Pencarian

Wall Street Melemah, Yield Treasury 10 Tahun Sentuh 5,135% Tertinggi Sejak 2007

Kamis, 24 September 2026 • 06:21:31 WIB
Wall Street Melemah, Yield Treasury 10 Tahun Sentuh 5,135% Tertinggi Sejak 2007
Bursa saham AS ditutup melemah setelah imbal hasil Treasury 10 tahun naik ke 5,135%.

AURANUSANTARA.COM — Bursa saham Amerika Serikat ditutup di zona merah pada Rabu (23/9) setelah imbal hasil obligasi pemerintah melonjak ke level tertinggi dalam hampir dua dekade. S&P 500 turun 0,75% ke 7.706,03, Nasdaq Composite melemah 1,13% menjadi 26.936,04, dan Dow Jones Industrial Average tergelincir 352,10 poin atau 0,68% ke 51.511,59.

Lonjakan imbal hasil Treasury 10 tahun ke 5,135% menjadi pemicu utama tekanan jual di Wall Street. Level itu merupakan yang tertinggi sejak Juli 2007 dan mencatat kenaikan harian terbesar sejak 7 April 2025. Yield Treasury 2 tahun juga naik ke 4,947%, level tertinggi sejak Mei 2024.

Kenaikan yield terjadi setelah rilis data indeks manajer pembelian (PMI) terbaru yang menunjukkan aktivitas ekonomi Amerika Serikat masih solid. Data itu memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve belum akan melonggarkan kebijakan moneternya dalam waktu dekat.

Utilitas dan Barang Konsumsi Diskresioner Paling Tertekan

Tekanan penjualan paling dalam dialami saham sektor utilitas dan barang konsumsi diskresioner. Kedua sektor itu masing-masing turun lebih dari 1% dan menjadi kontributor utama pelemahan indeks.

Kepala Divisi Ekuitas AS Procyon, Massimo Santicchia, menilai kinerja laba korporasi masih kuat. Namun ia menyebut tekanan inflasi kini menjadi penghambat pasar, sehingga kedua faktor tersebut saling tarik-menarik.

Santicchia menambahkan tekanan inflasi tidak lagi hanya bersumber dari harga minyak. Tekanan itu kini meluas, terutama ke sektor jasa. Kondisi tersebut membuat ruang bagi The Fed untuk menurunkan suku bunga atau menghentikan kenaikan menjadi semakin sempit.

"Kemungkinan kita akan melihat dua atau tiga kali kenaikan suku bunga," tulis Santicchia dikutip CNBC International, Kamis (24/9).

Sinyal Hawkish dari Gubernur The Fed

Gubernur Federal Reserve Michael Barr menyatakan penyesuaian kebijakan moneter kemungkinan besar diperlukan untuk mengendalikan inflasi. Menurutnya, pertumbuhan ekonomi AS masih kuat dan pasar tenaga kerja tetap kokoh.

Barr menuturkan inflasi masih berada di atas target The Fed sebesar 2% dan belum menunjukkan tren penurunan yang jelas. Ia juga menyebut risiko terhadap pencapaian target inflasi meningkat, sementara risiko terhadap pasar tenaga kerja justru menurun.

Pernyataan itu langsung mendorong ekspektasi kenaikan suku bunga. Berdasarkan CME FedWatch, peluang kenaikan suku bunga 25 basis poin pada Oktober melonjak menjadi lebih dari 66%, dari 55,4% sehari sebelumnya dan hanya 8,8% sebulan lalu.

Harga Minyak Ikut Menguat di Tengah Ketegangan AS-Iran

Di pasar komoditas, harga minyak mentah bergerak naik. Kontrak Brent untuk pengiriman November menguat sekitar 3,9% menjadi US$103,08 per barel, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) naik 1,8% ke US$92,16 per barel.

Kenaikan harga minyak terjadi di tengah ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran. Presiden AS Donald Trump mengatakan telah berlangsung pertemuan selama tiga jam antara pejabat kedua negara di sela-sela Sidang Majelis Umum PBB di New York.

Trump menyebut pertemuan tersebut berjalan sangat baik. Sehari sebelumnya, ia mengaku memiliki keputusan besar terkait kesepakatan dengan Teheran atau akan menindak lebih keras terhadap Iran.

Pada perdagangan Selasa (22/9), Nasdaq sempat mencatat rekor tertinggi intraday sekaligus penutupan. Dow Jones berakhir melemah, sementara S&P 500 relatif stabil.

Sumber: katadata.co.id

Follow auranusantara.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks