• Rabu, 29 April 2026
  • Home
  • Daerah
    • Pekanbaru
    • Kampar
    • Pelalawan
    • Siak
    • Bengkalis
    • Dumai
    • Rohul
    • Rohil
    • Inhu
    • Inhil
    • Kuansing
    • Meranti
  • Nasional
  • Politik
  • Hukrim
  • Budaya
  • Eksbis
  • Pendidikan
  • Parlemen
  • Video
  • Dunia
  • More
    • Pilihan Editor
    • Terpopuler
    • Indeks
  • Daerah
  • Nasional
  • Politik
  • Hukrim
  • Budaya
  • Eksbis
  • Pendidikan
  • Parlemen
  • Video
  • Dunia
  • Meranti
  • Kuansing
  • Inhil
  • Inhu
  • Rohil
  • Rohul
  • Dumai
  • Bengkalis
  • Siak
  • Pelalawan
  • Kampar
  • Pekanbaru
  • Pilihan Editor
  • Terpopuler
  • Indeks
Masukkan Kata Kunci atau ESC Untuk Keluar
PILIHAN
Terima Kunjungan Politeknik Negeri Medan, Perwira PT KPI RU Dumai Kenalkan Proses Bisnis dan 12 CLSR
Ketua Bundo Kanduang Lis Hafrida: Ilmu dari Kegiatan Ini Dapat Diterapkan Dalam Kehidupan Sehari-hari
Ketum Parpol Jadi Menteri, Larshen Yunus: Presiden Jokowi Ingkari Janjinya Saat Kampanye
Ketua DPD PJS Riau Wahyudi El Panggabean Serahkan Mandat Pembentukan DPC PJS Dumai
Dumai Wakili Provinsi Riau Sebagai Lokasi Penanaman Bibit Mangrove Serentak DPP GPND

  • Home
  • Nasional

Sebagai Perempuan, Jadi Buruh Pabrik Bukan Ingin Ku Tapi Ku Jalani Demi Keluarga

Administrator

Senin, 05 Juli 2021 19:59:49 WIB
Cetak
Sebagai Perempuan, Jadi Buruh Pabrik Bukan Ingin Ku Tapi Ku Jalani Demi Keluarga

Ilustrasi Pekerja Perempuan

Apa yang kamu pikirkan tentang buruh pabrik? Tentu saja jawabannya tergantung siapa yang menjawab. Bisa jadi para pengusaha akan mengatakan buruh itu identik dengan sekelompok perusuh yang suka melakukan aksi demonstrasi. Sedangkan bagi para politisi, buruh adalah sekelompok massa yang bisa membawa mereka untuk memperoleh suara setiap kali Pemilu tiba.

AURANUSANTARA - Dari tahun ke tahun, profesi buruh mengalami transformasi. Ada kemajuan yang bisa terlihat secara kasat mata. Pada tahun 1998, saat saya baru lulus SMA, menjadi buruh pabrik sama sekali tidak terbayang akan menjadi pekerjaan karena dinilai tidak bonafide. Akan tetapi sepertinya sekarang paradigma itu berubah. Buruh pabrik menjadi salah satu profesi primadona bagi lulusan SMK yang tidak akan melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Jamak kita temui, lulusan SMK dengan mengenakan pakaian hitam putih berbondong-bondong mendatangi pabrik dengan membawa surat lamaran pekerjaan. Mereka menyimpan harapan besar bahwa masa depannya bisa terajut di pabrik tersebut.

Apakah perubahan tren ini dikarenakan biaya pendidikan di perguruan tinggi semakin tidak terjangkau, sehingga lulusan SMK memilih bekerja dibandingkan melanjutkan pendidikannya? Atau karena menjadi buruh pabrik saat ini menjadi pekerjaan yang menjanjikan untuk masa depan? Pertanyaan itu akan menjadi sebuah cerita yang menarik ketika saya menanyakan kepada sahabat buruh saya.

Namaku Ika. Aku adalah buruh perempuan yang sudah mengabdi untuk perusahaan selama 15 tahun. Aku tidak pernah bercita-cita menjadi buruh pabrik. Aku pernah bermimpi bisa melanjutkan kuliah agar masa depannya bisa seterang mentari dan setinggi bintang di langit. Cita-cita tak selamanya menjadi nyata ketika nasib dan takdir berkata lain. Saat Aku lulus SMU, ibunya yang bekerja di sebuah restoran mengalami PHK. Tak berhenti sampai di situ. Ayahnya terkena diabetes. Penyakit ini sukses memaksa ayah untuk berhenti bekerja sebagai sopir bus antar provinsi. Keluarganya goyah. Tanpa penghasilan sama sekali. Aku yang sudah menyusun impiannya untuk bisa duduk di bangku kuliah harus menerima kenyataan bahwa semua itu tidak dapat terwujud. Faktanya, sehari-hari Aku harus melanjutkan hidup bersama kedua orangtuaku yang tidak bekerja. Dua orang adikku masih bersekolah. Tentunya membutuhkan biaya yang tidak sedikit untuk tetap tetap menjaga asa.

Sebagai anak sulung, siap atau tidak siap, Aku harus melanjutkan estafet perjuangan keluarga sebagai pencari nafkah. Aku harus melakukan sesuatu. Aku harus bekerja agar keluargaku tidak kelaparan. Agar adik-adikku tidak putus sekolah. Maka sang takdir pun membawanya sebagai buruh perempuan di pabrik komponen otomotif di daerah Cikarang. Tak banyak buruh perempuan yang bekerja di pabrik otomotif. Sebagai minoritas, rasanya terlalu sulit untuk mendapatkan kepercayaan guna membuktikan bahwa buruh perempuan pun mampu berkompetisi dalam hal melakukan pekerjaan-pekerjaan yang selalu menjadi dominasi buruh laki-laki. Misalnya bertanggung jawab terhadap mesin, melakukan setting mesin, maintenance dan lain-lain. Tugas yang diberikan kepada buruh perempuan tidak akan jauh dari perakitan, pemeriksaan, dan input data. Untuk jenjang karier pun buruh perempuan tidak bisa banyak berharap. Secara kuota tentu saja akan kalah, bahkan untuk mendapatkan kesempatan berkompetisi pun sulit. Hanya karena “perempuan”, seseorang selalu menjadi alasan klasik untuk membenarkan “pengucilan” terhadap kebebasan pengembangan diri untuk berprestasi.

Dari rumahku yang terletak di Bekasi Barat, Aku harus menempuh waktu perjalanan selama dua jam agar bisa sampai ke pabrik yang ada di Cikarang. Saat matahari baru muncul di ufuk timur, Aku sudah ada di jalan dan kembali ke rumah saat malam tiba. Hari demi hari terus aku jalani. Lelah dirasakan tanpa mengeluh, karena aku sadar itu adalah tanggung jawab. Kehidupan keluarga yang tergantung kepadaku mengalahkan rasa lelah yang sering mendera diriku. Di dapur harus tetap ada makanan. Kedua adikku harus tetap bersekolah dan obat harus terbeli untuk bapakku.

Karena hasil kerjaku yang baik, perusahaan menawarkan promosi untuk naik menjadi staf office. Aku pun menerima tawaran tersebut karena aku ingin karierku bisa berkembang dan bisa memberikan kontribusi yang lebih maksimal untuk perusahaan. Promosi itu membuat aku harus beradaptasi dengan banyak hal baru, dari kondisi line produksi yang panas menjadi kondisi ruangan kerja yang full AC. Dari megang mesin menjadi megang komputer. Inilah bagian yang tersulit. Dengan kemampuan nol tentang komputer, aku harus berupaya keras mempelajarinya. Tapi ini menjadi tantangan baru buatku. Aku merasa harus kembali membuktikan bahwa buruh perempuan mampu berkompetisi.

Aku hanya seorang buruh perempuan yang juga ingin taraf hidupnya meningkat. Setapak demi setapak, selangkah demi selangkah, dia menaiki tangga masa depan. Pergi pagi pulang malam untuk keluargaku. Banyak hal yang aku korbankan untuk keluarga. Saat baru dua tahun bekerja, aku dilamar pacarku. Namun saat itu bukanlah waktu yang tepat bagiku. Adikku baru masuk SMA. Membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Rumah mereka juga harus segera dilunasi. Maka dengan berat hati aku menolak lamaran itu. Namun justru mengakibatkan hubungan mereka harus putus. Tak berselang lama mantan pacarnya itu menikah dengan perempuan lain.

Setelah satu tahun menjadi staf di office, aku ingin meningkatkan kemampuan intelektualnya. aku mendaftar ke perguruan tinggi yang membuka kelas karyawan. Namun baru satu semester aku menikmati bangku kuliah, kembali aku harus berkorban untuk keluarga. Adik pertamaku lulus SMA dan berkeinginan untuk melanjutkan ke universitas. Dengan gaji sebagai buruh pabrik yang menanggung kedua orang tua dan dua adik, tidak mungkin bisa membiayai kuliah dua orang. Harus ada yang mengalah. Dan kembali, aku memutuskan untuk mengalah. Biarlah mimpiku yang hilang. Toh, jika adikku sukses nanti, ia pun akan merasa bangga dan bahagia.

Sang adik diterima kuliah di sebuah universitas negeri di Jakarta, jurusan akuntansi. Aku semakin bersemangat dalam bekerja. Semangat untuk lembur demi mendapatkan tambahan penghasilan. Apapun akan dia lakukan agar bisa membiayai kuliah adiknku sampai lulus. Dan terbukti perjuangannya selama lima tahun tidak sia-sia. Adikku bisa lulus S1 dengan IPK cumlaude.

Kehidupan sebagai tulang punggung keluarga bukan sesuatu yang mudah. Aku juga manusia biasa yang mempunyai keterbatasan fisik dan mental. Waktu yang aku punya hanyalah untuk bekerja. Harta yang aku punya hanyalah keluarga. Bekerja pagi hingga malam. Lelah yang tidak dirasa tiba-tiba terakumulasi menjadi kondisi kesehatan yang memburuk. Ia harus menerima kenyataan pahit menderita TB (tuberculosis). TB yang diderita menyerang otak. Jika TB menyerang paru-paru maka penyembuhan relatif cepat. Namun TB yang menyerang otak lebih sulit untuk diobati.

Selama dua tahun, Aku berjuang melawan penyakitnya. Keluar masuk rumah sakit. Setiap hari aku merasa tersiksa dengan harus mengonsumsi obat yang puluhan jumlahnya. Harga obatnya mahal. Untuk seorang buruh, tentu saja itu sangat berat. Hingga akhirnya aku mampu melewati ujian hidup. aku mampu bertahan dan sembuh dari penyakitnya. Aku tidak sudi dikalahkan oleh penyakit. Aku tidak mau langkah hidupku terhenti oleh penyakit. Setelah sembuh aku tetap bekerja dengan giat. Prestasiku di kantor membuat aku sekarang dipercaya menjadi staf bagian kualitas yang mengurusi dan mengontrol kualitas produk perusahaan. Meski sekarang aku sudah menikah, namun tongkat estafet pencari nafkah masih belum dilepas. Aku tetap harus memastikan biaya hidup untuk kedua orangtuaku tercukupi. Adikku yang bungsu pun harus bisa melanjutkan pendidikan sampai universitas. Cukup aku saja yang tidak bisa merasakan pendidikan di universitas. Adik-adikku harus bisa.

Sebagai buruh perempuan, aku belajar bahwa solidaritas itu tanpa batas. Nasib itu harus diperjuangkan. Jika untuk sesama buruh itu harus berlaku, apalagi untuk keluarga sendiri. Perjuangan hidup tidak akan pernah berakhir. Aku akan terus berjuang, bahkan, walaupun harus di luar batas kemampuanku. Bagiku, emansipasi bagi perempuan itu adalah perjuangan dan pengorbanan untuk orang-orang yang dicintai.


Sumber : SPNnews /  Editor : Alvin khasogi

[ Ikuti AuraNusantara.com ]


AuraNusantara.com

BERITA LAINNYA +INDEKS
Nasional

Sidang Ke-2 Gugatan Perdata Terhadap FSPMI, Kuasa Hukum Soroti Keadilan dan Dugaan Intervensi

Selasa, 31 Maret 2026 - 14:09:59 WIB

AURA(JAKARTA) - Persidangan perkara gugatan perdata Nomor 155/PDT.G/2026/PN JKT..

Nasional

Munas SPPK FSPMI Tahun 2026,Ketua DPW FSPMI Riau Satria Putra Kembali Terpilih

Selasa, 10 Februari 2026 - 12:42:45 WIB

AURA(JAKARTA) - Musyawarah Nasional (MUNAS) 2026 Serikat Pekerja Perkebunan dan .

Nasional

Tim Kuasa Hukum PT ABM Adukan SP3 ke Komisi Reformasi Polri

Selasa, 09 Desember 2025 - 22:59:40 WIB

Jakarta - Tim Kuasa Hukum PT Artha Bumi Mining (PT ABM) mendatangi Komisi Percep.

Nasional

Era Baru Haji di Indonesia, PJS Siap Kawal Program Kementerian Haji Dan Umrah

Selasa, 09 September 2025 - 18:47:04 WIB

AURA(JAKARTA) - Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto, hari ini, Senin (0.

Nasional

Istana Jawab Tuntutan Buruh: Satgas PHK Disetujui, Kenaikan UMP dalam Pembahasan

Rabu, 03 September 2025 - 12:58:54 WIB

Foto : Mensesneg Praseyo HadiAURA(JAKARTA) - Istana Kepresidenan m.

Nasional

Merdeka! 80 Tahun Indonesia Merdeka, Bagaimana dengan Kemerdekaan Pers Kita?

Ahad, 17 Agustus 2025 - 15:26:03 WIB

AURANUSANTARA - Delapan puluh tahun merdeka, Indonesia bukan hanya bebas dari pe.

TULIS KOMENTAR +INDEKS


VIDEO +INDEKS

Ketua Bapemperda Setuju Pemanfataan Lahan Tidur Dijadikan Ranperda

08 Juli 2020
Logo Garuda Diganti Lobster, Prabowo Cs Masih Sabar
08 Juli 2020
Gunakan Rompi Orange dan Tangan Terborgol, Amril Tiba di Pekanbaru
08 Juli 2020
Terkini +INDEKS
Pertamina Patra Niaga Kilang Dumai Perkuat Daya Saing Pemuda Sekitar Area Operasi Melalui Sertifikasi K3 BNSP
28 April 2026
Faptekal Laporkan PT. Ivo Mas Tunggal Terkait Kelalaian Berujung Laka Kerja Ke Disnaker Provinsi Riau
28 April 2026
Pertamina Patra Niaga Kilang Dumai Raih Peringkat Pertama Kontributor Terbesar PAD Dumai 2026,Bukti Nyata Komitmen Dukung Pembangunan Daerah
27 April 2026
Pertamina Patra Niaga Kilang Dumai Dukung Sinergi Pengendalian Karhutla di Kota Dumai
26 April 2026
Perkuat Kesadaran Ekologis Pesisir, Dosen Jurusan Sosiologi Gelar Pengabdian di SDN 3 Rupat Utara
26 April 2026
Pertamina Patra Niaga Kilang Sungai Pakning Optimalkan Sistem Flaring, Bukti Nyatakan Tekan Emosi Dan Tingkatkan Efisiensi Energi
22 April 2026
Pertamina Patra Niaga Kilang Dumai Pastikan Perempuan Mampu Ambil Peran Strategis Di Seluruh Proses Produksi Kliang
21 April 2026
Komut PT. PPN Tinjau Operasional Kilang Pertamina Dumai, Tekankan Pelayanan Terbaik Untuk Masyarakat
20 April 2026
Sengketa Lahan Sawit 500 Ha Di Rohil, Ahli Waris Mengadu Ke Mabes Polri Dan DPR RI, Dugaan Keterlibatan Oknum APH Menguat
19 April 2026
Realisasi CSR PT. PPN RU II Laksanakan Gotong Royong Bersama Warga Jaya Mukti
18 April 2026
TERPOPULER +INDEKS
  • 1 Pertamina Patra Niaga Kilang Dumai Perkuat Daya Saing Pemuda Sekitar Area Operasi Melalui Sertifikasi K3 BNSP
  • 2 Faptekal Laporkan PT. Ivo Mas Tunggal Terkait Kelalaian Berujung Laka Kerja Ke Disnaker Provinsi Riau
  • 3 Pertamina Patra Niaga Kilang Dumai Raih Peringkat Pertama Kontributor Terbesar PAD Dumai 2026,Bukti Nyata Komitmen Dukung Pembangunan Daerah
  • 4 Pertamina Patra Niaga Kilang Dumai Dukung Sinergi Pengendalian Karhutla di Kota Dumai
  • 5 Perkuat Kesadaran Ekologis Pesisir, Dosen Jurusan Sosiologi Gelar Pengabdian di SDN 3 Rupat Utara
  • 6 Pertamina Patra Niaga Kilang Sungai Pakning Optimalkan Sistem Flaring, Bukti Nyatakan Tekan Emosi Dan Tingkatkan Efisiensi Energi
  • 7 Pertamina Patra Niaga Kilang Dumai Pastikan Perempuan Mampu Ambil Peran Strategis Di Seluruh Proses Produksi Kliang

Ikuti Kami

Tentang Kami
Redaksi
Pedoman Pemberitaan
Info Iklan
Kontak
Disclaimer

AuraNusantara ©2020 | All Right Reserved