Rupiah Melemah 30 Poin ke Rp17.774, Konflik AS-Iran dan Harga Minyak Menekan

Rupiah dibuka melemah 30 poin ke level Rp17.774 per dolar AS di pasar spot, Rabu (tanggal).
Penulis: Saiful
Rabu, 02 September 2026 | 11:33:31 WIB

AURANUSANTARA.COM — Kurs rupiah dibuka melemah di pasar spot dengan penurunan 30 poin dibandingkan posisi penutupan sebelumnya di level Rp17.744 per dolar AS. Tekanan utama datang dari konflik militer yang terus berlanjut antara Amerika Serikat dan Iran. Harga minyak mentah global ikut naik, membuat mata uang negara pengimpor seperti Indonesia makin tertekan.

"Rupiah pada perdagangan hari ini diperkirakan melemah di kisaran Rp17.750 - Rp17.820 dipengaruhi oleh global masih berlanjutnya kenaikan harga minyak seiring meningkatnya eskalasi konflik AS dan Iran," ujar analis Bank Woori Saudara, Rully Nova, di Jakarta, Rabu.

Serangan AS ke Iran, Empat Tewas dan Harga Minyak Naik

Kantor berita Sputnik melaporkan serangan AS ke lokasi acara pernikahan di Iran menewaskan empat orang dan melukai 50 lainnya. Kejadian ini memperdalam ketegangan geopolitik Timur Tengah. Harga minyak mentah merespons dengan kenaikan, mengerek biaya impor energi bagi Indonesia.

Kenaikan harga minyak secara langsung memberatkan rupiah karena kebutuhan dolar untuk pembelian energi semakin besar. Kondisi ini juga mendorong pelaku pasar memindahkan dana ke aset safe haven, yang memperkuat indeks dolar AS.

Ekspektasi The Fed Naik, Peluang Kenaikan Suku Bunga Menjadi 66%

Dari Amerika Serikat, sentimen datang dari proyeksi inflasi yang meningkat. Pelaku pasar kini menaikkan ekspektasi kenaikan suku bunga acuan The Fed pada September.

"Ekspektasi pelaku pasar terkait kenaikan suku bunga oleh The Fed per September meningkat menjadi 66 persen dari sebelumnya hanya 35 persen. Kenaikan bunga (diperkirakan) 25 bps menjadi 4 persen," kata Rully.

Apabila The Fed benar menaikkan bunga, selisih suku bunga antara dolar dan rupiah makin lebar. Arus modal asing berisiko kembali keluar dari pasar obligasi dan saham Indonesia.

Neraca Perdagangan Surplus 3,70 Miliar Dolar, Inflasi Meningkat

Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia surplus 3,70 miliar dolar AS pada Januari–Juli 2026. Surplus yang menyempit mengindikasikan impor yang lebih besar, sehingga permintaan dolar meningkat.

Inflasi bulanan Agustus 2026 tercatat 0,21 persen (month-to-month). Angka ini sedikit lebih tinggi dari bulan sebelumnya, menambah tekanan pada pergerakan rupiah.

Kombinasi kedua data tersebut memberi ruang terbatas bagi Bank Indonesia untuk melonggarkan kebijakan moneter dalam waktu dekat. Bank sentral kemungkinan tetap fokus menjaga stabilitas kurs di tengah gejolak eksternal.

Pelemahan rupiah otomatis berdampak pada importir dan perusahaan yang memiliki utang dalam dolar AS. Biaya bahan baku impor makin mahal, sementara investor asing yang menunggu kepastian kebijakan The Fed cenderung menahan diri masuk ke pasar dalam negeri.

Reporter: Saiful