Laba PTPP Melejit 196 Persen, Adhi Karya dan Bank Raya Terdepak dari FTSE Russell

Laba bersih PT PP (Persero) Tbk melonjak 196,5 persen menjadi Rp193,46 miliar pada Semester I 2026.
Penulis: Yasir
Jumat, 21 Agustus 2026 | 20:01:01 WIB

FTSE Russell telah merampungkan evaluasi berkala saham-saham Indonesia. Hasilnya, 29 saham dikeluarkan dari berbagai kategori indeks, dan 10 saham lainnya mengalami penurunan klasifikasi. Dari total tersebut, tiga emiten BUMN dan anak usahanya terkena imbas, salah satunya karena kapitalisasi pasar yang dinilai tidak lagi memenuhi syarat masuk dalam indeks Micro Cap.

PT PP (Persero) Tbk menjadi sorotan utama. Meski pendapatan usaha tercatat turun tipis 1,2 persen menjadi Rp5,95 triliun, laba bersih perusahaan melonjak drastis hingga 196,5 persen secara tahunan (year on year/YoY) menjadi Rp193,46 miliar pada Semester I 2026. Angka ini berbanding terbalik dengan periode yang sama tahun lalu yang hanya sebesar Rp65,24 miliar.

Efisiensi Proyek Jadi Kunci PTPP

Kenaikan laba ini bukan kebetulan. Manajemen PTPP gencar melakukan efisiensi beban pokok pendapatan dan selektif dalam memilih proyek baru. Fokus utama mereka adalah proyek dengan arus kas (cash flow) yang sehat, sehingga margin keuntungan bisa dioptimalkan. Strategi ini membuat pertumbuhan laba kuartalan PTPP menjadi yang paling solid di antara emiten BUMN Karya lainnya.

Sementara itu, PT Adhi Karya (Persero) Tbk mencatatkan laba bersih di kisaran Rp13,8 miliar hingga Rp15,2 miliar pada periode yang sama. Angka ini relatif stabil dibandingkan Semester I 2025. Pendapatan usaha ADHI mencapai Rp5,7 triliun, sedikit terkoreksi dari tahun sebelumnya. Koreksi ini disebabkan oleh kebijakan perusahaan yang lebih selektif dalam mengambil proyek infrastruktur pemerintah, demi menjaga kualitas neraca keuangan.

Bank Raya Indonesia: Anak Usaha BRI yang Terdepak

Berbeda dengan dua BUMN Karya, PT Bank Raya Indonesia Tbk (AGRO) yang merupakan anak usaha PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) juga ikut terdepak dari indeks FTSE Russell. Meski demikian, keterlibatan AGRO dalam ekosistem perbankan digital BRI tetap menjadi perhatian investor, terutama dengan dukungan induk usaha yang solid.

Perlu dicatat, pengeluaran dari indeks FTSE Russell tidak serta-merta mencerminkan buruknya fundamental perusahaan. Proses rebalancing ini lebih banyak dipengaruhi oleh faktor likuiditas dan kapitalisasi pasar yang berfluktuasi. Bagi investor, momen ini justru bisa menjadi bahan evaluasi untuk melihat valuasi wajar saham-saham BUMN yang masih memiliki prospek jangka panjang.

Dengan berakhirnya masa rebalancing pada 18 September 2026, pergerakan saham ketiga emiten ini akan menarik untuk dicermati. Apakah investor akan melihat peluang di tengah koreksi, atau justru beralih ke saham lain yang masuk dalam indeks utama.

Reporter: Yasir