AURANUSANTARA.COM — Kabut asap memangkas frekuensi penerbangan kargo pengangkut BBM ke Wamena, Kabupaten Jayawijaya, dari empat kali sehari menjadi satu hingga dua kali. Pertamina Patra Niaga memastikan pasokan masih tersedia, meski pengiriman bergantung penuh pada moda udara. Stok di Wamena per Jumat, 16 Oktober, tercatat 149.500 liter untuk empat jenis bahan bakar.
Jayapura — Gangguan jarak pandang akibat kabut asap memaksa penyesuaian jadwal penerbangan kargo yang mengangkut bahan bakar minyak ke sejumlah wilayah Papua Pegunungan. Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Papua Maluku, Ispiani Abbas, menyebut wilayah Kabupaten Jayawijaya, Nduga, dan Pegunungan Bintang sebagai daerah yang terdampak.
Pengiriman ke kawasan itu hanya bisa ditempuh lewat udara. Karena itu, kabut asap yang membatasi jarak pandang langsung memukul jadwal penerbangan kargo.
Frekuensi Terpangkas Separuh Lebih
Dalam kondisi normal, BBM dikirim ke Jayawijaya melalui empat penerbangan setiap hari. Kini jumlahnya menyusut menjadi sekitar satu sampai dua penerbangan saja. Artinya, frekuensi pengiriman turun 50 hingga 75 persen dibandingkan kondisi biasa.
Pertamina berkoordinasi dengan Trigana Air selaku maskapai pengangkut BBM dan otorita bandara untuk menyesuaikan jadwal. Penyesuaian dilakukan dengan mempertimbangkan keselamatan penerbangan.
Kapasitas angkut pesawat pun terbatas. Ruang kargo sebagian dipakai untuk material dan kebutuhan logistik penting lainnya, sehingga jatah untuk BBM ikut menyusut.
"Selama ini distribusi BBM ke wilayah tersebut hanya dapat menggunakan moda transportasi udara, sehingga kami terus berkoordinasi dengan seluruh pihak di antaranya Trigana Air selaku maskapai kargo yang mengangkut BBM dan otorita bandara terkait izin terbang akibat kabut asap," ujar Ispiani di Jayapura, dikutip dari Antara, Sabtu, 17 Oktober.
Stok Wamena Masih Cukup
Pengiriman terakhir lewat Wamena berlangsung Kamis, 15 Oktober, dengan muatan 5.000 liter Pertalite, 6.000 liter Solar, dan 5.000 liter Dexlite. Meski frekuensi penerbangan berkurang, Pertamina menyatakan persediaan di Wamena masih mencukupi berdasarkan pemantauan terakhir.
Hingga Jumat, 16 Oktober, stok BBM di Wamena tercatat 15.000 liter Pertalite, 2.500 liter Pertamax, 110.000 liter Solar, dan 22.000 liter Dexlite. Total keempat jenis bahan bakar itu mencapai 149.500 liter.
Namun, Pertamina belum merinci berapa lama stok tersebut mampu menutup kebutuhan masyarakat bila gangguan penerbangan berlanjut. Perusahaan hanya menyatakan terus memantau perkembangan kondisi di lapangan.
"Kami terus melakukan monitoring ketersediaan BBM serta proses distribusinya ke wilayah Pegunungan Papua karena turut terdampak kabut asap," kata Ispiani.
Jadwal Tercepat Jadi Andalan
Pertamina mengoordinasikan jadwal penerbangan tercepat untuk kembali mengirim BBM. Langkah itu diambil agar kebutuhan bahan bakar di wilayah pegunungan tetap terpenuhi selama kabut asap belum surut.
"Saat ini kami memantau perkembangan kondisi di lapangan dan mengoordinasikan jadwal tercepat untuk kembali melakukan pengiriman guna memastikan kebutuhan BBM tetap terpenuhi," ujar Ispiani.
Ketergantungan penuh pada angkutan udara membuat distribusi BBM di Papua Pegunungan rentan terhadap cuaca. Kabut asap yang menutup jalur penerbangan langsung memangkas pasokan, sementara stok di Wamena punya batas waktu sebelum harus diisi ulang.