Pencarian

Harga Emas Spot Anjlok 4% ke USD4.111, Posisi Beli Manajer Investasi Terendah Sejak Juli

Selasa, 29 September 2026 • 06:22:01 WIB
Harga Emas Spot Anjlok 4% ke USD4.111, Posisi Beli Manajer Investasi Terendah Sejak Juli
Harga emas spot turun 4% ke USD4.111 per ons, terendah sejak 5 Agustus 2026.

AURANUSANTARA.COM — Harga emas spot merosot hingga empat persen ke level USD4.111 per ons, terendah sejak 5 Agustus 2026, seiring lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat dan ekspektasi kenaikan suku bunga lanjutan dari The Fed. Tekanan jual diperparah oleh naiknya harga minyak di tengah kebuntuan pembicaraan AS-Iran serta lemahnya permintaan konsumen di China menjelang libur panjang awal Oktober.

Penurunan tajam harga emas dunia yang terjadi pada Senin, 28 September 2026, mencerminkan pergeseran besar dalam perhitungan investor global. Imbal hasil obligasi Treasury AS 10 tahun sempat menyentuh level tertinggi sejak Juni 2007 sebelum akhirnya terkoreksi, sementara imbal hasil tenor dua tahun melonjak karena pasar memperkirakan peluang sekitar 70 persen kenaikan suku bunga The Fed kedua berturut-turut pada Oktober 2026.

Adrian Ash, kepala riset di pasar emas batangan online BullionVault, menyebut kenaikan biaya pinjaman AS sebagai pemicu utama tekanan terhadap logam mulia.

"Kenaikan biaya pinjaman AS ke level tertinggi dalam beberapa dekade terakhir hari ini akhirnya membuat harga emas turun," kata Adrian Ash.

Imbal Hasil Obligasi Naik, Daya Tarik Emas Terkikis

Suku bunga yang lebih tinggi secara langsung menggerus daya tarik emas. Investor kini bisa memperoleh pengembalian lebih besar dari aset berbunga, sementara biaya untuk mempertahankan posisi spekulatif di komoditas ikut membengkak.

Data Komisi Perdagangan Berjangka Komoditas AS untuk pekan yang berakhir 22 September 2026 menunjukkan posisi beli bersih manajer investasi di emas merosot ke level terendah sejak akhir Juli 2026. Saat itu, emas batangan diperdagangkan di kisaran USD4.000 per ons.

World Gold Council mencatat dana yang diperdagangkan di bursa (ETF) berbasis emas mengalami arus keluar moderat sebesar 1,6 metrik ton pekan lalu. Meski demikian, total kepemilikan ETF emas masih bertahan di angka besar, yakni 4.249 ton.

Permintaan China Melemah Jelang Libur 1-7 Oktober

Gambaran suram datang dari sisi permintaan fisik. Konsumen utama China mengurangi pembelian menjelang periode liburan 1 hingga 7 Oktober. Premi lokal di atas patokan global turun menjadi nol pada akhir pekan lalu.

Analis StoneX, Rhona O'Connell, menilai dukungan harga masih mungkin datang dari pembelian berkelanjutan bank sentral dan permintaan India yang lebih kuat menjelang Diwali dan musim pernikahan. Namun, harga yang secara historis tinggi berpotensi membatasi permintaan perhiasan di kalangan pembeli sensitif harga, terutama petani, di tengah musim hujan India yang relatif lemah.

Posisi ETF Emas dan Bitcoin Mulai Berbeda Arah

Di pasar aset alternatif, analis JPMorgan menilai Bitcoin berpotensi mendapatkan dukungan lebih besar dibandingkan emas jika investor mulai mengurangi posisi lindung nilai melalui ETF. Dalam laporan yang dipimpin Nikolaos Panigirtzoglou pada Rabu, 16 September 2026, arus dana masuk ke ETF Bitcoin dan emas kembali meningkat setelah pertemuan Federal Reserve pada akhir Juli.

Momentum tersebut muncul ketika perdagangan debasement kembali menguat, yakni strategi investor mencari aset pelindung nilai saat kekhawatiran terhadap penurunan nilai mata uang meningkat. Namun, cerita itu mulai berubah dalam sepekan terakhir setelah imbal hasil obligasi yang disesuaikan dengan inflasi meningkat dan Senat AS gagal meloloskan Clarity Act.

Perbedaan pemulihan permintaan kedua ETF itu terlihat jelas. ETF emas telah berhasil menghapus seluruh arus dana keluar yang terjadi pada awal tahun, sementara ETF Bitcoin baru memulihkan sekitar separuh dari arus keluar tersebut.

JPMorgan juga mencatat posisi short terhadap iShares Bitcoin Trust ETF milik BlackRock (kode IBIT) masih berada dekat level tertingginya sepanjang tahun ini. Kondisi berbeda terjadi pada SPDR Gold Shares ETF (GLD), yang posisi short-nya justru berada di bawah rata-rata historisnya.

Perbedaan itu memberi gambaran bahwa Bitcoin masih menghadapi suasana pasar yang lebih skeptis dibandingkan emas, meskipun posisi investor institusi terhadap kedua aset masih tergolong tinggi berdasarkan data posisi kontrak berjangka.

Sumber: kabarbursa.com

Follow auranusantara.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks