Pencarian

Kesiapan Psikologis Calon Orang Tua: Kunci Cegah Stunting Sejak Sebelum Menikah

Rabu, 26 Agustus 2026 • 06:03:01 WIB
Kesiapan Psikologis Calon Orang Tua: Kunci Cegah Stunting Sejak Sebelum Menikah
Pasangan calon pengantin mengikuti sesi edukasi kesiapan mental pra-nikah untuk mencegah risiko stunting pada anak.

AURANUSANTARA.COM — Persiapan pernikahan seringkali sibuk mengurus gaun, gedung, dan katering. Padahal, fondasi keluarga yang sehat tidak dimulai dari estetika pesta, melainkan dari kestabilan emosi dan kesiapan psikologis kedua calon mempelai. Ini bukan sekadar soal kebahagiaan rumah tangga, tapi juga menentukan kualitas tumbuh kembang anak di masa depan.

Mengapa Mental Ibu Menentukan Fisik Anak?

Kondisi psikologis ibu jauh sebelum hamil memiliki dampak biologis langsung pada janin. Penelitian di bidang psikologi kesehatan menunjukkan bahwa stres kronis dan kecemasan dapat memicu peningkatan hormon kortisol pada tubuh calon ibu.

Dampaknya nyata: ibu hamil yang mengalami stres berat cenderung kehilangan nafsu makan dan mengalami gangguan penyerapan nutrisi. Akibatnya, risiko melahirkan bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) meningkat—faktor terbesar penyebab stunting pada balita.

Tiga Pilar Kesiapan Mental Calon Pengantin

Masa transisi menuju pernikahan kerap memicu tekanan tersendiri. Tanpa pengelolaan emosi yang baik, gesekan kecil bisa terbawa hingga fase pengasuhan anak. Setidaknya ada tiga keterampilan yang perlu dilatih sebelum menikah:

  • Regulasi Emosi: Kemampuan mengenali dan mengelola emosi negatif agar tidak berujung pada tindakan impulsif atau kekerasan dalam rumah tangga.
  • Komunikasi Adaptif: Keterbukaan membahas topik sensitif seperti finansial, pembagian tugas rumah tangga, hingga ekspektasi pola asuh. Ini mencegah stres berkepanjangan setelah menikah.
  • Kesadaran Kesehatan Mental Ibu: Kesiapan mental pra-nikah menjadi benteng dari risiko depresi pascamelahirkan (baby blues) yang mengganggu pemberian ASI eksklusif dan pola asuh 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK).

Peran Suami Sebagai Support System

Kesiapan mental calon suami untuk menjadi pendukung yang responsif sama krusialnya. Pasangan dengan ikatan emosional kuat dan pembagian peran adil mampu menekan tingkat stres ibu secara signifikan.

Lingkungan yang kondusif ini memungkinkan pemenuhan gizi dan pengasuhan anak berjalan optimal. Dukungan emosional suami bukan pelengkap, melainkan kebutuhan utama selama masa kehamilan.

Edukasi Pra-Nikah yang Menyentuh Aspek Mental

Intervensi pencegahan stunting tidak boleh berhenti pada pemeriksaan fisik semata. Diperlukan pendekatan holistik yang menyentuh kesadaran emosional pasangan calon pengantin.

Sanicatin, gerakan edukasi di bawah Promosi Kesehatan (Promkes) Poltekkes Kemenkes Bandung, hadir dengan slogan "Pra Nikah Sehat, Masa Depan Hebat". Program ini mendorong pasangan untuk saling menyelaraskan mental dan emosi, bukan hanya memeriksa kondisi tubuh.

Dengan kesiapan mental yang matang dari kedua belah pihak, pasangan tidak hanya siap membangun keluarga harmonis, tetapi juga mampu melahirkan generasi yang sehat dan bebas dari risiko stunting. Persiapan jiwa memang sama pentingnya dengan menghadirkan nyawa.

Sumber: kompasiana.com

Follow auranusantara.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks