Kredit BCA Tumbuh 12,6% Jadi Rp1.063 Triliun per September 2026

Kredit BCA tumbuh 12,6% secara tahunan menjadi Rp1.063 triliun per September 2026.
Penulis: Ragil
Rabu, 28 Oktober 2026 | 06:22:31 WIB

AURANUSANTARA.COM — PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mencatat penyaluran kredit Rp1.063 triliun per September 2026, tumbuh 12,6% secara tahunan. Kenaikan giro dan tabungan (CASA) sebesar 10,4% menjadi Rp1.103 triliun menjadi salah satu penopang utama ekspansi pembiayaan tersebut. Pertumbuhan ini ditopang kredit produktif yang naik 17,2% YoY.

Likuiditas dan pendanaan perseroan tercatat solid, terlihat dari kenaikan giro dan tabungan (CASA) hingga 10,4% menjadi Rp1.103 triliun. Total dana pihak ketiga (DPK) juga naik 8% YoY mencapai Rp1.301 triliun.

Kredit Produktif Jadi Motor Pertumbuhan

Pembiayaan BCA ditopang kredit produktif sebesar Rp831 triliun, tumbuh 17,2% YoY. Kredit produktif mencakup pembiayaan korporasi yang naik 20,9% YoY hingga Rp528,1 triliun, kredit komersial Rp154,1 triliun atau tumbuh 7,8% YoY, dan kredit UKM hingga Rp149,2 triliun atau bertambah 15,4% YoY.

Presiden Direktur BCA Hendra Lembong menyatakan perseroan berkomitmen menyalurkan kredit ke beragam sektor untuk mendukung perekonomian nasional.

"BCA berkomitmen menyalurkan kredit ke beragam sektor untuk mendukung perekonomian nasional, dengan senantiasa mempertimbangkan prinsip kehati-hatian dan kondisi likuiditas perseroan," kata Hendra dalam keterangan resmi, Selasa (26/10/2026).

BCA Expo dan UMKM Fest Dorong Penyaluran Pembiayaan

Penyaluran pembiayaan juga ditopang sejumlah agenda perseroan, salah satunya BCA Expo 2026 dan BCA UMKM Fest 2026 yang melibatkan lebih dari 1.600 pelaku usaha. BCA juga menggelar BCA Wealth Summit 2026 sebagai forum edukasi finansial bagi nasabah dan masyarakat agar semakin cermat mengelola keuangan.

Bagi investor, pertumbuhan kredit dua digit dengan CASA yang tetap tebal menjadi indikator efisiensi biaya dana perseroan. Rasio CASA yang tinggi umumnya menekan cost of fund dan menjaga margin bunga bersih di tengah persaingan likuiditas perbankan.

Reporter: Ragil