Hashim Dorong Mikroalga Jadi Bahan Bakar Pesawat, Andalkan CO2 Ladang Migas

Utusan Khusus Presiden Bidang Iklim dan Energi Hashim Djojohadikusumo berbicara dalam Investor Daily Summit 2026 di Jakarta, Rabu (7/10).
Penulis: Fajar
Sabtu, 10 Oktober 2026 | 06:02:37 WIB

AURANUSANTARA.COM — Utusan Khusus Presiden Bidang Iklim dan Energi Hashim Djojohadikusumo menilai mikroalga berpotensi dikembangkan menjadi bahan bakar pesawat. Indonesia disebut punya semua unsur yang dibutuhkan untuk produksinya, mulai dari cahaya matahari, lahan, tenaga kerja, hingga karbon dioksida. Hashim menyampaikan hal itu dalam Investor Daily Summit 2026 di Jakarta.

Hashim menyebut mikroalga sebagai salah satu perkembangan yang tengah ia pelajari untuk mendiversifikasi sumber energi penerbangan nasional. Menurutnya, Indonesia memiliki keunggulan komparatif yang tidak dimiliki banyak negara lain.

"Saya kira pada saat ini saya masih optimis. Ada beberapa perkembangan lain. Ini ada namanya microalgae. Ini saya pelajarin," ujar Hashim dalam Investor Daily Summit 2026 di Jakarta, Rabu (7/10).

Empat Unsur yang Dibutuhkan untuk Produksi Mikroalga

Hashim merinci setidaknya empat faktor utama yang membuat Indonesia layak mengembangkan mikroalga sebagai bahan bakar. Pertama, paparan cahaya matahari yang melimpah sepanjang tahun.

"Microalgae ini perlu beberapa unsur. Satu, cahaya matahari. Indonesia punya, banyak negara tidak punya cahaya matahari yang cukup," ujarnya.

Kedua, ketersediaan lahan untuk kolam atau tambak. Ketiga, tenaga kerja dalam jumlah besar. Keempat, pasokan karbon dioksida yang bisa dimanfaatkan dari ladang minyak dan gas di dalam negeri.

"Perlu tanah. Karena tanah untuk apa? Ini untuk kolam-kolam, tambak-tambak. Perlu banyak pekerja. Indonesia banyak, banyak negara kaya tidak punya pekerja," kata Hashim.

Soal CO2, Hashim menilai sejumlah ladang migas nasional mengandung karbon dioksida yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal. Gas tersebut bisa diinjeksi ke kolam berisi mikroalga dan dipadukan dengan paparan sinar matahari.

"Nah, ternyata karbon dioksida kalau diinjeksi, diisi ke dalam kolam-kolam di mana ada microalgae, disertai dengan cahaya matahari yang banyak Indonesia punya, dikerjakan, banyak pekerja Indonesia banyak, ini bisa berhasil," tuturnya.

Hashim Pilih Istilah Green Fuel, Bukan SAF

Hashim berhati-hati menyebut produk turunan mikroalga sebagai sustainable aviation fuel (SAF). Ia lebih memilih istilah green fuel atau blue fuel untuk menggambarkan bahan bakar yang dihasilkan dari mikroalga.

"Microalgae ini rupanya bisa menjadi sumber dari avtur. Ya, orang bilang sustainable aviation fuel. Saya berbeda, saya anggap ini green fuel atau blue fuel. Tapi belum tentu sustainable," katanya.

Pilihan istilah itu menunjukkan Hashim belum sepenuhnya menempatkan mikroalga setara dengan SAF yang memenuhi standar keberlanjutan internasional. SAF sendiri menjadi salah satu pilar dekarbonisasi industri penerbangan global yang terus didorong lembaga penerbangan sipil dunia.

Produk Sampingan: Pakan Ternak hingga Suplemen Protein

Selain avtur, pengembangan mikroalga berpotensi menghasilkan produk sampingan bernilai ekonomi. Hashim menyebut pakan ternak dan sumber protein sebagai dua di antaranya.

Ia juga menyinggung spirulina dan chlorella yang dapat dimanfaatkan sebagai suplemen protein. Hashim mengaku baru mengetahui potensi kedua komoditas itu sekitar enam bulan lalu.

"Yang ketiga yang namanya spirulina. Spirulina dan chlorella. Saya baru tahu ini enam bulan lalu. Saya baca, masuk Google. Itu apa? Ini adalah additive supplements protein," kata Hashim.

Menurut Hashim, produk tersebut berpotensi memenuhi kebutuhan protein dalam negeri. Jika dikembangkan serius, Indonesia bisa mengurangi ketergantungan pada protein impor.

Peluang dan Tantangan ke Depan

Rencana pengembangan mikroalga sebagai bahan bakar penerbangan masih berada di tahap kajian awal. Hashim belum memerinci skema investasi, mitra industri, maupun target waktu produksi komersial.

Untuk menjadi avtur yang layak pakai, mikroalga perlu melewati sejumlah tahap, mulai dari kultivasi skala pilot, ekstraksi lipid, hingga pengujian kualitas bahan bakar sesuai standar penerbangan. Proses itu umumnya memerlukan investasi besar dan waktu riset panjang.

Meski begitu, arah kebijakan ini sejalan dengan upaya pemerintah mendorong sumber energi alternatif di tengah tekanan global untuk menurunkan emisi karbon. Sektor penerbangan menjadi salah satu yang paling sulit didekarbonisasi karena keterbatasan opsi bahan bakar pengganti.

Bagi pelaku usaha energi dan agribisnis, sinyal dari Hashim membuka peluang eksplorasi baru. Kombinasi lahan tambak, tenaga kerja, dan pasokan CO2 dari ladang migas bisa menjadi rantai nilai tersendiri jika skema bisnisnya matang.

Reporter: Fajar