Pencarian

UOB Kay Hian Ubah Strategi di Tengah IHSG Turun 7,9 Persen pada September 2026

Selasa, 06 Oktober 2026 • 06:42:01 WIB
UOB Kay Hian Ubah Strategi di Tengah IHSG Turun 7,9 Persen pada September 2026
IHSG tercatat turun 7,9 persen secara bulanan pada September 2026.

AURANUSANTARA.COM — Tim riset UOB Kay Hian mengalihkan strategi investasi ke saham berkatatalis laba spesifik setelah IHSG anjlok 7,9 persen secara bulanan pada September 2026. Pelemahan indeks sebesar itu disebut cerminan tekanan makro yang masih membayangi pasar saham Indonesia hingga Oktober. Rupiah ikut tertekan 1 persen terhadap dolar AS pada periode yang sama.

Menghadapi kondisi itu, Indonesia Research Team UOB Kay Hian mengubah pendekatan dengan mengurangi eksposur terhadap saham yang sensitif terhadap kondisi makro. Sebagai gantinya, tim riset beralih ke emiten yang memiliki katalis spesifik dari kinerja laba.

Tekanan Terdalam di Sektor Teknologi dan Infrastruktur

Koreksi IHSG pada September 2026 tidak merata. Sektor teknologi mencatat penurunan paling dalam, disusul infrastruktur dan properti. Hanya satu sektor yang berhasil bertahan di zona positif.

  • Sektor teknologi turun 15,1 persen
  • Sektor infrastruktur turun 12 persen
  • Sektor properti turun 11,5 persen
  • Sektor industri naik 0,6 persen

Penurunan tajam di sektor teknologi, infrastruktur, dan properti menunjukkan bahwa investor menghindari saham-saham yang paling terpapar risiko makroekonomi. Ketiga sektor itu umumnya bergantung pada belanja modal, pembiayaan utang, dan sentimen suku bunga.

Sebaliknya, sektor industri menjadi satu-satunya yang mencatat kenaikan, yakni 0,6 persen. Kenaikan tipis ini mengindikasikan adanya aliran dana ke emiten yang dinilai lebih tahan terhadap gejolak ekonomi jangka pendek.

Mengapa UOB Kay Hian Beralih ke Saham Berkatalis Laba

Perubahan strategi UOB Kay Hian menyoroti pergeseran cara pandang terhadap pasar saham Indonesia saat ini. Ketika faktor makro seperti pergerakan rupiah dan suku bunga sulit diprediksi, kinerja laba emiten menjadi jangkar yang lebih bisa diandalkan.

Saham yang sensitif terhadap makro biasanya bergerak mengikuti ekspektasi kebijakan moneter, nilai tukar, dan arus modal asing. Ketika ketiga faktor itu bergejolak, harga saham jenis ini cenderung ikut terombang-ambing tanpa memperhatikan fundamental perusahaan.

Sebaliknya, emiten dengan katalis spesifik dari kinerja laba memiliki pemicu sendiri yang tidak sepenuhnya bergantung pada sentimen makro. Katalis itu bisa berupa lonjakan pendapatan, perbaikan margin, ekspansi usaha, atau peristiwa korporasi yang berdampak langsung ke laba.

Apa Artinya bagi Investor di Oktober 2026

Bagi investor, riset UOB Kay Hian ini memberi sinyal bahwa strategi "membeli saat lemah" pada saham-saham yang tertekan makro belum tentu tepat dalam kondisi sekarang. Volatilitas tinggi membuat timing pasar menjadi jauh lebih sulit.

Pendekatan yang lebih selektif terhadap emiten dengan katalis laba spesifik bisa menjadi alternatif untuk menjaga kinerja portofolio. Investor perlu mencermati laporan keuangan, jadwal rilis kinerja, dan rencana korporasi masing-masing emiten sebelum mengambil posisi.

Penurunan IHSG 7,9 persen pada September 2026 dan pelemahan rupiah 1 persen terhadap dolar AS menjadi pengingat bahwa faktor makro masih menjadi penentu arah pasar dalam beberapa waktu ke depan. Sampai kondisi itu berubah, saham dengan pemicu kinerja internal berpeluang lebih menarik dibanding saham yang bergantung pada sentimen ekonomi secara luas.

Sumber: idxchannel.com

Follow auranusantara.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks