Pencarian

IHSG Menguat 0,94% ke 5.328,36, Tapi Masih Melemah 38,38% Sejak Awal Tahun

Kamis, 22 Oktober 2026 • 06:02:06 WIB
IHSG Menguat 0,94% ke 5.328,36, Tapi Masih Melemah 38,38% Sejak Awal Tahun
IHSG ditutup menguat 0,94% ke level 5.328,36 pada perdagangan Rabu (21/10).

AURANUSANTARA.COM — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat 49,47 poin atau 0,94% ke level 5.328,36 pada perdagangan Rabu (21/10). Penguatan ini belum menutup kerugian besar: dalam sepekan terakhir IHSG masih melemah 10,34%, dan sejak awal tahun ambles total 38,38%.

Penguatan IHSG pada perdagangan Rabu (21/10) menjadi jeda singkat di tengah tekanan jual yang panjang. Indeks naik 49,47 poin atau 0,94% ke 5.328,36, tapi angka itu masih jauh di bawah posisi awal tahun.

Dalam sepekan terakhir, IHSG tercatat masih melemah 10,34%. Sejak awal tahun, koreksi indeks mencapai 38,38% — salah satu penurunan terdalam di kawasan.

Tekanan Valas dan Bunga Dolar Masih Membayangi

Tekanan eksternal belum surut. DPK valas perbankan tumbuh 20,4% pada Agustus 2026, ditopang lonjakan deposito valas 37,5% akibat kenaikan bunga dolar AS dan pelemahan rupiah.

Perpindahan dana ke valas mencerminkan kehati-hatian pelaku pasar. Selama rupiah masih tertekan, aliran dana ke aset berdenominasi dolar berpotensi menahan laju pemulihan IHSG.

Kredit Tumbuh 13,26%, tapi DPK Melambat

Dari sisi intermediasi, kredit perbankan tumbuh 13,26% pada September 2026. Kredit investasi melesat 23,2% dan menjadi motor utama pertumbuhan.

Namun perlambatan dana pihak ketiga (DPK) membayangi prospek kredit ke depan. Tanpa pertumbuhan DPK yang seimbang, ruang bank menyalurkan kredit bakal menyempit.

Kontraksi kredit di sejumlah bank pembangunan daerah (BPD) juga berpotensi memengaruhi kinerja industri penjaminan.

Free Float 15% Jadi Ujian Emiten

Aturan free float wajib 15% mulai menekan emiten dengan porsi saham publik kecil. CIMB Niaga (BNGA) mengkaji opsi delisting karena saham publiknya baru 7,5%, dengan privatisasi sebagai salah satu opsi strategis.

Langkah serupa bisa diikuti emiten lain dengan kondisi serupa. Bagi investor ritel, opsi delisting berarti likuiditas saham berpotensi menurun dan harga berisiko bergerak tidak efisien.

Sektor Laptop dan Asuransi Cari Celah

Kenaikan harga chip memori membuat produsen laptop menyiapkan strategi bisnis. Mereka berupaya menghindari penurunan daya beli akibat harga jual yang naik.

Di sisi lain, volatilitas pasar modal memberi kesempatan bagi produk asuransi dwiguna alias endowment untuk meningkatkan pamornya. Produk ini menawarkan kombinasi proteksi dan imbal hasil yang relatif stabil di tengah gejolak pasar saham.

Usulan insentif fiskal dan nonfiskal untuk mendorong riset swasta juga kembali didorong setelah sebelumnya belum mendapat kepastian. Di negara-negara maju, sekitar 75% dana riset disokong sektor swasta dan industri, sementara pemerintah hanya menyumbang porsi kecil.

Rekomendasi untuk Sesi Kamis (22/10)

Pelaku pasar perlu mencermati level support dan resistance IHSG sebelum membuka posisi. Penguatan 0,94% belum cukup menjadi sinyal pembalikan tren selama indeks masih tertekan 10,34% dalam sepekan.

Investor disarankan selektif memilih saham dengan fundamental kuat dan likuiditas tinggi. Emiten perbankan dengan pertumbuhan kredit investasi tinggi bisa menjadi perhatian, dengan catatan perlambatan DPK dan tekanan valas tetap dipantau.

Untuk eksposur valas, kenaikan bunga dolar AS dan pelemahan rupiah menjadi faktor yang perlu diantisipasi. Strategi diversifikasi portofolio antara aset rupiah dan valas menjadi pilihan rasional di tengah ketidakpastian saat ini.

Sumber: insight.kontan.co.id

Follow auranusantara.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks