BI Perluas Agunan Repo ke Obligasi Korporasi, Transaksi SMF Tembus Rp 1,25 Triliun

Gubernur BI Destry Damayanti dan Menteri Keuangan Suahasil Nazara meresmikan perluasan agunan repo ke obligasi korporasi di Jakarta, Kamis (1/10/2026).
Penulis: Fajar
Jumat, 02 Oktober 2026 | 07:01:31 WIB

AURANUSANTARA.COM — Bank Indonesia resmi memperluas jenis surat berharga yang bisa dijadikan agunan dalam operasi moneter dengan memasukkan obligasi dan sukuk korporasi berkualitas tinggi. Langkah ini ditempuh untuk memperkuat transmisi kebijakan moneter sekaligus mendorong pendalaman pasar keuangan domestik. Hingga 30 September 2026, transaksi repo operasi moneter menggunakan surat berharga PT Sarana Multigriya Finansial (SMF) sudah mencapai Rp 1,25 triliun.

Peresmian perluasan instrumen tersebut dilakukan Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti bersama Menteri Keuangan Suahasil Nazara di Jakarta, Kamis (1/10/2026). Hadir pula Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa OJK Hasan Fawzi, Ketua Umum Asosiasi Pasar Uang dan Pasar Valuta Asing Indonesia (Apuvindo) Ari Rizaldi, serta perwakilan perbankan.

Destry menjelaskan, kebijakan ini merupakan bagian dari strategi operasi moneter pro-market, yakni kebijakan yang terintegrasi dengan pengembangan Pasar Uang dan Pasar Valuta Asing (PUVA).

"Efektivitas kebijakan moneter sangat bergantung pada transmisi melalui pasar keuangan yang dalam, likuid, dan efisien," ujar Destry.

Obligasi Korporasi Kini Bisa Jadi Agunan Repo

Melalui operasi moneter pro-market, BI tidak hanya mengelola likuiditas, suku bunga, dan nilai tukar. Bank sentral juga mendorong aktivitas transaksi di pasar keuangan agar pembiayaan sektor riil semakin kuat.

Perluasan underlying ini diharapkan memperdalam pasar sekunder obligasi korporasi, memperkuat proses pembentukan harga (price discovery), serta mendukung pembiayaan sektor strategis seperti perumahan dan infrastruktur.

Dampak ke Pasar: Volume Transaksi SMF Melonjak 5 Kali Lipat

Implementasi perluasan underlying operasi moneter sudah dimulai secara bertahap sejak November 2025. Data BI mencatat sejumlah indikator pasar sekunder yang bergerak positif.

  • Total transaksi repo operasi moneter dengan surat berharga SMF mencapai Rp 1,25 triliun hingga 30 September 2026
  • Repo perdana menggunakan surat berharga PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) dilakukan 28 September 2026 senilai Rp 60 miliar
  • Rata-rata volume transaksi surat berharga SMF naik dari Rp 31,9 miliar per hari (Oktober 2025) menjadi Rp 179,9 miliar per hari (akhir Agustus 2026)
  • Kepemilikan bank terhadap obligasi SMF meningkat 18% dari Rp 8,69 triliun menjadi Rp 10,22 triliun

Kenaikan volume transaksi harian surat berharga SMF hampir enam kali lipat dalam sepuluh bulan. Angka ini menjadi sinyal awal bahwa likuiditas pasar sekunder obligasi korporasi mulai terbentuk.

Pemerintah Jaga Kredibilitas Kebijakan bagi Investor

Menteri Keuangan Suahasil Nazara menegaskan pemerintah akan terus menjaga stabilitas ekonomi dan meningkatkan kepercayaan investor terhadap pasar keuangan Indonesia.

"Kami di Kementerian Keuangan, bersama LPS dan Danantara selaku sovereign wealth fund, akan terus menjaga perekonomian Indonesia dan membangun kredibilitas kebijakan bagi seluruh investor, dimanapun mereka berada," kata Suahasil.

BI menyatakan akan terus memperkuat koordinasi dengan Kementerian Keuangan, OJK, dan pemangku kepentingan lain untuk mendukung implementasi operasi moneter pro-market.

Apa Artinya bagi Perbankan dan Penerbit Obligasi

Bagi perbankan, perluasan agunan repo ini menambah opsi dalam mengelola likuiditas jangka pendek tanpa harus melepas kepemilikan surat berharga. Bank bisa memakai obligasi korporasi berkualitas tinggi sebagai jaminan untuk memperoleh dana dari BI.

Bagi emiten penerbit obligasi dan sukuk korporasi, masuknya instrumen mereka ke daftar agunan operasi moneter berpotensi meningkatkan permintaan di pasar sekunder. Likuiditas yang lebih baik biasanya berdampak pada penurunan yield dan biaya penerbitan surat utang berikutnya.

Efek lanjutannya diharapkan terasa pada sektor perumahan dan infrastruktur yang selama ini bergantung pada pembiayaan jangka panjang. BI berharap fleksibilitas pengelolaan likuiditas perbankan meningkat dan aktivitas transaksi obligasi korporasi di pasar sekunder semakin aktif.

Reporter: Fajar