Pemerintah Targetkan Produktivitas Sawit Naik 2 Ton Jadi 4 Ton per Hektare

Pemerintah menargetkan produktivitas kelapa sawit nasional naik dari 2 ton menjadi 4 ton per hektare melalui intensifikasi lahan.
Penulis: Ragil
Sabtu, 07 November 2026 | 06:02:31 WIB

AURANUSANTARA.COM — Pemerintah menargetkan produktivitas kelapa sawit nasional naik dua kali lipat, dari sekitar 2 ton menjadi 4 ton per hektare, melalui intensifikasi lahan yang sudah ada. Target itu muncul di tengah luas kebun sawit Indonesia yang mencapai 17 juta hektare, namun hasil panennya masih jauh dari potensi. Bagi pelaku industri, peningkatan produktivitas jadi kunci pasokan bahan baku energi sekaligus menjaga lahan tanpa perlu membuka kawasan baru.

Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan Hanif Faisol Nurofiq menyampaikan target kenaikan produktivitas itu dalam keterangan di Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Jakarta, Jumat (6/11). Menurut Hanif, luas kebun sawit nasional sekitar 17 juta hektare memberi ruang besar untuk mendongkrak hasil tanpa menambah areal tanam.

Strategi yang dipilih adalah intensifikasi, yakni menggenjot hasil dari lahan yang sudah produktif. Pemerintah menilai pendekatan ini lebih realistis dibanding perluasan kebun baru yang berhadapan dengan keterbatasan lahan dan aturan lingkungan.

Produktivitas 2 Ton per Hektare Dinilai Masih Jauh dari Potensi

Hanif menyebut angka produktivitas saat ini baru sekitar 2 ton per hektare. Padahal, menurut dia, hasil tersebut masih bisa dinaikkan hingga 4 ton per hektare bila praktik budidaya di lahan existing diperbaiki.

"Kita punya 17 juta hektare kebun sawit, yang produktivitasnya masih 2 ton per hektare, yang tentu bisa sampai ke 4 ton ya," kata Hanif.

Ia menegaskan masih banyak ruang perbaikan yang bisa ditempuh lewat intensifikasi. "Jadi masih banyak upaya untuk itu, untuk intensifikasi," ujarnya.

Pendorong Utama: Kebutuhan Bahan Baku Energi

Peningkatan produktivitas sawit ditempatkan sebagai bagian dari upaya mendukung pengembangan bahan baku energi dari komoditas perkebunan. Sawit diposisikan sebagai salah satu sumber yang sudah memiliki basis kebun mapan, sehingga lebih cepat digarap dibanding komoditas lain.

Hanif membandingkannya dengan tebu, yang untuk mendukung rencana pengembangan bahan baku etanol masih membutuhkan penambahan lahan perkebunan. Berbeda dengan sawit yang kebunnya sudah ada, pengembangan tebu menurut dia masih memerlukan pembahasan teknis lintas kementerian.

Lahan Terdegradasi Jadi Opsi, tapi Ada Batasan

Pemerintah tengah mengevaluasi pemanfaatan lahan terdegradasi untuk mendukung pengembangan komoditas tersebut. Opsi ini dipertimbangkan agar perluasan areal tidak menyentuh kawasan hutan alam.

Presiden Prabowo Subianto telah mengarahkan agar pengembangan kawasan tidak dilakukan dengan mengonversi hutan alam. Karena itu, pemerintah masih melakukan pemetaan dan verifikasi lahan sebelum menetapkan lokasi pengembangan.

Bagi pelaku usaha perkebunan, arah kebijakan ini memberi sinyal bahwa penambahan pasokan lebih diarahkan pada perbaikan hasil di kebun yang sudah ada. Pemetaan lahan terdegradasi akan menentukan seberapa cepat rencana ekspansi komoditas energi bisa berjalan tanpa melanggar batasan lingkungan.

Reporter: Ragil