AURANUSANTARA.COM — PT Pertamina Drilling Services Indonesia menyatakan kesiapan mendukung pengembangan migas nonkonvensional (MNK) di Tanah Air, berbekal pengalaman mengebor sumur eksplorasi Gulamo DET-1 pada 2023 dan Kelok DET-1 pada 2024 bersama PT Pertamina Hulu Rokan. Langkah tersebut jadi salah satu jalan memperkuat ketahanan energi nasional. Namun, karakter reservoir MNK yang porositas dan permeabilitasnya sangat rendah menuntut teknologi serta kompetensi operasional tingkat tinggi.
Jakarta — Kesiapan operasi Pertamina Drilling bertumpu pada pengalaman mengebor dua sumur eksplorasi MNK bersama Pertamina Hulu Rokan. Dua sumur itu dikerjakan dengan Rig PDSI#42.3/N1500-E, rig tipe cyber berkapasitas 1.500 horsepower (HP) yang dirancang untuk operasi bertingkat kompleksitas tinggi. Dukungan layanan solid control dan peralatan pendukung pengeboran lain melengkapi kesiapan tersebut.
Direktur Utama Pertamina Drilling Avep Disasmita menyebut pengalaman dan kapabilitas perusahaan jadi modal utama. Menurutnya, pengembangan MNK butuh perangkat serta keahlian yang tidak bisa ditangani rig konvensional biasa.
"Dengan pengalaman dan kapabilitas yang dimiliki, Pertamina Drilling siap mendukung pengembangan migas nonkonvensional (MNK) sebagai bagian dari upaya bersama memperkuat ketahanan energi nasional," ujar Avep, Senin (20/10).
Mengapa Reservoir MNK Lebih Menantang
Batuan MNK menyimpan migas dengan porositas dan permeabilitas sangat rendah. Aliran fluida di dalamnya sulit bergerak, sehingga pengeboran butuh rekayasa dan peralatan khusus agar hasilnya ekonomis. Kondisi inilah yang membuat operator memilih rig berkapasitas besar dan layanan terintegrasi.
Pertamina Drilling menilai pengalaman di Gulamo DET-1 dan Kelok DET-1 menjadi rekam jejak yang bisa dipakai untuk sumur-sumur MNK berikutnya. Kedua sumur itu menjadi bagian dari upaya eksplorasi sumber daya migas nonkonvensional di Indonesia.
Armada 58 Rig Darat hingga Kolaborasi Jack-Up
Setelah hampir dua dekade beroperasi, Pertamina Drilling kini mengelola 58 rig darat (onshore) berkapasitas 300–2.000 HP. Perusahaan juga mengoperasikan dua rig offshore workover berkapasitas 550 HP serta tiga jack-up rig lewat kolaborasi strategis dengan perusahaan internasional ADES.
Di dalam negeri, Pertamina Drilling terlibat di sejumlah proyek strategis lingkungan Subholding Upstream Pertamina, tersebar dari Regional 1 hingga Regional 4. Cakupan wilayah operasinya membentang dari Sumatra sampai Papua.
Selain pengeboran konvensional, perusahaan menyediakan layanan pendukung pengeboran atau associated drilling services. Layanan itu diintegrasikan lewat skema Integrated Project Management (IPM), yang menggabungkan teknologi, peralatan, dan keahlian agar operasi berjalan lebih efisien, aman, dan produktif.
Target Berikutnya: Produksi Migas Nasional
Ke depan, Pertamina Drilling memperkuat kapabilitas untuk mendukung peningkatan produksi migas nasional. Langkah itu disebut sebagai kontribusi industri jasa pengeboran dalam mengoptimalkan potensi sumber daya energi Indonesia.
Bagi sektor hulu migas, kesiapan jasa pengeboran dalam negeri menentukan seberapa cepat sumur-sumur eksplorasi bisa dieksekusi. Ketergantungan pada rig dan layanan asing bisa ditekan jika kapabilitas serupa tersedia di rumah sendiri.
Pengembangan MNK sendiri masih berstatus tahap awal di Indonesia. Keberhasilan pengeboran sumur eksplorasi menjadi penentu apakah potensi sumber daya tersebut layak dilanjutkan ke tahap pengembangan penuh.