terutama dengan penerapan Global Minimum Tax sebesar 15%.
Kebijakan pajak global itu berpotensi memengaruhi efektivitas sejumlah insentif investasi, termasuk tax holiday. Pemerintah perlu memastikan desain insentif tetap kompetitif bagi investor, tetapi selaras dengan standar perpajakan internasional.
Dengan pendekatan tersebut, kebijakan fiskal diharapkan tetap menjadi instrumen untuk menarik investasi tanpa menimbulkan distorsi dalam sistem perpajakan.
Apa Artinya bagi Pelaku Usaha dan Investor
Capaian Rp1.010 triliun pada Semester I-2026 menjadi sinyal bahwa kepercayaan investor terhadap Indonesia belum surut. Bagi pelaku usaha, perluasan jaringan perjanjian dagang membuka peluang menjadikan Indonesia sebagai basis produksi untuk pasar domestik maupun internasional.
Ke depan, pemerintah akan terus mengembangkan ekosistem hilirisasi melalui peningkatan investasi, penyediaan insentif yang kompetitif, penguatan rantai pasok dalam negeri, serta pembukaan akses pasar yang lebih luas. Strategi itu diarahkan agar Indonesia tidak berhenti sebagai pemasok bahan mentah, tetapi mampu mengolah sumber daya alam menjadi produk bernilai ekonomi lebih tinggi.