Pencarian

IHSG Anjlok 1,88% ke 6.031, Level 6.000 Jadi Ujian Berat Berikutnya

Jumat, 09 Oktober 2026 • 06:42:01 WIB
IHSG Anjlok 1,88% ke 6.031, Level 6.000 Jadi Ujian Berat Berikutnya
IHSG ditutup melemah 1,88 persen ke level 6.031,28 pada perdagangan Kamis (8/10).

AURANUSANTARA.COM — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah 1,88 persen ke level 6.031,28 pada perdagangan Kamis (8/10), tertekan lonjakan harga minyak dunia. Level 6.000 kini menjadi ujian kritikal yang menentukan arah indeks selanjutnya. Analis memperkirakan IHSG berpotensi menguji area 5.800-5.900 jika support tersebut jebol.

Tekanan jual yang meningkat membuat IHSG ditutup di bawah Moving Average 5 dan 10 hari. Equity Research Phintraco Sekuritas, Alrich Paskalis T., menilai posisi tersebut membuka ruang bagi indeks untuk kembali menguji level kritikal 6.000.

Jika IHSG mampu bertahan di atas 6.000 dan rebound, pola double bottom berpotensi terbentuk. Sebaliknya, penutupan di bawah level itu akan membawa indeks ke area 5.800-5.900.

"Namun jika IHSG ditutup di bawah level 6.000, maka diperkirakan IHSG akan menguji level di 5.800-5.900," kata Alrich.

Struktur Bearish, Sinyal Teknikal Masih Campuran

Senada dengan Alrich, Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas, M Nafan Aji Gusta, menilai pergerakan IHSG membentuk struktur bearish seiring upaya indeks menguji support terdekat. Meski demikian, indikator Stochastics K_D dan RSI masih menunjukkan sinyal positif, didukung kenaikan volume.

Nafan menyoroti lonjakan harga minyak dan meningkatnya kekhawatiran inflasi global sebagai pemicu utama tekanan. Eskalasi konflik di Timur Tengah, terutama spekulasi aksi militer AS terhadap Iran, kembali memunculkan risiko terhadap pasokan dan jalur pelayaran minyak.

Harga minyak Brent sempat menembus 3,87 persen ke level USD104,08 per barel, sementara Crude Oil WTI melonjak 3,29 persen ke USD91,18 per barel.

Probabilitas Kenaikan Suku Bunga The Fed Sentuh 98,12%

Pasar juga meningkatkan probabilitas kenaikan suku bunga The Fed menjadi 98,12 persen pada 9 Desember 2026 mendatang. Ekspektasi kebijakan moneter AS yang lebih ketat menambah beban bagi pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.

"Bagi IHSG, dampak tersebut cenderung bearish to neutral, tetapi berpotensi positif bagi saham energi dan komoditas," ujar Nafan.

Di tengah tekanan tersebut, Nafan menilai fundamental makro Indonesia masih memiliki bantalan yang cukup baik. Menurutnya, koreksi IHSG saat ini lebih mencerminkan penurunan kepercayaan pelaku pasar ketimbang memburuknya kondisi ekonomi domestik secara mendasar.

Apa Artinya bagi Investor

Bagi investor jangka pendek, level 6.000 menjadi garis pertahanan yang wajib dicermati. Kegagalan bertahan di atas level tersebut berpotensi memicu aksi jual lanjutan dan memperdalam koreksi indeks.

Di sisi lain, sektor energi dan komoditas justru berpotensi diuntungkan dari lonjakan harga minyak. Rotasi dana ke saham-saham berbasis komoditas bisa menjadi strategi yang dipertimbangkan di tengah volatilitas pasar saat ini.

Pelaku pasar juga perlu mencermati perkembangan konflik di Timur Tengah dan sinyal kebijakan The Fed, karena kedua faktor tersebut akan menjadi penentu utama arah IHSG dalam beberapa sesi ke depan.

Sumber: emitennews.com

Follow auranusantara.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks