AURANUSANTARA.COM — Harga emas dunia di pasar spot kembali menembus level US$4.000-an per troy ons setelah bangkit dari keterpurukan pekan sebelumnya. Sepanjang pekan, emas spot menguat 4,82% dibandingkan pekan lalu, meski pada perdagangan Jumat (7/11/2026) ditutup turun 0,62% ke US$4.062,5 per troy ons. Penguatan mingguan ditopang melemahnya indeks dolar AS ke level terendah dalam lebih dari sebulan.
Pelemahan dolar menjadi kunci. Indeks dolar (DXY) sempat turun ke 101,5 pada tengah pekan, level terendah dalam lebih dari sebulan. Imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun juga bergerak di sekitar level terendah dalam hampir dua bulan.
Kemenangan Demokrat di Pemilu Paruh Waktu AS Menekan Dolar
Pemicu utama pergerakan dolar adalah hasil pemilu paruh waktu Amerika Serikat. Partai Demokrat menang telak, merebut kendali Senat dan DPR, sekaligus mencetak kemenangan di sejumlah wilayah yang selama ini menjadi basis Partai Republik.
Kekalahan Partai Republik yang mendukung Presiden Donald Trump menjadi pukulan politik bagi Gedung Putih. Dolar pun tertekan, dan itu menguntungkan emas.
Logam mulia yang dihargai dalam dolar AS menjadi lebih murah bagi pembeli luar negeri ketika dolar melemah. Kondisi inilah yang meningkatkan daya tarik emas di mata investor global.
Kebuntuan Politik di Kongres Buka Ruang Pelonggaran Moneter
Analis American Gold Exchange, Jim Wyckoff, menilai emas juga mendapat dukungan dari potensi kebuntuan politik di Kongres AS. Pemerintahan terbelah dinilai dapat menghambat sejumlah agenda legislasi dan menekan pertumbuhan ekonomi.
Hambatan itu membuka ruang bagi The Fed untuk mengambil kebijakan moneter yang lebih longgar. Ekspektasi suku bunga yang lebih rendah pada akhirnya mengurangi biaya peluang memegang emas, yang tidak memberikan imbal hasil.
Tekanan Inflasi Masih Membayangi, tapi Harapan Mereda
Direktur Perdagangan Logam High Ridge Futures, David Meger, mengingatkan bahwa ekspektasi kenaikan suku bunga belum sepenuhnya hilang. Namun, pelemahan harga energi memunculkan harapan bahwa tekanan inflasi akan mereda.
"Belum berarti ekspektasi kenaikan suku bunga benar-benar menghilang. Dengan melemahnya harga energi, ada harapan kekhawatiran inflasi akan mereda dan kebutuhan untuk menaikkan suku bunga ke depan menjadi lebih kecil," ujar Meger, dikutip dari Refinitiv.
Bagi investor, sinyal ini penting. Selama data inflasi dan harga energi bergerak ke arah yang diharapkan pasar, tekanan jual pada emas berpotensi lebih terbatas.
Bank Sentral Polandia Capai Target Cadangan 700 Ton
Dari sisi permintaan institusi, bank sentral Polandia telah mencapai target cadangan emas sebesar 700 ton metrik yang ditetapkan sebelumnya. Meski target tercapai, bank sentral negara itu masih membuka peluang untuk menambah kepemilikan emasnya.
Langkah bank sentral Polandia mencerminkan tren pembelian emas oleh otoritas moneter di sejumlah negara. Permintaan dari sektor resmi ini menjadi salah satu penopang harga emas di luar faktor dolar dan suku bunga.
Dengan kombinasi dolar yang melemah, imbal hasil obligasi AS yang menurun, dan permintaan bank sentral yang tetap berjalan, posisi emas di atas US$4.000 per troy ons masih punya sejumlah penopang. Namun, arah kebijakan The Fed dan data inflasi tetap menjadi penentu utama pergerakan harga dalam beberapa pekan ke depan.