Rupiah Menguat Tipis 0,03% ke Rp 18.135 per Dolar AS, Bergerak Terbatas

Rupiah dibuka menguat tipis 0,03% ke Rp 18.135 per dolar AS pada Selasa (3/11/2026).
Penulis: Saiful
Rabu, 04 November 2026 | 06:21:32 WIB

AURANUSANTARA.COM — Nilai tukar rupiah dibuka menguat tipis 0,03% ke level Rp 18.135 per dolar Amerika Serikat pada perdagangan Selasa (3/11/2026), dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp 18.140. Penguatan terbatas terjadi meski indeks dolar AS justru naik 0,04% ke 101,68, menandakan tekanan eksternal masih membayangi pergerakan mata uang Garuda.

Analis pasar uang Lukman Leong menilai rupiah masih berpotensi bergerak fluktuatif dalam rentang sempit. Peluang penguatan dinilai belum terlalu besar di tengah ketidakpastian pasar global yang belum mereda.

Meski menguat, rupiah sebenarnya masih menghadapi tekanan dari penguatan dolar AS. Indeks dolar yang naik ke 101,68 menjadi sinyal bahwa mata uang Negeri Paman Sam masih perkasa terhadap sebagian besar mata uang dunia.

Yen dan Won Ikut Menguat, Yuan China Justru Melemah

Pergerakan mata uang di kawasan Asia terpantau bervariasi pada sesi yang sama. Yen Jepang menguat 0,02%, won Korea Selatan naik 0,19%, sementara yuan China melemah 0,29% terhadap dolar AS.

Ringgit Malaysia dan dolar Singapura masing-masing terkoreksi 0,16% dan 0,11%. Variasi ini menunjukkan arus modal di kawasan belum bergerak seragam, sehingga penguatan rupiah belum tentu berlanjut ke sesi berikutnya.

Rupiah Melemah terhadap Poundsterling dan Dolar Australia

Terhadap sejumlah mata uang utama lainnya, rupiah justru melemah. Rupiah turun 0,06% terhadap poundsterling Inggris ke Rp 24.299 dan melemah 0,01% terhadap dolar Australia menjadi Rp 12.683.

Sementara terhadap euro, rupiah bergerak stagnan di level Rp 19.722. Artinya, penguatan rupiah hari ini hanya terjadi terhadap dolar AS, bukan terhadap seluruh mata uang global.

Harga Minyak Turun Jadi Sentimen Positif

Salah satu sentimen positif datang dari penurunan harga minyak mentah dunia, seiring munculnya harapan pembicaraan damai di kawasan Timur Tengah. Harga minyak yang lebih rendah biasanya mengurangi beban impor energi Indonesia dan membantu stabilitas rupiah.

Namun investor diperkirakan tetap berhati-hati sepanjang pekan ini. Pasar tengah menantikan sejumlah rilis data ekonomi serta mencermati perkembangan menjelang pemilu legislatif paruh waktu di Amerika Serikat.

Sentimen Saham Lemah Bisa Batasi Penguatan

Selain itu, lemahnya sentimen di pasar saham juga berpotensi membatasi penguatan mata uang Garuda. Aliran dana asing yang keluar dari pasar saham domestik biasanya menekan permintaan terhadap rupiah.

Lukman memperkirakan rupiah bergerak di kisaran Rp 18.100 hingga Rp 18.200 per dolar AS sepanjang perdagangan hari ini. Rentang tersebut mencerminkan ekspektasi pergerakan terbatas, bukan tren penguatan yang kuat.

Bagi pelaku usaha yang memiliki kewajiban valas, rentang sempit ini bisa dimanfaatkan untuk lindung nilai bertahap. Sementara investor pasar uang perlu mencermati rilis data ekonomi pekan ini sebelum mengambil posisi lebih agresif.

Reporter: Saiful